Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Saut Situmorang: Saya siap dipanggil pengadilan

Saut Situmorang: Saya siap dipanggil pengadilan

Sub Judul

KoPi- Kontroversi terbitnya buku '33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia' beberapa waktu  lalu, tidak saja menghadirkan resistensi yang kuat dari sebagian kalangan masyarakat sastra Indonesia. Kontroversi ini bahkan kemudian melahirkan sebuah perkara baru, yaitu dituntutnya tokoh resisten buku '33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia'; Saut Situmorang dan Iwan Sukri oleh Fatin Hamama. Mereka dituntut atas tuduhan penghinaan, penistaan, kekerasan terhadap perempuan dan pencemaran nama baik.

Perkara ini menjadi semakin mendalam, ketika Satrio  Aris Munandar, seorang tokoh jurnalis di Indonesia, menulis artikel di blognya dengan judul 'Melawan Kekerasan Terhadap Perempuan di Social Media – Kasus Fatin Hamama'. Menyusul kemudian, Komnas Perempuan yang juga memberikan dukungan kepada Fatin. Saut Sitomorang bersama penentang Denny JA yang lain menuduh bahwa Fatin Hamama melakukan pembiasan dan pembelokan masalah; dari semula -yang diyakini sebagai sebuah pertarungan yang menyoal 'upaya penipuan sejarah sastra Indonesia' oleh Deny JA menjadi perkara kekerasan 'gender'.

KoranOpini.com melakukan wawancara dengan lima nara sumber, pertama Satrio Aris Munandar, seorang penulis dan bagian dari tim pembela hak-hak perempuan di media sosial, Fatin Hamama, penyair yang melaporkan Saut dan Iwan Sukri, Neng Dara Affiah, Komisioner Komnas Perempuan dan Saut Sitomorang, sastrawan yang dilaporkan Fatin Hamama ke polisi serta Katrin Bandel, seorang kritikus sastra yang juga menggeluti dunia culture studies.

KoranOpini.com memuat semua wawancara secara bersama secara utuh, kecuali Fatin Hamama yang hingga tulisan ini tayang, belum sempat memberikan jawaban tertulisnya, meskipun semula telah menyanggupi memberikan jawaban tertulis.

Wawancara dengan Satrio dilakukan secara tertulis, sementara dengan Saut melalui tatap muka dan Neng Dara Affiah melalui telepon. Berikut adalah hasil utuhnya. Reporter yang melaporkan adalah Winda Efanur FS.

back to top