Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Soe Tjen Marching : Tolak Sarwo Edy menjadi Pahlawan

Soe Tjen Marching : Tolak Sarwo Edy menjadi Pahlawan
KoPi, Soe Tjen Marching (42), perempuan bergelar Ph.d dari Monash University di Australia ini, dikenal dengan banyak aktifitas. Ia menulis pelbagai buku dari novel hingga ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Buku-bukunya diterbitkan di banyak negara. ia juga dikenal sebagai komposer musik-musik avant garde. Salah satu karya musiknya dimainkan oleh pianis top Jerman Steffen Schleiermacher. Soe Tjen Marching juga menerbitkan majalah Bhinneka yang mempromosikan kritik isu gender, politik dan agama.
Ketika wacana pemberian anugrah pahlawan untuk Jenderal Sarwo Edy ( Mertua SBY ) bergulir dari istana negara, Soe Tjen Marching bereaksi keras untuk menolaknya. Ia menyebarkan petisi penolakan pemberian gelar pahlawan bagi Ayah Ani Yudhoyono. Soe tjen Marching, saat ini tinggal di London. Berikut adalah wawancara KoPi bersama Soe Tjen Marching.

Ranang Aji SP (RASP) : Anda giat sekali dalam kampanye menolak Jenderal Sarwo Edy menjadi pahlawan. Apa riwayat yang paling mendasar? Apa karena ayah Anda adalah korban?

Soe Tjen Marching (STM) : Benar, ayah saya adalah salah satu korban ’65. Ayah saya meninggal tahun 1998, masih meninggalkan saya teka-teki tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya, terutama seputar 19651966. Saya sempat membenci dia, karena cuci otak yang dilaksanakan oleh OrdeBaru, dengan film-film yang menggambarkan tapol seputar tahun itu sebagai komunis  kejam dan tak berperi-kemanusiaan.  Ketika saya masih di sekolah, sebagian besar buku pelajaran menggambarkan "perbuatan mengerikan" dari para komunis. Saya juga sempat diharuskan untuk menonton sebuah film berjudul Pengkhianatan G30S/PKI, yang menggambarkan "kebiadaban menghebohkan dan kelicikan" dari komunis .Kemudian, film ini disiarkan setiap tahun sebagai propaganda oleh Soeharto.Cuci otak ini telah membuat saya membenci papa saya sendiri untuk waktu yang lama.

Orang tua saya merasa bahwa ancaman bagi mereka terlalu tinggi, bahkan untuk menceritakan kisah mereka kepada anak-anak mereka, terutama bagi saya (karena saya adalah anakt ermuda) .Kakak-kakak juga tidak ingin saya mendengar cerita buruk tentang papa saya.Saya adalah satu-satunya yang tidak pernah melihat dia di penjara.

Saya mendengar tentang apa yang terjadi pada papa terutama dari mama saya dan saudara saya di kemudian hari, ketikaSoeharto sudah lengser, ketika papa saya sudah meninggal. Saya pikir karena trauma, papa saya sendiri tidak bisa memaparkan apa yang sebenarnya terjadi padanya dalam kaitannya dengan tragedi '65.

Papa saya ditahan selama hampir 2,5 tahun dengan siksaan yang luar biasa, walaupun dia tidak bergabung dalam PKI. Dia hanya mendukung organisasi untuk menolong orang-orang tua dan tidak mampu. Saat itu, organisasi seperti ini dicap komunis.

Tapi, masih banyak lagi orang yang jauh lebih menderita dari papa saya. Paling tidak, papa saya bisa saya nilai, cukup sukses. Dia bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai ke Universitas, bahkan sampai ke luar negeri ( kecuali saya ). Kakak-kakak saya dibiayai kuliahnya keluar negeri oleh papa saya.Tapi saya tidak, karena saya dapat beasiswa (dan waktu itu, memang papa saya sudah sakit-sakitan). Sedangkan saya tahu sendiri, banyak eks tapol yang untuk makan saja susah. Anak-anak mereka juga terlantar.

RASP :  Alasan lain?

STM :  Sarwo Edhie adalah komandan RPKAD tahun 1964-67. Banyak tulisan dari para akademik dan ilmuwan (beberapa saya kutip di petisi saya "Sarwo Edhie bukan Pahlawan"), bagaimana Sarwo Edhie sudah terlibat langsung dan ikut merencanakan pelaksanaan pembunuhan massal tersebut. Nah, apakah tidak memalukan menobatkan orang seperti ini sebagai Pahlawan?

RASP : Sudah berapa ribu yang memberi tanda tangan dalam petisi penolakan itu?

STM : Saat ini (Minggu 5 Januari jam 8.00 pagi, waktu London), sudah ada 6.396 tanda tangan.

RASP : Sarwo Edy adalah perpanjangan kekuasaan Soeharto yang diaminin Amerika. Anda melihatnya bagaimana?

STM : Setuju, Sarwo Edhie adalah perpanjangan kekuasaan Soeharto, yang waktu itu didukung oleh pemerintah Amerika, Inggris dan Australia. Sarwo Edhie, sebagai komandan RPKAD tahun 1964-67, adalah arsitek pembunuhan berjuta orang yang komunis dan dikomuniskan. Dan sebenarnya, banyak sekali korban yang tidak ikut-ikutan komunis atau tidak tahu-menahu tentang politik. Waktu itu kan banyak sekali kepala desa yang diberi mandat menuding orang-orang yang dianggap komunis. Nah, mereka menggunakan kekuasaan ini untuk mengenyahkan orang-orang yang tidak mereka sukai. Bisa jadi orang yang dibunuh atau dipenjara itu hanya saingan bisnis si kepala desa, atau orang yang pernah mengritik kepala desa. Bahkan, ada juga mereka yang dipenjara hanya karena sudah rebutan cewek dengan anaknya kepala desa. Sarwo Edhie sendiri telah berkoar dengan bangga, bahwa dia membunuh 3 juta nyawa. Ini dilaksanakan tanpa proses pengadilan.

Bukankah aneh luar biasa, kalau orang seperti ini jadi pahlawan? Bagaimana mungkin, orang yang telah membunuh segitu banyak nyawa (dengan bangga), malah diberi kehormatan. Sedangkan, saya tahu sendiri bapak teman saya yang juga berada di Angkatan Darat waktu tahun ’65 itu dipecat dan dipenjara, hanya karena mempertanyakan keputusan pembunuhan massal tersebut. Bukankah mereka-mereka yang mengorbankan jabatan demi rasa kemanusiaan mereka inilah, yang lebih layak dihormati?

Tapi sebenarnya, Sarwo Edhie juga digunakan oleh Suharto. Karena setelah Suharto berkuasa, Sarwo Edhie juga tidak diberi kedudukan yang terlalu tinggi. Dugaan saya, ini karena kegunaan Sarwo Edhie bagi Suharto tidak lagi besar, setelah Suharto bertahta. Tapi, Sarwo Edhie juga dianggap membahayakan kedudukan Suharto.

Karena itu juga, Sarwo Edhie sempat dijadikan duta besar untuk Korea Selatan (supaya jauh jaraknya dari Indonesia). Ini sebagai imbalan jasanya, tapi tidak terlalu besar (jadi tidak membahayakan kedudukan Suharto).  Jadi, bisa dibilang, dia juga sudah dikibuli oleh Suharto.

RASP : Sebenarnya bagaimana Anda melihat politik Indonesia saat ini?

STM : Masih banyak perpanjangan dari kroni Orde Baru, yang diuntungkan dari politik Suharto. Politik kepentingan masih tinggi di Indonesia. Karena itulah, mereka berusaha menutupi sejarah penindasan dan pembunuhan massal di Indonesia. Mereka akan bersatu untuk saling menutupi kebobrokan dan korupsi mereka, bila menguntungkan. Tapi, bukan berarti mereka ini bisa bersatu terus. Mereka juga bersaing satu sama lain, apalagi kalau sudah masalah kekuasaan. Karena itulah, dari bocoran Australia, terkuak juga, bahwa SBY ternyata iri dengan Jusuf Kalla.

RASP : Bagaimana memahami jalan politik Anda? Secara ideologis Anda ada di jalan mana?

STM : Saya ini berpihak pada kemanusiaan. Secara ideologis, saya tidak begitu perduli. Ideologi apapun tentu ada kelemahannya dan bisa dikritik. Saya tidak perlu branding untuk jalan politik saya. Banyak sekali yang mendorong saya untuk menjadi caleg. Tapi saya lebih suka jadi politikus gelandangan. Saya ini tidak pantas rasanya jadi pejabat. Lha saya ini kalau pakai baju suka morat-marit, tidak suka mandi dan tidak suka ganti baju lagi. Saya lebih suka jadi penulis, peneliti dan komponis seperti sekarang ini.

RASP : Sebagai seorang penulis Anda sudah melahirkan beberapa karya. Novel anda “Mati Bertahun yang Lalu” bercerita tentang apa?

STM : Tentang buku-buku yang saya terbitkan. Buku-buku saya sebenarnya diterbitkan tidak saja di Indonesia, tapi juga di Amerika, Kanada, Inggris, Singapura & Australia. Buku terakhir saya berjudul "Kubunuh di Sini", adalah kisah nyata saya bertarung dengan kanker (saya pernah terkena kanker 4 kali). Untuk lengkapnya, bisa melihat website yg dibikinkan teman saya: www.soetjenmarching.com

RASP : Dalam interview dengan El-Shinta tentang kaum homoseksual dan lesbian –anda menganggap itu sebagai bagian kebudayaan? Ada koreksi atau masih tetap sama persepsi anda?

STM : Waduh, itu interview sudah lama banget rasanya. Saya tidak bilang homoseksual dan lesbian itu “hanya” kebudayaan. Tapi, kebudayaan dan alam, dan macam-macam. Ada banyak hal dan sangat kompleks. Ada banyak orang yang dilahirkan sebagai gay dan lesbian. Tapi ada juga yang berubah. Saya punya teman yang dulunya heteroseksual. Dia cowok dan punya istri cantik. Tapi setelah istrinya meninggal, dia jatuh cinta pada cowok. Dia sendiri bilang tidak tahu kenapa. Ada hal-hal yang sangat kaya dan tidak terduga dalam orientasi seksual manusia.***

back to top