Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Wanita yang menggenggam mimpi cahaya pagi

Wanita yang menggenggam mimpi cahaya pagi

Mimpimu, apakah hanya baik untuk diri, atau juga mampu menciptakan kebaikan bagi sesama manusia?

(Fatma Saifullah Yusuf, 2015)

Ibunda Fatma Saifullah Yusuf, Hj. Novi Ciptiani Syifa, adalah figur yang memberinya pertanyaan tersebut di atas. Melalui websitenya, fatmasaifullah.com, pertanyaan dari ibunda telah memberi bangunan mental dan visi tentang perjuangan atas mimpi. Yaitu, mimpi mendapatkan dan menciptakan hal-hal baik untuk diri dan masyarakat luas.

Lantas, bagaimana agar mampu mewujudkan hal baik itu? Fatma belia, sewaktu kuliah, memahami bahwa organisasi merupakan salah satu cara untuk mewujudkan semua kebaikan untuk masyarakat. Ia bergabung menjadi senat mahasiswa di universitas pada waktu itu.

Kini Fatma menjadi ketua umum BKOW (Badan Kerjasama Organisasi Wanita) dan ketua Perwosi (Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia) Provinsi Jawa Timur. Ia tampak bersemangat di kedua organisasi ini. Sebab, Fatma merasa makin memiliki kekuatan untuk mewujudkan hal-hal baik bagi masyarakat luas di Jawa Timur.

Hal-hal baik yang mungkin bagi orang lain sederhana seperti mengorganisasi pernikahan massal mereka yang tidak mampu, melaksanakan pelatihan-pelatihan keterampilan bagi para wanita, dan membangun jejaring donasi pendidikan atau kesehatan untuk para anak-anak kurang mampu.

Walaupun, hal-hal baik tidak selalu dilihat secara indah oleh orang lain. Hal-hal baik yang diperjuangkannya bersama para wanita dalam BKOW dan Perwosi bisa diprasangka dan dibenci. Fatma masih mampu bertahan dan berjuang untuk kebaikan masyarakat dari deraan prasangka orang lain karena satu hal prinsip.

“Saya yakin, setiap kebaikan untuk masyarakat memiliki nilai ibadah di hadapan Allah. Saya juga yakin bahwa keberanian terus berjuang merupakan kunci tercapainya hal-hal baik dalam masyarakat”.

Ummu Fatma, nama asli dari orang tuanya, bercerita banyak tentang terjal perjalanan menjadi pemimpin di dalam berbagai organisasi.

Organisasi sosial kemasyarakatan yang pertama diikutinya setelah menikah dengan Saifullah Yusuf adalah menjadi pengurus PP Fatayat NU. Organisasi dengan latar belakang Nahdatul Ulama ini diikutinya dengan menjabat sebagai anggota bidang Sosial di periode pertama dan wakil bendahara di perode kedua saat kepemimpinan Maria Ulfah Anshor. Fatma, sama halnya dengan para pembelajar lainnya di dunia, selain menuangkan semangat pengabdian juga melatih kemampuan kerja sama, saling menghargai, keikhlasan dan persahabatan.

“Setiap hari kita harus belajar tentang apapun. Sebab dari belajar itulah kita bisa menjadi lebih memiliki arti baik bagi sesama manusia dan masyarakat luas”.

Ketika Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mendapat amanah sebagai Menteri Negara di Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) pada Kabinet Indonesia Bersatu di era kepemimpinan Presiden SBY, Fatma ikut aktif dalam organisasi SIKIB (Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu).

SIKIB menjadi dunia organisasi yang berbeda. Tidak jarang antara prinsip yang diyakini sejak kecil tentang kebaikan masyarakat berbenturan dengan prinsip egoistik. Selain itu benturan antara perbedaan konsep dan visi juga tidak jarang terjadi. Fatma sering berhadapan dengan situasi berat. Lantas apa yang terjadi pada Fatma selama dalam organisasi ini?

(bersambung)

back to top