Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Saut Situmorang: Saya siap dipanggil pengadilan

Saut Situmorang: Saya siap dipanggil pengadilan

Sub Judul

KoPi- Kontroversi terbitnya buku '33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia' beberapa waktu  lalu, tidak saja menghadirkan resistensi yang kuat dari sebagian kalangan masyarakat sastra Indonesia. Kontroversi ini bahkan kemudian melahirkan sebuah perkara baru, yaitu dituntutnya tokoh resisten buku '33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia'; Saut Situmorang dan Iwan Sukri oleh Fatin Hamama. Mereka dituntut atas tuduhan penghinaan, penistaan, kekerasan terhadap perempuan dan pencemaran nama baik.

Perkara ini menjadi semakin mendalam, ketika Satrio  Aris Munandar, seorang tokoh jurnalis di Indonesia, menulis artikel di blognya dengan judul 'Melawan Kekerasan Terhadap Perempuan di Social Media – Kasus Fatin Hamama'. Menyusul kemudian, Komnas Perempuan yang juga memberikan dukungan kepada Fatin. Saut Sitomorang bersama penentang Denny JA yang lain menuduh bahwa Fatin Hamama melakukan pembiasan dan pembelokan masalah; dari semula -yang diyakini sebagai sebuah pertarungan yang menyoal 'upaya penipuan sejarah sastra Indonesia' oleh Deny JA menjadi perkara kekerasan 'gender'.

KoranOpini.com melakukan wawancara dengan lima nara sumber, pertama Satrio Aris Munandar, seorang penulis dan bagian dari tim pembela hak-hak perempuan di media sosial, Fatin Hamama, penyair yang melaporkan Saut dan Iwan Sukri, Neng Dara Affiah, Komisioner Komnas Perempuan dan Saut Sitomorang, sastrawan yang dilaporkan Fatin Hamama ke polisi serta Katrin Bandel, seorang kritikus sastra yang juga menggeluti dunia culture studies.

KoranOpini.com memuat semua wawancara secara bersama secara utuh, kecuali Fatin Hamama yang hingga tulisan ini tayang, belum sempat memberikan jawaban tertulisnya, meskipun semula telah menyanggupi memberikan jawaban tertulis.

Wawancara dengan Satrio dilakukan secara tertulis, sementara dengan Saut melalui tatap muka dan Neng Dara Affiah melalui telepon. Berikut adalah hasil utuhnya. Reporter yang melaporkan adalah Winda Efanur FS.

back to top