Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Saut Situmorang: Saya siap dipanggil pengadilan

Saut Situmorang: Saya siap dipanggil pengadilan

Sub Judul

KoPi- Kontroversi terbitnya buku '33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia' beberapa waktu  lalu, tidak saja menghadirkan resistensi yang kuat dari sebagian kalangan masyarakat sastra Indonesia. Kontroversi ini bahkan kemudian melahirkan sebuah perkara baru, yaitu dituntutnya tokoh resisten buku '33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia'; Saut Situmorang dan Iwan Sukri oleh Fatin Hamama. Mereka dituntut atas tuduhan penghinaan, penistaan, kekerasan terhadap perempuan dan pencemaran nama baik.

Perkara ini menjadi semakin mendalam, ketika Satrio  Aris Munandar, seorang tokoh jurnalis di Indonesia, menulis artikel di blognya dengan judul 'Melawan Kekerasan Terhadap Perempuan di Social Media – Kasus Fatin Hamama'. Menyusul kemudian, Komnas Perempuan yang juga memberikan dukungan kepada Fatin. Saut Sitomorang bersama penentang Denny JA yang lain menuduh bahwa Fatin Hamama melakukan pembiasan dan pembelokan masalah; dari semula -yang diyakini sebagai sebuah pertarungan yang menyoal 'upaya penipuan sejarah sastra Indonesia' oleh Deny JA menjadi perkara kekerasan 'gender'.

KoranOpini.com melakukan wawancara dengan lima nara sumber, pertama Satrio Aris Munandar, seorang penulis dan bagian dari tim pembela hak-hak perempuan di media sosial, Fatin Hamama, penyair yang melaporkan Saut dan Iwan Sukri, Neng Dara Affiah, Komisioner Komnas Perempuan dan Saut Sitomorang, sastrawan yang dilaporkan Fatin Hamama ke polisi serta Katrin Bandel, seorang kritikus sastra yang juga menggeluti dunia culture studies.

KoranOpini.com memuat semua wawancara secara bersama secara utuh, kecuali Fatin Hamama yang hingga tulisan ini tayang, belum sempat memberikan jawaban tertulisnya, meskipun semula telah menyanggupi memberikan jawaban tertulis.

Wawancara dengan Satrio dilakukan secara tertulis, sementara dengan Saut melalui tatap muka dan Neng Dara Affiah melalui telepon. Berikut adalah hasil utuhnya. Reporter yang melaporkan adalah Winda Efanur FS.

back to top