Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

GBPH Prabukusumo,Yogya dan matakuliah budaya Yogya

GBPH Prabukusumo GBPH Prabukusumo

Jogja-KoPi| GBPH Prabukusumo adalah putra Sultan Hamengkubuwono IX dari ibu KRA Astungkara putri Raden Lurah Ranasaputra dan Sujira Sutiyati Ymi Salatun. Beberapa waktu lalu, namanya menjadi bagian tak terpisahkan di media massa setelah diumumkannya "Sabda Raja" oleh Sultan Hamengkubuwono X yang kontroversial. Selanjutnya, Paguyuban Trah Ki Ageng Giring-Ki Ageng Pemanahan secara kontroversi pun melakukan penobatan GBPH Prabukusumo sebagai Sultan.

Penobatan itu sendiri merupakan bentuk protes terhadap Sultan Hamengkubuwono X yang dianggap telah merusak paugeran (aturan) Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat dan merupakan soko guru dari kebudayaan Yogyakarta dan dianggap telah mengkhilafi warisan budaya bangsa Indonesia.

Sebagai salah satu pangeran yang memiliki hak waris tahta Keraton Ngayogyakarto, GBPH Prabukusumo dipandang banyak kalangan memiliki visi yang baik sebagai pemimpin Yogyakarta. Diantaranya adalah komitmen GBPH Prabukusumo terhadap kebudayaan Yogyakarta yang saat ini mulai tergerus.

Dalam sebuah wawancara dengan KoranOpini[dot]Com, GBPH Prabukusumo mengatakan bahwa Yogyakarta memiliki pondasi kebudayaan yang kuat sejak awal berdirinya Keraton Ngayogyakarta 259 tahun lalu. Keraton atau Raja memiliki garis kebijakan yang lebih mengutamakan kepentingan rakyat dan tidak konfrontatif.

Seperti halnya dilakukan oleh Sultan Hamengkubuwono VIII ketika menaggapi semangat reaksi perlawanan Raden Darwis atau KH Ahmad Dahlan pendiri Muhamadiyah terhadap Belanda. Gairah yang membara terhadap perlawanan itu kemudian diarahkan pada bentuk pelayanan terhadap rakyat Yogyakarta dengan membuka sekolah-sekolah Muhammadiyah dan rumah sakit.

"Beliau (Sultan HB VIII) kemudian mengirim Raden Darwis (KH Ahmad Dahlan) sekolah ke Mekah untuk belajar agama. Setelah pulang, Raden Darwis membuat sekolah dan rumah sakit melalui Muhamadiyah yang kemudian didirikan. Hal itu dipandang eyang kami sebagai yang terbaik, karena toh kalau melawan secara fisik kecil untuk bisa menang." Cerita GBPH Prabukusumo.

Yogyakarta, masa kini dan mendatang, menurut GBPH Prabukusumo harus senantiasa dijaga sebagai warisan budaya nusantara. Bahkan, semua bekas kerajaan yang ada di nusantara sebaiknya dihidupkan sebagai warisan bangsa yang tidak boleh dimatikan.

"Toh tidak ada ruginya bagi pemerintah. Bahkan pemerintah akan mendapatkan devisa dari dampak wisata yang ada," jelasnya.

Menanggapi keresahan masyarakat atas kemacetan yang terjadi serta ancaman rusaknya tata kota Yogyakarta, GBPH Prabukusumo hanya mengatakan pada satu sisi itu merupakan indikasi kemajuan ekonomi Yogyakarta yang banyak mengundang banyak masyarakat datang. Di sisi lain, ia juga prihatin karena tidak ada solusi bagi tertatanya ruang kota.

"Gimana lagi, mau bikin parkir di bawah alun-alun juga tak boleh."

Mata Kuliah Budaya Yogya

Yogyakarta, bagaimanapun keadaannya sekarang, merupakan kota yang senantiasa dirindu masyarakat luar. Hal demikian ini, menurut mantan Ketua DPD Partai Demokrat Yogyakarta ini adalah masih kuatnya roh kebudayaan Jawa dalam masyarakat Yogyakarta.

Namun, berjalannya waktu yang membawa perubahan global seringkali juga merisaukan eksistensi kebudyaan Yogyakarta. Menurutnya, untuk menjaga itu semua dan pentingnya masyarakat luar Yogyakarta yang tengah bersekolah bersenyewa dengan kebudayaan Yogyakarta, adalah baik bila mereka mendapatkan pengetahuan tentang budaya Yogyakarta.

"Keraton terbuka untuk memberikan ruang dan materi pengetahuan kebudayaan, bahkan latihan kepemimpinan," ujarnya.

GBPH Prabukusumo juga menyarankan agar semua sekolah tinggi di Yogyakarta memberikan mata kuliah budaya Yogyakarta pada mahasiswanya. Setidaknya ada kuliah umum budaya Yogyakarta untuk semua mahasiswa Yogyakarta secara rutin. Hal-hal semacam ini ia menyepakati karena memang itu baik buat tegaknya budaya Yogyakarta.| Ranang Aji SP| Winda Efanur FS

back to top