Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

"Saya gemetar ketika melihat ke arah taman...."

"Saya gemetar ketika melihat ke arah taman...."

Kota Banjar - KoPi | Suatu hari minggu, ketika matahari berada di puncak, dia menyusuri ruas jalanan Kota Banjar, Jawa Barat. Dia menghentikan langkah di taman kota dekat bendungan sungai Citanduy. Beberapa saat pandangannya terpaku. Paras wajah perempuan berkerudung itu muncul bias sedih dan kuatir.

 

"Saya gemetar ketika melihat kearah taman. Ini adalah satu-satunya taman di kota kelahiran saya. Saya lihat beberapa orang tua bersama anak-anak kecil sedang bermain perosotan. Hanya ada dua perlengkapan permainan anak-anak, yaitu perosotan dan lingkar besi." Kata perempuan itu sambil membenarkan kacamata kepada reporter KoPi.

Perempuan itu adalah Irma Bastaman, lahir di Kota Banjar lima puluh empat tahun lalu, tepatnya 8 Nopember 1963. Ia menyeka keringat, dan melangkah mendekati anak-anak yang bermain riang dengan perlengkapan seadanya.

"Saya merasa trenyuh, anak-anak semestinya mendapatkan fasilitas bermain yang jauh lebih baik daripada ini." Ungkap Irma Bastaman.

Irma mendekati orang tua yang sedang menemani bermain anak-anak. Perbincangan bergulir. Ibu dari anak-anak yang bermain mengeluhkan fasilitas bermain di kota yang sangat minim.

"Ini juga harus membayar. Tidak gratis. Apakah memberi fasilitas bermain saja untuk keluarga dan anak-anak tidak bisa ya pemerintah kita?" Tanya ibu tersebut kepada Irma Bastaman dengan wajah lesu.

Irma Bastaman tersenyum, dan menjawab, "Semestinya bisa Ibu. Paling ideal setiap desa atau kecamatan memiliki taman wisata gratis untuk keluarga dan anak-anak."

Ibu itu memandangi Irma Bastaman dan menyahut, "Tapi kenapa seperti ini kondisinya? Apakah Ibu bisa mengusahakan agar masyarakat Kota Banjar memiliki fasilitas taman bermain yang baik dan nyaman?"

Irma menjabat tangan ibu dari anak yang sedang bermain, "Insya Allah jika saya memiliki kekuatan pasti saya perjuangkan. Bukan hanya taman bermain namun juga memenuhi hak-hak masyarakat Kota Banjar."

Ibu itu balas menjabat tangan Irma Bastaman, sedikit mengernyitkan kedua matanya, "Maaf saya belum tahu, Ibu ini siapa kok sangat memperhatikan?"

"Saya Irma Bastaman...."

"Oh...ini Ibu Irma Bastaman???"

"Betul, saya Irma Bastaman..."

Tiba-tiba ibu itu memeluk Irma Bastaman sambil menangis. Situasi itu berlangsung beberapa menit.

"Saya bisa bertemu Ibu Irma di sini. Saya tadi sudah menduga tapi ragu jika ini adalah Ibu Irma. Saya sangat bahagia sekali. Tidak menyangka Ibu Irma bersedia berbincang dengan saya orang kecil. Tolong kami agar bisa memiliki taman bermain bagi keluarga ya Bu Irma."

Irma Bastaman, masih memeluk ibu tersebut tampak mengangguk-anggukan kepala. "Saya akan bersama ibu dan seluruh warga Kota Banjar. Seluruh warga Kota Banjar berhak untuk hidup bahagia. Bisa berwisata di kota sendiri secara nyaman."

***

Irma Bastaman adalah seorang figur pemimpin masyarakat di Kota Banjar yang aktif melakukan pemberdayaan bidang sosial dan ekonomi. Pemberdayaan itu tidak hanya dilakukan secara formal semata. Dia sering langsung saja datang ke rumah-rumah masyarakat, pasar dan persawahan. 

"Ada ikatan batin antara saya dan warga Kota Banjar. Saya lahir dan besar di kota ini. Saya ingin agar masyarakat Kota Banjar hidup bahagia. Saya tidak rela jika mereka hidup dalam kondisi yang tidak sejahtera." Jelasnya kepada KoPi.

Perempuan yang mudah berkomunikasi secara akrab ini berpenampilan sederhana sekali. Orang yang tidak mengenalnya langsung, mungkin tidak menyangka bahwa puteri dari pasangan Hj. Aisyah Gandadimadja dan Rd. S. Bastaman tersebut adalah seorang doktor (S3) bidang ekonomi dari Universitas Padjajaran bandung.

Irma memiliki cita-cita sejak kecil untuk menjadi ahli bidang ekonomi dan pembangunan. Sejak masih kecil, Irma tidak pernah dimanja oleh orang tua dengan harta. Kedua orang tuanya menyadari bahwa memberikan ilmu adalah cara yang lebih menyelamatkan bagi masa depan seseorang.

"Ibu saya selalu memberikan pengertian bahwa memanjakan anak dengan harta, memanjakan dengan memberikan uang tidak akan memberikan masa depan. Hanya kesenangan sesaat. Banyak contoh mereka yang hanya dimanjakan dengan uang ketika besar tidak meraih kesuksesan. Maka saya harus terus berbagai ilmu pada masyarakat Kota Banjar."

Model pendidikan itulah yang menjadikan Irma menjadi seorang figur yang selalu berusaha keras membagi ilmu bermanfaat pada masyarakat. 

"Tidak harus mengajar di universitas. Tidak harus melalui pelatihan-pelatihan. Itu semua penting. Namun, setiap waktu ketika menemui masyarakat saya selalu membagikan ilmu yang telah saya pelajari seperti manajemen bisnis usaha kecil menengah sampai ilmu tentang memasak kue."

Mengapa Irma Bastaman rela menyediakan waktunya berbagi ilmu dengan masyarakat Kota Banjar? Hal tersebut tampaknya sangat berkaitan erat dengan pemahaman keagamaan (Islam) yang dianut. Irma menceritakan bagaimana sejak kecil diajarkan bahwa Islam itu mengajarkan pada ummat agar saling berbagi kebaikan termasuk ilmu yang positif.

Pengalaman organisasi selama duduk di bangku pendidikan dan organisasi sosial makin menempa komitmennya pada pentingnya berbagi ilmu. 

"Harta itu penting. Islam mengajarkan agar kita membagi harta yang halal kepada yang berhak agar dimanfaatkan untuk bertahan hidup dan modal usaha."

****

Irma Bastaman menjabat erat para orang tua di taman kota. Dia membelai kepala anak-anak yang sedang bermain di sekitar dia. Anak-anak tersebut terlihat senang dengan wajah lugu yang suci.

Berbagi harta halal itu baik, namun lebih baik jika ilmu tidak ditinggalkan. | Narasi berdasarkan observasi dan wawancara reporter KoPi - A. Ginanjar 

back to top