Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Saut Situmorang: Saya siap dipanggil pengadilan

Saut Situmorang: Saya siap dipanggil pengadilan

Sub Judul

KoPi- Kontroversi terbitnya buku '33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia' beberapa waktu  lalu, tidak saja menghadirkan resistensi yang kuat dari sebagian kalangan masyarakat sastra Indonesia. Kontroversi ini bahkan kemudian melahirkan sebuah perkara baru, yaitu dituntutnya tokoh resisten buku '33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia'; Saut Situmorang dan Iwan Sukri oleh Fatin Hamama. Mereka dituntut atas tuduhan penghinaan, penistaan, kekerasan terhadap perempuan dan pencemaran nama baik.

Perkara ini menjadi semakin mendalam, ketika Satrio  Aris Munandar, seorang tokoh jurnalis di Indonesia, menulis artikel di blognya dengan judul 'Melawan Kekerasan Terhadap Perempuan di Social Media – Kasus Fatin Hamama'. Menyusul kemudian, Komnas Perempuan yang juga memberikan dukungan kepada Fatin. Saut Sitomorang bersama penentang Denny JA yang lain menuduh bahwa Fatin Hamama melakukan pembiasan dan pembelokan masalah; dari semula -yang diyakini sebagai sebuah pertarungan yang menyoal 'upaya penipuan sejarah sastra Indonesia' oleh Deny JA menjadi perkara kekerasan 'gender'.

KoranOpini.com melakukan wawancara dengan lima nara sumber, pertama Satrio Aris Munandar, seorang penulis dan bagian dari tim pembela hak-hak perempuan di media sosial, Fatin Hamama, penyair yang melaporkan Saut dan Iwan Sukri, Neng Dara Affiah, Komisioner Komnas Perempuan dan Saut Sitomorang, sastrawan yang dilaporkan Fatin Hamama ke polisi serta Katrin Bandel, seorang kritikus sastra yang juga menggeluti dunia culture studies.

KoranOpini.com memuat semua wawancara secara bersama secara utuh, kecuali Fatin Hamama yang hingga tulisan ini tayang, belum sempat memberikan jawaban tertulisnya, meskipun semula telah menyanggupi memberikan jawaban tertulis.

Wawancara dengan Satrio dilakukan secara tertulis, sementara dengan Saut melalui tatap muka dan Neng Dara Affiah melalui telepon. Berikut adalah hasil utuhnya. Reporter yang melaporkan adalah Winda Efanur FS.

back to top