Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

TKW Erwiana: "Saya diintimidasi agen dan pemerintah"

TKW Erwiana: "Saya diintimidasi agen dan pemerintah"

KoPi| May Day atau Hari Buruh barusan berselang. Seperti halnya tahun-tahun lalu, May Day diperingati dengan aksi-aksi turun ke jalan dan menuntut perbaikan nasib kaum buruh. Tetapi, seperti halnya setiap tahun, tuntutan mereka hanya membentur dinding-dinding jidat penguasa yang tak peduli.

Kaum buruh di sini bukan saja para pekerja produksi di pabrik-pabrik, tetapi mereka juga yang biasa disebut Tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri atau buruh migran. Bahkan, para TKW ini lebih sering rentan dengan kekerasan dan menjadi pintu bagi perdagangan manusia (Human Trafficking). Banyak terjadi, kaum TKW ini mendapatkan perlakukan buruk sebelum dan sesudah mereka bekerja. Di antara mereka bahkan akhirnya harus menjalani hukuman mati secara tidak adil. Sementara negara samar-samar hadir untuk melindungi mereka.

Hal ini juga dialami oleh mantan TKW Hongkong Erwiana Sulistyaningsih (24). TKW asal Ngawi. Berita kasus penganiayaannya sempat menghebohkan berita nasional beberapa waktu lalu, tetapi seperti biasanya, berita tersebut hanya berhenti sebagai berita semata. Pemerintah seperti tak serius memberikan perlindungan yang seharusnya didapatkan oleh warga negara. Dalam kesempatan ini KoranOpini.com berkesempatan berbincang dengan Erwiana. Perempuan muda ini bersedia menceritakan kisahnya dalam wawancara yang berlangsung tepat di hari Buruh. Winda Efanur FS, reporter KoranOpini.com memandu perbincangan ini.

T: Dalam Hari Buruh Internasional apa yang teman-teman buruh tuntut ?

J: Erwiana : Cabut KTKLN (Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri), cabut UU 39 tahun 2004 yang menyerahkan proses prosedur pada agen, pada akhirnya agen hanya berorientas pada bisnis, lalu peraturan ini diganti dengan konvensi ILO 1990, yang isinya proses juga diurus oleh buruh. Selainnya yang dituntut kalau buruh hak –hak buruh, gajinya layak.

T : Indikator buruh sejahtera ?

J: Erwiana : Gaji yang layak dengan biaya hidupnya semurah-murahnya. Terpenuhi hak-haknya. Aku buruh dibayar murah. Kita yang merasakan buruh rakyat kecil , tani. Dulu bagaimana kayak gitu giliran aku dapat masalah mereka (pemerintah) lepas tangan. Giliran kasusku diekspos media mereka (pemerintah) berbondong-bondong.

T: Bisa cerita Mbak, awalnya jadi buruh ?

J: Erwiana : Aku lulus SMA, orang tuaku buruh tani, punya 2 petak sawah. Nggak mungkin, walaupun cukup juga ga sampai kapan ngrepotin orang tua. Ya sudah akhirnya aku kerja ke Jakarta jadi buruh restoran tapi gak gaji sebulan juga biasa. 

Sistemnya juga kontrak, sebelum keluar juga bayar pinalti. Ijasah ditahan. Kalau mereka tidak mau buruhnya kabur mereka harusnya mensejahterakan kita. Biar kita kerjanya senang hati. Banyak sekali tho di Indomaret, - itu ijasah ditahan. Akhirnya aku, tahun 2012 akhir September ke Hongkong lewat PT . Masih baru belum tahu apa-apa, jalannya ke sana bagaimana. Di PT perlakuannya gak beres.

T: PT nya masih di Jakarta ?

J: Erwiana : Di PT di Ponorogo dulu, mandi bareng di waktuin. Nggal layak. Masih mending di LP. Mandi waktu di Ponorogo sekamar mandi orang tiga ada lima orang. Trus waktu di Jakarta dibatasin waktunya, airnya suruh cepat. Kalau udah pembelajaran bahasa asing sering dihukum. Kalau yang namanya orang tua, pendidikan rendah, SD dan SMP itu kalau SMA masih mending. Kadang ingatannya susah. Kayak ibumu aja suruh belajar bahasa asing yang sangat rumit, kalau gak bisa mereka dihukum kayak militer. Dijemur di panas terik. Tidak boleh ke mana-mana. Penampungan di pinggirnya dikasih kaca, dikasih besi. Ini semacam kita keluar negeri karena dipaksa. Kalau kita gak mau, keluar kita suruh bayar pinalti yang jumlahnya gak sedikit. Terus ga boleh bawa HP, ketahuan dimarahin entek-entek, kayak dipenjara tapi mending di penjara, masih layak. Kan kita ke luar negeri, kalau mereka menyadari keluar negeri bukan paksakan harusnya mereka terbuka. Buat BLK-BLK yang terbuka mengikuti training. Harusnya mereka terbuka, kenyataannya rakyat ga tahu, tahu juga ga bisa ngapa-ngapain. Pas keluar disuruh bayar biaya ganti rugi. Padahal kita mau kerja, kita miskin, mau mengubah nasib, bayar sampai 10-15 jutaan ke atas alasannya biaya ganti rugi. Suruh bayar, bayar pakai apa? Kita miskin bukan salah kita, salah Negara, elite pemerintah. Semua orang tahu Indonesia kaya raya tapi rakyatnya ga.
 
T:BLK sama PT sama ?

J: Balai Latihan Kerja (BLK), sama aja sama PT. Nah yang di Ponorogo cabangnya.

T :Mbak berapa bulan di sana?

J : Delapan bulan.

T : Lama banget ngapain aja di sana ?

J: Iya itu aku dibohongi. Aku pikir di Ponorogo tinggal terbang ternyata itu numpang paspor 3 bulan. Selain itu buat dokumen, makai KTKLN. Kartu itu katanya kartu sakti yang bisa menyelamatin kita. Buktinya saya sampai hampir mati babak belur nggak ada yang nyelamatin. Malah jadi ajang pemerasan, kalau di imigrasi mau terbang ke sana kalau tidak punya KTKLN malah suruh bayar. Makanya tambah semakin error lagi, bukannya agen, oknum-oknum tidak bertanggung jawab juga ikut main.

T : Nah di sana dilatih apa saja, Mbak ?

J: Kerja rumah tangga, tapi tidak dikasih hukum; hukum kerja penempatan, di negara penempatan. Bagaimana kalau ada masalah. Katanya mau dikasih hp juga ngga semuanya. Ga semua PT mau ngasih HP. Lagian kita belum tentu bisa menghubungi sana, orang pelayanan KJRI juga nggak memuaskan. Tapi banyak sekali banyak korban-korban yang lain. Kawan-kawan LSM menyediakan shelter kok. Korbannya bukan hanya aku, aku hanya sebagian kecil pucuknya gunung es, tapi di bawahnya sangat besar, akarnya besar sekali tapi tidak kelihatan.

T : Waktu daftar proses administrasinya rumit ?

J: Kita nyerahin dari ijasah, KTP, KK, akta, surat nikah kalau udah. Ini ditahan sampai sekarang, apalagi teman-teman yang gak finish kontrak dokumennya ga dikasih. Mending kalau pulangnya gak ketahuan agen. Kalau ketahuan agen dijemput dibandara suruh nglunasin kurangnya berapa, misalnya 3 bulan potongan 30 juta , masih kurang  3 bulan 15 juta ya harus bayar itu. Banyak temenku yang satu PT dari Lampung, itu dijemput di bandara kalau gak mau kamu harus balik ke PT kayak barang aja astaga. Sangat parah lah. Temenku ada lagi dia masih jadi saksi hidup. Dulu Taiwan, sekarang di Hongkong. 3 bulan di PHK, ya kan bukan mau kita di PHK, potongannya kan masih ada 9 bulan kalau di Taiwan ya. Dia pulang dijemput sama agen proses lagi pulang lagi ke Hongkong pemotongan terus, kayak gitu terus, banyak sekali teman-teman kadang pulang ga punya apa-apa. Masih mending kadang yang masih bisa beli ini-itu tapi kadang ada yang gak dapat apa-apa di rumah juga gak bisa mensejahterakan.

Kadang ada juga yang terjerat perdagangan narkoba, kadang mau diperkosa, mau membela diri gak bisa akhirnya perang kan tapi namanya hukum tidak memihak kepada yang bawah, hukum memihak yang atas. Hukum yang sekarang banyak eksekusi mati di luar negeri.

T : Kalau yang ga pulang-pulang ?

J : Itu kadang overstay, kan jadi gak punya dokumen. itu memperpanjang visa bolak-balik ke Indonesia. Yang membuat kita harus kayak gitu kan sistem kontrak itu sistem outsourcing, 2-3 tahun harus pulang. Apalagi dengan ada yang pasar bebas ASEAN ini, semua orang bisa bebas keluar masuk dengan syarat punya sertifikat. Nah kalau orang asing mau kesini bawa sertifikat oke, bahasa Inggrisnya bagus. Nah buruh, gimana gak ada ijasah SMA mending, nah yang buruh sertifikat apa, sekolah aja nggak. SMA aja susah nyari kerja kalau ada outsourcing. Lapangan kerja banyak tapi gak mensejahteraan, meskipun jargonnya dengan ini rakyat akan sejahtera, gak ada buktinya , yang perlukan kita bukti, mereka (pemerintah)  kerja udah bernilai plus.

T : Ini seperti sindikat perdagangan manusia ?

J: Kita jadi kayak barang, misal di sana kita kerja, udah finish kontrak misalnya nanti kadang dipolitik sama agen di PHK. Majikannya ditelponin kamu mau ini pembantuku lebih baik ? Nanti si yang lama dipecat harus keluar dari Hongkong, entah ke Macau, entah ke Indonesia kemana aja.

T : Pakai uang sendiri ?

J : Iya pakai uang majikan. Kalau keluar kan majikan beli tiket sama memberi uang gaji sebulan. Tapi kenyataannya banyak majikan yang melanggar. Padahal uang satu bulan gaji bisa digunakan untuk mencari majikan lagi kan membayar ke agen, ya ini dimanfaatkan oleh pebisnis besar. Sekarang bukan hanya barang tapi manusia juga barang dagangan.

T : Ada yang dimanfaatkan untuk jadi wanita penghibur ?

J : Iya itu paling banyak di Malaysia. Iya itu Islam negaranya tapi gak ngerti isi di dalamnya.  Tetapi sangat sulit untuk menginvestigasi, ya karena hukumnya mereka tidak memihak orang bawah, tidak memihak korban. Sekuat apapun kita menjerit.

T : Kalau sudah terjebak, susah meminta tolong?
 
J: Ya mungkin awalnya mereka tersiksa tapi mau gimana lagi, mau kerja apa, gak tahu apa-apa. Apalagi kalau wanita kayak gitu udahlah udah putus asa. Banyak sekali kan korban-korban pemerkosaan. Gak tahu apa-apa ibaratnya udah bodo amat.

Semua orang yang jadi TKI itu korban. Kan gak akan ada yang mau jadi TKI kalau di sini sejahtera. Bayangannya kayak ibu-ibu di kampug lah. Nah sekarang banyak perampasan tanah. Buruh tani tapi biaya operasional sama biaya jualnya gak seimbang. Kadang lebih tinggi biaya operasionalnya, para tengkulak membeli harga yang sangat rendah.Sekarang biaya apapun naik, mending kalau belum punya anak. Nah kalau anaknya dua –tiga mau butuh biaya sekolah. Sekarang semua orang tahu orang gak bisa kuliah tinggi, menikmati pendidikan tinggi.

Ya sekarang Ibu terpaksa jadi TKI, untuk anaknya bisa kuliah menikmati pendidikan. Sekarang banyak sekolah yang menyalurkan ke luar negeri (TKI) meskipun ada karena mereka kurang lapangan kerja. Ya meskipun ada mereka mensejahterakan gak, cukup gak gajinya dan mereka gak akan pernah menutup itu, karena apa pundi-pundi devisa lho. Sumber devisa kedua setelah migas. Justru mereka akan menambah untuk melunasi hutang negara. Jadi yang melunasi hutang negara ya rakyat ini.  Dengan membayar pajak, dengan ke luar negeri tapi mereka menikmati kekayaannya tanpa memikirkan kita bagaimana- kadang kita kayak diapusi (dibohongi)- ya kita tahu tapi kita nggak bisa ngapa-ngapain. Kayak pasar bebas, globalisai yang dijanjikan mereka hanya untuk elite politik toh, hanya untuk pemilik modal, modal asing,  tapi tidak untuk industrialisasi nasional.

T: Sewaktu kerja di sana yang menjadi kendala kerja di sana apa? Majikannya, perturan atau apa?  

J: Majikannya lah, judes, kasar, tapi tidak semua orang jahat, ya sejahat-jahatnya orang jangan melanggar HAM. Pertama yo, aku tuh gak kuat kerja 20 jam per hari 4 jam tidur cuma di siang hari. Sedangkan kerjanya gak boleh duduk, berdiri terus.

Gimana badanku gak remuk to. Aku gak dikasih makan cukup, dan ke toilet dibatasin dua kali sehari, nah aku kepoyoh-poyoh kalau pengen pipis, aku dikasih obat biar gak bisa mens. Mandine sekali thok sehari.Ya gak kuat aku, meskipun bos belum nyiksa aku, gak kuat mba, melek wengi berdiri kaki, ibaratnya sebulan masih bisa kuatlah. Jahatnya lagi kalau ada barang yang rusak atau misalnya lecet main ganti, aku kabur lho, ya alasane sebulan pertama gajiku belum dibayar. Waktu pertama aku diijinkan keluar ke supermarket masih bisa untuk beli makan. Setelah kabur, aku kabur ke lantai bawah, aku pinjam telpon resepsionis telpon agen, agen datang nyuruh balikin ke majikan lagi. Kalau pindah, potongan Agen: balik maneh ke majikan. Lha aku gak kuat, kayak gini. Agen : Ya, dikuat-kuatkan lah. Kamu masih baru. Nanti potonganmu banyak kalau ganti majikan. Ini baru satu bulan. Nah kan kalau pindah, kita yang nge-break potongan nambah sebulan, kita harus bayar ke majikan sebulan gaji. Ya aku kan gak punya uang, ibaratnya harus agen yang bertanggung jawab, ya memang agen yang harus bertanggung jawab.

T : Bayar berapa Mbak ?

J : 3920 dollar waktu 2013, kursnya berapa. Trus aku balik lagi coba bertahan sampai 6 bulan, sekuat-kuatku ibarat sampai potongan habis. Potonganku sampai 25 juta. Berat lah buat keluarga. Aku gak mungkin ngrepotin keluarga, orang kerja jauh-jauh nyari duit buat mereka. Ya, akhirnya sampai 8 bulan. Dari Mei akhir 2013- Januari tanggal 9. Sampai aku pulang sampai aku sudah gak kuat. Pernah lho mbak saking ngantuk ngelap-ngelap mripatku ngantuk sendiri itu dipukul. Tambah disiksa saking gak kuatnya, pas lagi nyapu lantai ngantuk kan ga kuat, itu dipukul. Saat aku laper nasi serantang buat seminggu, itu nasi di kulkas bukan nasi fresh, kadang roti 6 helai thok. Air minum se-pulpy orange untuk sehari. Tapi mana cukup Mbak dengan kerjaan yang seberat itu.

T : Kerjannya selama 20 jam, melakukan apa saja ?

J : Ya bersih-bersih, ngelap-negelap. Nah itu ada time schedule nya misal ngelap HP semenit, meja dua menit, ngelap aqua lima menit. Kalau kelebihan atau kekurangan ya aku dipukulin.Dan rata-rata aku gak kuat, Kerja capek sekali, kesel banget nah tidurnya kan cuma di siang hari. Pas musim dingin tangan kakiku alergi, itu dikasih obat, tapi disuruh dibungkus plastik. Ya jadi busuk, bukannya malah sembuh malah semakin menjadi. Dikasih plastik biar gak kena noda kuman. Ya sampai busuk tanganku. Tanganku kan bengkak pas musim dingin, tanganku kaku kalau dingin (gerakin keras) pecah sampai darahnya sampai netes-netes, itu ya dipukul sama penggaris.

T : Mendapat perlakuan yang tidak layak sempat melapor ke mana ?

J: Lapor ke mana orang ga punya HP. Orang ga boleh ke mana-mana, tetangga juga gak ada, ada aku juga di awasin majikan. Aku pernah waktu jam 3 subuh, aku ketok ke tetangga, minta makan : malah dibentak-bentak, gak ada makan, pergi (diusir tetangga). Aku posisi laper banget. Nah anaknya ngawasin juga.
Anaknya : Ada apa ? Ngak ada apa-apa, ya itu akhirnya aku putus asa. Anaknya gak mukul tapi ya belain ibunya, ya akhirnya aku putus asa.

T : Selama siksaan ada yang menolong ?

J : Gak ada yang awal, karena ada agen itu aku masih sehat. Aku udah trauma mau mengancam orang tuaku mau dibunuh, aku tahu dia sangat kaya raya. Itu dibodohin. Dan kau tidak bisa apa-apa. Seolah gak ada harapan untuk hidup. Aku dipulangkan sama dia (majikan). Paspor ku diambilkan dari agen aku gak tahu. Itu waktu tanggal 9 Januari malam. Aku ditinggalin di bandara, ditemuin Mbak Yanti, dia sudah 13 tahun di Hongkong. Dia fotoin aku, lalu disebar ke organisasi buruh di Hongkong. Kasusku diakui jadi kasus prioritas. Lalu ada buruh yang mengakui mendapat siksaan dari majikan yang sama, tapi dia gak melapor. Soalnya sudah dapat majikan yang baik. Jadi kan gak bikin majikan jera, ya jahat terus kalau gak tegasin. Apalgi mereka nyarinya yang masih polos dan gak tahu apa-apa.

T : Waktu pemulangan keadaannya Mbak?

J: Itu aku sudah tidak punya berdaya, percaya sama orang aja susah. Nggak tahu itu dibodohin kayak ga punya harapan. Aku berangkat ke Hongkong tanggal 27 Mei 2013, tanggal 9 Januari 2014 pulang ke Indonesia.

T : Nah pemerintah kayak KBRI melakukan apa, Mbak ?

J: Gak tahu mereka ngapain, aku di bandara juga gak tahu. Aku dipulangkan mereka gak tahu, mereka tahu, saat fotoku disebar, dan banyak yang demo.

T : Peran pemerintah bagaimana, Mbak?

J: Karena kasusku di upload media, demo besar-besaran. Mereka berbondong-bondong, sehingga kasus ku bisa diekspos, ya aku mikir, coba kalau ngga ada media, coba nggak ada yang demo, paling kasusku. Cuma jadi kasus, berita aja. Aku punya insting dengan adanya organisasi saya berdaya, adanya kawan-kawan buruh dan juga LSM.

Nah itu juga agen mengintimidasi, gedor-gedor pintu di depan aku dan orang tuaku. Aku waktu itu nggak berdaya, aku diam nggak bisa ngomomg, bapakku bilang aku manut anakku. Pemerintah juga mengintimidasi, aku gak provokasi karena ini kenyataan, tapi ya mana pernah si mereka percaya sama rakyat, malahan banyak yang menghujat katanya aku provokasi katanya aku ga nurut sama pemerintah. Tapi kenyataannya aku ngalamin kayak gini.

Ada satu lembaga pemerintah yang bantuin, dari LPSH Jakrta. Cuma bantu rawat jalan. Waktu di rumah sakit ya bayar sendiri. Pemerintah Gak tahu, mereka gak mau merasa salah. Aku beruntung aja disumbang, paling yang kasusnya meninggal aja didatangin dikasih uang, emang nyawa bisa dibalikin uang. Mereka gak mau merubah peraturannya dan mereka gak mau bertanggung jawab dengan apa yang terjadi. Ibarat kita mau mencabut pohon, kalau gak dari akarnya ya sulit. Dilobi-lobi kita lobi mereka gak mau, kita demo kita mereka malu, tapi mereka nggak mau merubah peraturannya yang bisa melindungi PRT. Nah mereka nggak mau, orang mereka mau sejahtera sendiri.

Waktu pemulihan biaya sendiri, cukup parah ini aja, masih cacat gak bisa hilang di kaki, ini bukti hidup, nah teman-teman yang sudah mati gak bisa buktiin. Susah kalau TKI, sangat rawan. Mereka mungkin sangat benci sama aku, karena ku melawan. Ya nanti kalau ga dilawan mereka seenaknya aja. Setiap perlawanan ada cobaan, ya beratlah.

T : Pernah diancam ?

J: Langsung sama pemerintah, sama agen, dari oknum-oknum, menterinya si baik tapi birokrasinya yang menjabat ya sama aja. Orangnya baik tapi masuk sama birokrasi yang jahat, dia kan mengikuti permainan birokrasi dia juga nggak bisa ngapa-ngapain. Ya yang punya kuasa ya presiden, tapi kalau presidennya boneka demokrasi ya sama saja. Nggak akan bisa merubah selama birokrasi masih begitu, partai dimodalin sama negara uang dari rakyat. Apalagi kalau dari agen PT dari perusahaan besar, berkembang kan bisnisnya ya berkembang, ekonomi ya berkembang, GDP nya naik,,ya naik,,nah rakyat gajimu naik ? ya naik tapi biaya hidup naik.

T : Majikan gimana lanjutannya ?

J : Majikan dijerat hukuman penjara 6 tahun. Sedangkan untuk agen dibekukan selama 3 bulan.

T : Bagaimana proses bangkitnya  ?

J : Semua orang bisa bangkit. Karena mereka (komunitas buruh, LSM) menunjukan apa Hak aku, apa yang bisa kau lakulakn. Orang gak ada yang namanya bodoh, kalau belajar, kalau diasah terus. Aku tau pa yang harus aku lakukan, dan idak mau ditindas terus.

T : Lalu bisa masuk di Sanata Darma (Sadar) ?

J: Beasiswa kampus Yayasan Sadar, aku direkomendasi, aku beruntung aja di sini. Coba yang lain apa iya, Apa perlu harus dipukulin dulu, untuk bisa sekolah. Gak ada orang yang mau digebukin baru bisa sekolah.  Aku sekarang Semester 2, Fakultas Manajemen jurusan ekonomi.

T : Sosok yang mennginspirasi bangkit ?

J : Teman-teman buruh migran sendiri, terutama mbak-mbaknya, ibu –ibu tua di sana, mereka berjuang untuk anak-anaknya bisa sekolah tinggi untuk kuliah. Orang tuaku pun cuma lulusan SD, SMP, orang tuaku pernah jadi buruh migran, ibuku, tapi setelah pulang ya gak bisa kerja lagi, orang gak punya ijasah, lulus aja susah nyari kerja dengan gaji layak. Sekarang mau jadi polisi aja pendidikannya mahalnya naudzubillah.Selama ini PRT gak pernah dihargai, di sini aja (Indonesia) juga, gak semua PRT bisa libur sehari seminggu.

T : Di Indonesia ada masalah PRT ?

J : Masalahnya pasti banyak, masalah gaji, sekarang, sistem yayasan nanti dapat sertfikat perawat, baby sitter nanti buat nglamar kerja, tapi tetap aja nanti bayar ke yayasan outsourcing tadi. Temanku kerja di bank Mandiri setiap bulan gajinya dipotong-potong, yang membuat sangat menderita. Sekarang TKI juga dioutsourcing, 6 bulan gaji sebulan gaji potongan, sudah outsourcing ini kan pemerasan besar-besaran,  ini kan kalau logika, kita miskin bukan salah kita, pemerintah harusnya bertanggung jawab. Tapi kenyataannya kita dieksploitasi diperdagangkan.

T : Sekali potongan berapa outsourcing?

J: Tergantung penempatan waktu itu, waktu itu aku 6 bulan 20 juta, kalau di Taiwan 35 juta.T : Ini masuk kantong ?

J : Masuk agen dengan alasan biaya training, harusnya trainingnya gratis, orang mereka yang salah, sistem trainingnya 35 juta. Kalau dapat majikan jahat, kalau baik, katanya tergantung nasib, ya tergantung orangnya mau berubah gak, tergantung pemerintah mau merubah peraturan gak, gitu kan.

T : Yang jadi perjuangkan saat ini ?

J : Tetap memperjuangkan hak-hak buruh migran. Aku sudah mengalami hal seperti ini. Saya tetap melawan ke agen, ke pemerintah agar tidak terjadi hal seperti ini lagi. Saya sering diundang oleh agen untuk diskusi tapi aku menolak. Ini waktu dekat aku diundang ke Hongkong, tapi aku lebih milih seminar di Thailand tentang perjuangan buruh. |Winda Efanur FS| 
 

back to top