Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

Ini 10 tokoh hebat Indonesia tanpa ijazah

Ini 10 tokoh hebat Indonesia tanpa ijazah

Sub Judul

Yogyakarta-KoPi- Senin 27 Oktober 2014 lalu Presiden Joko Widodo mengumumkan 34 menteri dalam Kabinet Kerja. Dalam pengumuman itu, menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mencuri perhatian publik.  Pasalnya, meski hanya bermodal ijazah SMP, Susi pengusaha ikan asal Pangandaran ini menyabet jabatan menteri.

Label pendidikan oleh masyarakat kerap dianggap sebagai gengsi bagi kebanyakan masyarakat. Orang selalu angkat topi memandang mereka yang bertitel meskipun menjadi pengagguran. Padahal gelar akademik tidak selalu memiliki kualitas praksis. Di Indonesia, banyak tokoh hebat yang berangkat dari otodidak atau tidak menempuh bangku kuliah, bahkan hanya bersekolah dasar. Berikut adalah 10 tokoh hebat milik Indonesia sebagai contoh saja yang tercatat dalam sejarah Indonesia, meskipun tanpa ijazah akademik. Tentu masih banyak lagi tokoh yang lain di Indonesia yang seperti ini. Artikel ini tentu hanya bermaksud sebagai pengingat bersama, bahwa belajar tidak saja hanya di bangku sekolah, tetapi dalam proses kehidupan itu sendiri.

1.    Adam Malik

Adam Malik kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara 22 Juli 1917. Buah hati dari pasangan Haji Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis. Semasa Adam Malik kecil gemar menonton film koboi, membaca dan fotografi.
Pernah mengenyam pendidikan di HIS (setingkat SD) selepas lulus membantu ayahnya kerja di toko Murah. Sembari kerja Adam Malik mengisi waktu luang dengan banyak membaca buku.

Karir politik bermula saat berusia 17 tahun menjabat ketua Partindo di Pemantang Siantar (1934-1935). Pada usia 20 tahun. Adam Malik bersama Soemarang, Sipatuhar, Armin Pane, Abdul hakim dan Pandu Kartawiguna mendirikan kantor berita ANTARA tahun 1937  di Jl. Pinangsia 38 Jakarta kota.

Di masa penjajahan Jepang Adam Malik aktif bergerilya memperjuangkan kemerdekaan. Menjelang 17 Agustus 1945, Adam Malik menjadi salah satu tokoh yang melarikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok.
Namun menginjak tahun 1950-an karir politiknya melejit, dia dipilih Soekarno menjadi duta besar luar biasa untuk Uni Societ dan Polandia. Pada tahun 1977 menjadi ketua MPR. Jabatan tertinggi menjadi wakil presiden ke-3 berdasarkan sidang Umum MPR Maret 1978.

2.    Agus Salim

Agus Salim pemuda cerdas kelahiran Kota Gadang, Agam, Sumatera Barat 8 Oktober 1884. Agus Salim dikenal sebagai salah satu pelopor kebangkitan bangsa dengan mendirikan Sarekat Islam (SI).
Jejak pendidikannya ditempuh di ELS  (Europeesche Lagere School) dan HBS (Hoogere Burgerschool) di Batavia. Sekolah HBS setingkat SMP+ SMA dengan lama studi 5 tahun.

Meskipun cerdas dan menguasai 7 bahasa asing : Belanda, Inggris, Arab, Turki, Prancis, Jepang dan Jerman Salim gagal melanjutkan studinya. Salim harus mengubur niatnya sekolah di kedoteran karena gagal mendapat beasiswa dari Belanda. Guna mengobati kekesalannya Salim pergi ke Arab dan bekerja sebagai penerjemah di konsulat Arab.

Karir politiknya dimulai ketika bergabung dengan Sarekat Islam bersama HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis pada 915. Selain itu kiprahnya juga terlihat sebagai aktivis Jong Islamieten. Bentuk gebrakan melunturkan nilai Islam yang kaku dan mempelopori emansipasi wanita.

Geliat Salim semakin kentara dengan menjadi anggota PPKI hingga saat Indonesia merdeka Salim dipercaya menjadi di akhir masa Jepang mengantarkan dia menjadi menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung.

Bahkan karena kepiawaiannya berpidato mengantarkannya menjadi Menteri Muda Luar Negeri dalam Kabinet Syahrir I dan II.

3.    Ajip Rosidi

Siapa yang tak kenal Ajip Rosidi, seorang  sastrawan terkenal Indonesia, penulis, budayawan, redaktur, serta ketua yayasan Rancage.
Ajip menempuh studi di sekolah Rakyat jatiwangi 1950, SMP N VIII Jakarta 1953 dan pendidikan terakhir Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956). Sekalipun tidak tamat SMA dia bertekad untuk menjadi orang sukses. Kesehariannya dihabiskan dengan  membaca buku-buku. Tak salah bila Ajip berhasil setidaknya menuliskan 326 judul karya buah dari luas pemikirannya.

Tak sampai hanya berkat prestasinya di bidang kesusastraan dan kebudayaan pada tahun 1967-1970, dia menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung. Lalu pada 1981, laki-laki 76 tahun ini diangkat sebagai guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka). Sejak itu, dia bertugas mengajar di Tenri Daigaku (1982-1994) dan Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996).  Berikut karya Ajip Rosidi selama bergelut di dunia satra:
·    Dalam Kongres Kebudayaan tahun 1957 di Denpasar,  mendapat Hadiah Sastra Nasional  untuk sajak-sajak yang ditulisnya tahun 1955-1956
·    Dalam Kongres  Kebudayaan tahun 1960 di Bandung, mendapat Hadiah Sastra Nasional  untuk kumpulan cerita pendeknya yang berjudul  Sebuah Rumah Buat Hari Tua
·    Tahun 1975 mendapat Cultural Award dari Pemerintah Australia
·    Tahun 1993 mendapat Hadiah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia
·    Tahun 1994, terpilih sebagai salah seorang dari Sepuluh Putra Sunda yang membanggakan daerahnya
·    Tahun 1988, sejumlah sahabatnya di Bandung mengadakan peringatan Ajip Rosidi 50 Tahun dengan menerbitkan buku Ajip Rosidi Satengah Abad
·    Tahun 1999 mendapat Kun Santo Zui Hoo Shoo (Order of the Sacred Treasure, Gold Rays with Neck Ribbon) dari pemerintah Jepang
·    Tahun 2003 memperoleh Hadiah Mastera dari Brunei
·    Tahun 2004 mendapat Professor Teeuw Award dari Belanda
·    Tahun 2005, Paguyuban Panglawungan Sastera Sunda (PPSS) di Bandung menyelenggarakan acara dramatisasi, musikalisasi puisi, dan diskusi buku Ayang-ayang Gung dalam rangka 67 Ajip Rosidi (31 Januari 2005)
·    Tahun 2007 mendapat Anugrah Budaya Kota Bandung 2007
·    Mendapat Anugerah Hamengku Buwono IX 2008 untuk berbagai sumbangan positifnya bagi masyarakat Indonesia di bidang sastra dan budaya
·   
4.  Chairil Anwar

“Si Binatang Jalang” dari Medan. Chairil dikenal seorang penyair angkatan 45 yang berpikiran revolusioner. Melalui goresan penanya dia menuliskan keresahan hatinya terkait kemerdekaan Indonesia, kematian, indovidualisme bahkan multi-intrepretasi.

Diperkirakan dia telah menuliskan 96 karya, 70 diantaranya puisi. Berkat puisi-puisinya, dia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin dinobatkan oleh HB. Jassin sebagi pelpor Angkatan 45 puisi modern Indonesia.

Hidup dari keluarga pejabat tidak lantas membuat hidupnya bahagia. Ayahnya Toeloes yang seorang Bupati Inderagiri, Riau bercerai dengan Saleha, ibunya. Dinamika hidup Chairil cenderung keras kepala.

Chairil hanya sempat merampungkan studinya sampai tingkat MULO saja. Di usia 18 tahun dia banting setir bertekad menjadi seniman.
·    Kumpulan Puisi Chairil Anwar

    * Deru Campur Debu (1949)
    * Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
    * Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
    * "Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh        Sapardi Djoko Damono (1986)
    * Derai-derai Cemara (1998)
    * Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
    * Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck


5.  Buya Hamka

Buya Hamka dikenal sebagai ulama, politikus serta penulis terkenal Indonesia. Sosok relijius kelahiran Desa Molek, Meninjau, Sumatera Barat 1908 ini adalah seorang putra ulama besar Minang Syekh Abdul Karim bin Amrullah.
Meskipun hanya mengenyam pendidikan formal sekolah dasar di Maninjau. Hamka luas akan pengetahuan terutama keagamaan, berkat penddidikan informal yang didapatnya selama di kamung halaman. Haji Abdul Malik Karim atau disingkat Hamka pernah bekerja sebagai wartawan tahun 1920-an di surat kabar Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Suara Muhammadiyah. Dari tangan seorang wartawan ini lahirlah karya sastra yang menggugah seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Merantau ke Deli.

Selain aktif menulis Hamka juga merintis karir di organisasi Muhammadiyah. Dia terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia. Namun 1981 Hamka mengundurkan diri karena nasihatnya tidak didengarkan oleh pemerintah.

6.  Emha Ainun Najib

Emha Ainun Najib atau akrab dipanggil Cak Nun seorang budayawan intelektual asal Jombang, Jawa Timur. Pendidikan formal ditempuh di Pondok Modern Gontor-Ponorogo, SMA Muhammadiyah I Yogyakarta. Dan sempat di fakultas Ekonomi UGM yang hanya beberapa semester.
Penguasaan sastranya banyak diambil dari guru teladannya Umbu Landu Paranggi. Seorang sufi yang merantau di Malioboro.

Selain teater, Cak Nun juga adalah seorang penulis buku dan aktif di kelompok musik arahannya, Musik Kiai Kanjeng, yang selalu membawakan lagu-lagu sholawat nabi dan syair-syair religius yang bertema dakwah. Selain itu, Cak Nun rutin menjadi narasumber pengajian bulanan dengan komunitas Masyarakat Padang Bulan di berbagai daerah.
KARIR
·    Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970)
·    Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976)
·    Pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta)
·    Pemimpin Grup musik Kyai Kanjeng
·    Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media

back to top