Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Kredo Seni Rupa Nurul "Acil" Hayat

Kredo Seni Rupa Nurul "Acil" Hayat

Malam , di sebuah empang milik sastrawan besar Ayip Rosidi. Cahaya purnama membias pucat-perak diantara pohon-pohon dan permukaan air kolam. Sebuah huma berlantai dua berdiri sebagai siluet dikelilingi kolam-kolam berisi ikan dan udang. Di samping huma, tampak empat orang berkumpul di bawah atap dapur yang tak berdinding. Tiga pria dan satu perempuan muda. Duduk diagonal menghadap api dalam tungku yang menyala dan menari-nari dalam irama yang dinamis. Di depannya sebuah kolam induk meringkuk dingin. Salah satu diantara mereka berdiri dan menyambutku dengan tawa yang lebar.

Pria ini Acil Aliancah. Tubuhnya kecil proposional. Rambutnya ikal sebahu dengan jambang yang lebat di wajahnya. Ia bernama asli Nurul Hayat biasa dipanggil Acil. Pelukis asal Tasikmalaya dan berdomisili di Yogyakarta. Ia mengantarku pada tiga sahabat lainnya. Diantara mereka adalah Nundang Rundagi. Anak pemilik empang seluas delapan hektar ini. Selesai berbasa-basi  ringan, kopi baru diseduhkan untukku.

Mereka selalu rutin berkumpul di empang ini. Menamakan diri Kelompok Seni Rupa RWD ( Ruang Waktu Datar). Berbincang tentang  seni rupa,kebudayaan dan omong kosong yang lain. Tetapi malam ini, ada tema yang sangat menarik tengah diperbincangkan. Seni rupa Indonesia. Terutama  kredo Acil Aliancah dalam jalan seni rupanya. Sebuah kredo yang berangkat dari kesadaran membangun identitas kebudayaan bangsa.

“Apa maksudnya? Kredo ini seolah mencemaskan sebuah kondisi yang memprihatinkan.”

Acil tertawa lepas. Ia memandang pada Nundang Rundagi sekejap dan balik bertanya kepadaku, memang apa yang kamu pikir tentang seni rupa Indonesia?

Seni sebagi identitas

Seni rupa Indonesia, sebagaimana adanya dan seperti halnya seni modern lainnya selalu menggagas hal-hal yang tidak selalu utuh. Seperti kepingan-kepingan yang berserakan dalam jiwa yang rapuh dan sendiri. Berteriak tanpa henti dan selalu mencari jalan keluar diantara pintu-pintu yang terbuka di depan mata.

Itu kegelisahan yang diwariskan modernisme sejak zaman Renainsans pada abad  15-16 Masehi di eropa pada masyarakat timur. Masyarakat yang galau terhadap eksistensi kemanusiaannya. Dogma gereja dan pertarungan antara kebenaran yang dijejalkan gereja dengan realitas hidup yang terkadang pahit. Maka, manusia harus dibebaskan dari belenggu-belenggu gereja.

Setidaknya pemikiran filsuf John Locke (1632-1704) merupakan stimulus yang kuat di abad pertengahan itu. Hadir filsuf lain di Perancis dengan pemikiran yang senada seperti J.J. Rousseau, Voltaire, serta Montesquieu. Jauh sebelumnya, tentu Aristoteles, Plato juga sudah menggagasnya. Substansi pemikiran itu terwujud dalam bentuk yang berciri Natural-Perspective-Moment of Name (NPM). Dunia ditampakkan dalam dunia yang mengerucut, mengecil di sudut-sudut yang sunyi. Semua terangkum dalam satu dunia dan satu waktu yang melebur.

Angin semilir, permukaan air bergoyang. Acil semakin bersemangat menjelaskan dasar kredo seni rupanya. Teman-teman lain mendengarkan bersama angin yang digin dan asap rokok yang mengepul.

Kenapa seni rupa kita, ada yang salah?

Tidak ada yang salah, tuturnya, seni rupa kita biasa saja. Kita menerima semua konsep dari barat. Seni rupa barat begitu kokoh, rasional dan punya kemegahannya semdiri. Lihat karya-karya rupa mereka seperti arsitekturnya, patung-patung dan lainnya.

Tetapi Timur adalah dunia yang eksotis. Pusat dari awal segala peradaban dunia. Mesir, Cina, Persia adalah bukti konkret. Islam pun bila bisa mewakili timur adalah bentuk bukti yang lain. Lihat, bagaimana mereka menguasai dunia di masa lalu menggantikan dominasi kekasiran Romawi. Tidak saja secara politik tetapi juga peradaban dan seni rupanya.

Ada garis pemisah dalam seni rupa timur dan barat. Garis pemisah yang menunjukkan karakter budaya. Bukan sebagai makna politis, namun hanya penanda kebudayaan. Semacam identitas kebudayaan. Seni rupa  timur berkebalikan dengan barat yang NPM. Timur memiliki ciri Ruang Waktu Datar (RWD). Konsep timur ini memiliki refleksi karakter masyarakat timur yang lebih bersifat komunal, solider dan melihat dunia dalam perspektif makro kosmos. Bentuk dunia seperti ini sama halnya dengan gambaran tokoh Albert Einsten dalam teori realitivitas bahwa waktu tidaklah mutlak tetapi menjadi relatif.

Ciri-ciri inilah yang menunjukkan identitas kebudayaan bangsa-bangsa. Setiap bangsa memiliki akar kebudayaannya. Bangsa Indonesia nyaris kehilangan ciri tersebut akibat penjajahan ratusan tahun. Seni rupa kita lantas menjadi pengekor kebudayaan barat semata. Sebagian besar menganggap barat lebih baik dan pantas menjadi kiblat. Kita hanya membutuhkan ciri yang tegas dalam bentuk bangunan. Seperti kita mudah mengerti itu lukisan gaya Jepang atau Cina.

Kenapa bisa terjadi?

Kelas akademi kita menjejalkan itu. Kita alpa menyadari bahwa kebudayaan merupakan bagian terpenting dalam kontestasi politik internasional. Acil menjelaskan, kredonya merupakan bagian dari perlawanan terhadap dominasi kebudayaan barat. Seniman harus punya sikap. Independen tetapi bertanggung jawab terhadap eksistensi bangsa. Bukan saya menolak barat. Tetapi esensinya adalah saya berkarya untuk identitas kebudayaan bangsa. Dan identitas selalu berakar dari lingkungan masa lalu kita yang sebenarnya.

Ruang Waktu Datar adalah pilihan bentuk berkarya saya. Saya banyak terinspirasi dari pelukis Heri Dono dan Nasirun ketimbang pelukis barat. Meskipun banyak hal yang bisa kita ambil dari barat secara obyektif.

Malam itu Acil tidak saja menjelaskan tentang kredo seni rupanya. Tetapi ia pun menyanyi lagu-lagu balada yang ia ciptakan.***


 

Biodata: 

Name   : Nurul Hayat (Acil aliancah) Birth Date  : Tasikmalaya, Sepetember 06,  1972

Address   : Nitiprayan N0. 51 F RT 001 Ngestiharjo Kasihan  Bantul 55182, Yogyakarta Indonesia

Education : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta Indonesia Art Institute of Yogyakarta (ISI) majoring fine art

Phone   : +62 822-2148-1894, Email This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.


 

back to top