Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Rektor UIN Sunan Kalijaga: "Mahasiswa gay tidak dikeluarkan, kecuali... "

Rektor UIN Sunan Kalijaga: "Mahasiswa gay tidak dikeluarkan, kecuali... "

Jogjakarta-KoPi| Gay atau kaum orientasi seksual menyimpang lainnya seperti LGBT merupakan fenomena yang kompleks. Arah pandangan publik beragam menyoal mereka. Perdebatan memanas ketika memojokkan Gay sebagai penyakit sosial dengan Gay sebagai mahluk yang bebas bertindak sesuai hak asasinya. Lalu bagaimanakah UIN Sunan Kalijaga memandang Gay dan mereka yang populer sebagai LGBT?

Untuk mendapatkan penjelasan yang utuh bagaimana posisi HAM kaum LGBT ini di dalam masyarakat, terutama di lingkungan UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, KoranOpini.Com melakukan wawancara singkat dengan Rektor UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Prof. Drs. H. Akh. Minhaji, MA.,Ph.D.

Dalam wawancara tersebut Prof. Drs. H. Akh. Minhaji, MA, PhD menjabarkan posisi Islam dengan Gay (LGBT) dan relasi HAM dengan Gay (LGBT) secara sosial. Semoga mencerahkan.

T : LGBT atau Lesbi, Gay, Biseksual, dan Trasgender semakin terbuka di Indonesia. Seperti halnya, di antara mereka yang mengatasnamakan komunitas Gay UIN SUKA sudah mendeklarasikan melalui twitter. Akunnya bernama UIN Suka Gay. Kemudian ada juga Gay UGM. Menurut Bapak, apakah komunitas LGBT bisa diterima di UIN Sunan Kalijaga?

J : Tidak terima. Diluruskan secara filisofi manusia itu ada dua. Manusia yang menjadikan Allah sebagai Tuhan dan hidup beragama dan ada manusia yang sekuler. Karena orang beragama menjadikan Allah sebagai Tuhan agama apa saja mau Islam atau Kristen.

Kalau orang sekuler menjadikan manusia sebagai Tuhan karena itu kehendak manusia bergerak menjadi hak asasi manusia.

Seperti halnya Anda setuju tidak ada masyarakat telanjang? Itu di Amerika Selatan ada masyarakat telanjang. Ada. Karena yang dijadikan Tuhan itu pikiran manusia.

Jangan Anda kira di Barat setuju semua, tidak semua sepakat. Sekarang di Barat perkawinannya ada tiga; yaitu laki-laki dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki, dan perempuan - perempuan. Sebagian negara setuju dan sebagian negara yang lain tidak setuju.

Tapi kalau agama itu pasti, terutama agama langit. Karena agama langit yang bersandarkan kepada Tuhan, semua sama tidak mungkinlah ada masyarakat seperti itu.
Bahwa Gay ada, lesbian dan bisek itu harus dihormati iya, tapi bukan berarti menghormati seperti sekarang ini, sebebas-bebasnya.

Dan UIN namanya Universitas Islam makanya landasannya Al Quran dan Hadist. Jadi jika ada orang berpikiran di luar Quran dan Hadist, tapi dia di UIN salah tidak kira-kira ? Ya salah kan - Ini visi Quran dan Hadist. Saya kira satu orang tahu - bahwa di UIN ada orang jahat, ada orang judi itu iya, tapi kan bukan berarti ada, kemudian membenarkan. UIN atau perguruan tinggi agama Islam bertindak tegas.

Karena ini kaitannya dengan keluarga. Kalau Anda bayangkan sistem keluarga yang dibangun dengan seperti itu? Dengan rekayasa teknologi, itu tidak boleh dengan bank sperma. Itu harus diletakkan pada rahim orang lain. Itu anak biologis bukan anak perkawinan. Saya kira orang beragama orang apa pun baik Kristen maupun Yahudi. Kemudian memberi kebebasan menikah sesama perempuan boleh, saya kira itu hal yang tidak mungkin.

T : Kalau misalnya bisa menerima, apakah ini tidak bertentangan dengan agama?

J: Mau agama apapun, semua bertentangan, tidak hanya dengan Islam.

T :Kalau tidak bisa menerima, apakah UIN Kalijaga tidak takut dianggap anti demokrasi dan melanggar HAM?

J : HAM kita yang berdasarkan Quran. Masih ada yang bilang Islam tidak menerima HAM. Tetapi hak asasi manusia yang dituntun oleh ajaran Allah. - melanggar HAM seperti apa ...

Berpikiran dunia lo dan dunia gue? Itu tidak bisa, dimana orang hidup bisa dibebaskan? Jangankan orang beragama, orang yang tidak beragama tetap membutuhkan hukum. Hukum itu tidak boleh melanggar hak orang lain. Ketika tidak boleh melanggar hak, itu berarti membatasi, apakah setiap membatasi itu disebut diskriminatif, tidak menghargai? Itu tidak.

Kebebasan seseorang itu dibatasi oleh kebebasan orang lain. Sehingga di dunia ini bebas apa saja ya, tidak bisa bukan lo-lo, gue-gue –karena yang namanya manusia itu adalah mahluk sosial.

Orang boleh bebas tapi bebas itu tidak boleh melanggar kebebasan orang lain. Apakah UIN dianggap melanggar, ya tidak.

Saya orang Islam yang benar menurut saya seperti ini, tetapi bukan berarti saya mencerca Kristen. Termasuk Atheis pun harus kita hormati. Artinya kalau ada Gay, harus dihormati, bahkan dalam Islam kita harus menghormati samua makhluk, benda mati. Apalagi manusia. Lalu kemudian manusia melakukan hal-hal yang bertentangan menurut keyakinan –itu tidak bisa.

Anda pernah lihat perempuan kawin dengan perempuan ? Tetap ada yag feminim dan maskulin. Walaupun laki-laki dan laki-laki, tetap saja ada yang jadi istri. Ini sebagai contoh kenapa laki-laki menjadi pemimpin. Yang menyandarkan kepala juga perempuan itu alami, binatang pun begitu.

Itu yang disebut pikiran liberal kan kayak gitu, orang berpikiran liberal ini arahnya kemana kan saya tidak tahu.

Saya sudah 7 tahun mengalami, kelompok minoritas minta disamakan dengan kelompok besar. Misalnya agama yang kecil minta sama dengan agama yang besar boleh tidak ? Secara Barat kan tidak boleh. Di Indonesia tidak, yang kecil minta mendikte yang besar. Saya sewaktu di Barat kalau tidur diganggu ada bunyi lonceng…teng..teng.. Sebagai orang Islam, hanya sebatas menghormati. Tetapi fasilitas sebatas kebutuhan dasar manusia. Misal saya orang kecil minta masjid di Barat ya tidak bisa , saya sadar orang kecil.

T : Menurut Warek II, mahasiswa yang terlibat dalam komunitas Gay akan di DO. Apakah memang demikian?

J :Tidak ada dalam peraturannya kalau Gay dikeluarkan - Kalau ada mahasiswa yang Gay - adanya hukuman, tahapan. Kalau sudah diberi peringatan, sanksi-sanksi kemudian wajar kalau di DO, ada prosesnya. Tapi bukan dia Gay (langsung) di DO, tidak ada. Kalau Gay mau masuk UIN silahkan. Karena Gay manusia mahluk Allah, harus kita dukung, hormati. Tetapi kalau dia sudah menyuruh laki-laki kawin dengan laki-laki saya kira juga salah, dia sudah meyalahi prinsip landasan UIN ini.

T : Sebagian besar orang menganggap bahwa LGBT merupakah penyakit sosial. Tetapi bagi sekelompok lain, hal tersebut merupakan kewajaran yang harus diterima karena sudah melekat sebagai realitas sosial. Bagaimana menurut Bapak?

J : Sebagai sebuah realitas, maka perlakuan kita sesuai dengan relita itu. Misal orang difabel harus disesuaikan. Kalau tuna netra kita buatkan huruf braille.

Gay apa kebutuhannya sejauh tidak bertentangan. Lesbi, Gay, Biseksual dan transgender adalah sebuah realita, dan sebuah realita mereka adalah mahluk Allah. Jangankan manusia, barang mati harus dihormati..

Mahasiswa Gay bisa diterima tapi kemudian dia kampanye menikah sesama laki-laki, menikah sesama perempuan itu problem sosial. Tapi kalau dia Gay sebagai realitas soial dia harus diterima sebagai realita oleh siapapun sebagai mahluk Allah.

T : Bila UIN menganggap bahwa komunitas semacam ini sebagai penyakit sosial, apa yang akan diupayakan untuk menyembuhkan mereka di UIN?

J : Gay bukan penyakit sosial, itu realita. Bagi saya Gay bukan penyakit dan tidak perlu disembuhkan. Wong dia bukan penyakit. Tapi kalau dia berubah menjadi penyakit harus disembuhkan. Penyakit bukan karena Gay-nya tapi karena dia mengkampnyekan setiap orang. Orang dihukum karena pikiran kan tidak boleh, orang dihukum karena tindakan.

T : Bila pun UIN menganggap lumrah pada kaum beda orientasi seksual ini, apa yang akan dilakukan untuk menerima mereka dalam konteks demokrasi?

Saya tidak masalah, bisa diterima. Masuk jadi mahasiswa silahkan, asal tidak melakukan hal-hal secara sistemik mengajak orang melanggar ajaran agama Islam. Orang kan banyak mengaku Islam tapi sebenarnya tidak pernah baca Al-Quran, tidak mengerti Al-Quran dan mudah diprovokasi oleh orang Barat.

Anda lihat Islam bisa berjaya 7 abad. Lihat, Barat baru 2 abad mereka sudah ketar-ketir, makan Kentucky, ayam potong, hasil penelitian menunjukan makan ayam (broiler,red) itu tidak baik. Tapi kita bangga makan makanan orang Barat. |Winda Efanur FS|

BACA: Mahasiswa UIN Kalijaga yang terlibat komunitas gay akan di DO

back to top