Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Kombes Pol Anny Pudjiastuti: Dari Bintara hingga Komisari Besar Polisi

Kombes Pol Anny Pudjiastuti: Dari Bintara hingga Komisari Besar Polisi

Sosok ibu satu ini memang luar biasa. Berangkat dari pangkat Bintara polisi di tahun 1979, saat ini tahun 2016 telah menjadi Komisaris Besar Polisi.

Kombes Pol Dra. Anny Hj. Anny Pudjiastuti,M,si, saat ini adalah Kabid Humas Polda DIY sejak delapan tahun lalu menjelang purna . Ibu dua anak kelahiran Ujung Pandang 5 November 1958 ini juga menerima penghargaan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) tahun 2015 dari KPI DIY. Sebuah penghargaan kepada pejabat publik yang konsekuen terhadap UU Keterbukaan Informasi Publik.

Sebelumnya, tahun 1989, setelah bertugas selama sepuluh tahun sebagai polisi, selama tiga periode Anny mejalani tugas anggota DPRD di Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan dari Fraksi TNI/Polri dengan menyisihkan 114 caleg asal TNI/Polri. Penugasan ini membuatnya kaget dan keder.

"Saya baru sepuluh tahun bertugas, tetapi kenapa saya yang dipilih," ceritanya.

Menurutnya, tugas menjadi wakil rakyat tentu adalah tugas yang berat dan harus memiliki komunikasi yang baik dan berpengalaman luas.

"Saya menyatakan tidak sanggup waktu itu kepada Kapolres. Ndan, saya tidak sanggup sepertinya, kata saya setelah menjelaskan alasan saya. Kapolres mengatakan ini perintah dari Kapolda kalau tidak sanggup ya langsung saja bicara ke Kapolda. Saya akhirnya ke Kapolda dan Kapolda marah sama saya. Katanya, kamu ini ABRI kalau ada tugas jalankan. Kalau tidak tahu ya belajar, katanya." Cerita Anny sembari tertawa.

Jalan berliku

Pencapaian Kombes Pol Anny tidaklah mudah. Sebelum meniti karir sebagai polisi, Anny bahkan pernah menjalani kerasnya hidup sebagai kondektur jurusan Pati-Semarang dan penjaga tiket Semarang Fair. Profesi itu ia jalanani ketika ia masih kuliah di IKIP Semarang di semester dua.

Profesi itu ia jalani mengingat orangtuanya telah menjanda sejak Anny sekolah Taman Kanak-Kanak. Ibunya seorang janda Brimob dengan gaji yang pas-pasan membuatnya harus berjuang untk delapan anak-anak dengan berjualan sembako. Anny muda dan saudara-suadaranya berjuang keras agar tetap bisa bersekolah.
Ketika kuliah di semester dua pula, akhirnya ia memutuskan mengikuti pendidikan polisi wanita (Polwan) di Ciputat Jakarta di tahun 1978. Saat itu Anny berhasil mendapatkan rangking 2 dari 100 peserta didik dan lulus sebagai polisi wanita di tahun 1979.

Anny muda kemudian ditugaskan di Polda Metro Jaya sebagai Sespri Kapolda Metro Jaya yang waktu itu dijabat Anton Sujarwo. Tiga tahun di Polda Metro Jaya, pada 1982 ditugaskan diluar struktur Polri (Sapam) di bagian body check penumpang perempuan di Bandara Halim Perdanakusuma, Cengkareng. Kemudian tahun 1983, dia diminta bertugas sebagai instruktur dan pembina polwan di Sekolah Polwan angkatan 6. Tak berselang lama, dia ditugaskan kembali ke Cengkareng.

Setahun dari Halim Perdanakusuma, dia dipindah lagi ke Polres Jaktim sebagai Dirserse Narkoba. Sempat setahun lagi di Bandara Halim, Anny menikah pada 1985 dengan Sumarno yang berprofesi pegawai bank dan hijrah ke Kalimantan Selatan.

Pada tahun 1987 Anny masuk Sekolah Calon Perwira (Secapa) dan kemudian ditugaskan di Barabai, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Setelah tidak lagi berpolitik, Anny kembali ke kesatuan dan pindah ke Yogyakarta mengikuti putra-putrinya yang melanjutkan studi. Sebelumnya 2005 di Binmas.

Tahun 2008 pindah di bagian Humas Polda DIY sampai sekarang. Terhitung sudah delapan tahun dengan mengawal sepuluh Kapolda DIY. Desember tahun 2016, Kombes Pol Hj. Anny Pudjiastuti, Ms,i akan segera purna. Ia berharap masyarakat terutama kaum muda bisa menjalani kehidupannya secara lurus dan terus berjuang. Ia juga berharap peran wanita menjadi semakin kuat, terutama mengingat porsi politik di Indonesia semakin besar untuk wanita.

 

back to top