Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Sisi gelap Susi Pudjiastuti yang perlu diketahui

Sisi gelap Susi Pudjiastuti yang perlu diketahui
KoPi. Ada sisi-sisi gelap dari Susi Pudjiastuti, menteri perikanan dan kelautan dalam kabinet kerja Presiden Joko Widodo. Sisi gelap yang harus diungkap secara jujur.

Sisi gelap pertama dari kehidupannya adalah keretakan hubungan dengan sang ayah. Ketika itu, Susi memutuskan berhenti dari SMA. Ia sedang di tingkat kelas 2. Ayahnya sangat mengharap Susi lulus dan memiliki pendidikan tinggi.

Susi tidak pernah mengalami kesulitan membaca buku-buku sebab sang ayah selalu memanjakannya dengan setiap buku yang dibutuhkan. Keputusan keluar dari sekolah dan berhadapan dengan kesedihan sang ayah, adalah sisi gelap yang tidak mudah.

Namun Susi ingin membuktikan bahwa sekolahnya bukanlah di lembaga formal namun pada 'sekolah kehidupan'. Ia ingin mandiri, berbisnis. Darah ini tentu tak lepas dari keluarganya, sang ayah, yang merupakan pedagang-peternak sapi di Pangandaran.

Niat mandiri berbisnis mengantarnya pada sisi gelap kedua, yaitu modal. Pada saat hubungan dengan sang ayah memberi perasaan tidak karuan, Susi ingin memulai bisnis. Sayangnya bank menolak pinjaman yang diajukan.

Tentu saja bank menolaknya, sebab Susi tidak memiliki jaminan benda maupun surat-surat berharga seperti sertifikat. Maka ia memutuskan untuk menjual perhiasannya. Pada tahun 1983 ia memulai bisnis sebagai pengepul ikan.

Bisnis pengepulan iklan memasukkan dirinya pada sisi gelap hidup ketiga. Ia harus berhadapan dengan 'dunia laki-laki'. Sebab persaingan dalam pengepulan ikan didominasi oleh para laki-laki. Tidak mudah, itu proses berat. Susi harus merapatkan rahang hatinya sekuat yang bisa.

Ia terus berputar di Pangandaran dengan semangat yang menjadi lentera perjalanan awal bisnisnya.

Dunia bisnis pengepulan ikan mengantar perempuan berkulit sawo matang dan berwajah tegas ini pada sisi gelap selanjutnya... (bersambung).*

 

*Disarikan dari berbagai referensi biografis.

back to top