Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

Franziska Fennert di antara tegangan Timur-Barat

​photo oleh Roni Wibowo ​photo oleh Roni Wibowo

Franziska Fennert, adalah serupa keteduhan hutan belantara di pinggiran Rostock Jerman utara. Ia mungkin juga adalah cara pandang Timur yang spiritual dan sekaligus cara pandang Barat yang rasional. Semua itu selaras dalam karya-karya rupanya yang menegaskan garis-garis tafsir transendental seorang humanitarian sejati. Franziska Fennert, sesungguhnya di antara tegangan Timur dan Barat.

Gelbensande, 1984. Franziska Fennert lahir dalam keteduhan alam. Sebuah Kastil, Jagdschloss Gelbensande di Rostock yang megah dan rerimbunan hutan belantara adalah saksi dimana ia tumbuh. Desau angin dan kisah-kisah di dalam hutan yang selalu misteri dalam kabut senja dan pagi hari yang terserap dalam memori. Perburuan suka cita Großherzog Friedrich Franz III dan duka cita binatang buruan di masa lalu adalah senyawa kengerian yang membahagiakan sekaligus kedukaan dalam banyak ingatan.

​Hutan dan lingkungan tenang, tetapi sesungguhnya di rumahnya tidaklah seramah itu. Gejolak batin bergolak seperti halnya kegaduhan dilematik. Orang tuanya mengalami benturan batin sedemikian kuat setelah runtuhnya tembok Berlin dan melemparkannya pada sebuah situasi yang memaksanya masuk dalam sebuah sistem politik yang berbeda sama sekali dengan nilai hidup sosialis yang dipahami sejak kecil di GDR, German Democratic Republik.

"Kami sebagai keluarga memegang nilai-nilai hidup sosialisme yang begitu humanitarian, sosial dan disiplin," kenangnya. "Sistem kapitalisme membuat orang tua saya gelisah dan itu membuat keluarga mengalami shock," tambahnya.

Pengalaman itu bikin Franziska semakin kritis terhadap sistem ekonomi dan politik yang digunakan mayoritas dunia. Pada akhirnya, dunia dongeng dan mythos menjadi satu sisi kuat yang menginspirasi karena nilai spiritualnya dan karena menggunakan arketype manusia​.

"Tetapi di sisi lain mythos dan dongeng (literatur) menjadi tempat dimana saya mengungsikan diri dari realitas yang pada waktu itu sebetulnya ditolak."

Demikianlah, ia tumbuh dalam pengajaran dari sebuah titik kesadaran alam tentang hakekat keberadaan. Ketika ia mulai belajar di Akademi Seni Rupa Dresden, Jerman 2003 -hasratnya menjadi begitu kuat untuk melihat pesona ikone dalam kegelisahan yang spiritual. Karya-karyanya berupa lukisan menunjukkan hasrat seperti itu. 

Akademi Seni Rupa Dresden adalah penerus tradisi dari ​ ilmu visual lama tentang ruang, bentuk dan warna yang terus menerus mempentingkan lukisan sebagai medium walaupun media baru dan karya konseptual memiliki panggung yang lebih lebar di dalam dunia seni kontemporer.​ ​​Di sini, ia menemukan tempat seperti halnya Gelbensande, rumahnya yang tenang namun gemuruh dalam batin.

Usai belajar di Dresden, iapun melakukan perjalanan spiritualnya. Dari Barcelona, Spanyol hingga ke Israel dan Palestina. Ia melihat banyak hal di sana. Tentang apa yang terjadi dari segala keinginan manusia. Tarik menarik antara hasrat berkuasa dan kekalutan yang putus asa dari eksistensi manusia.

"Apa yang saya lihat di sana menguatkan nilai-nilai yang transendental."

Ketika ia mendapatkan kesempatan ke Shanghai, China (2007), kredo seni rupanya menjadi semakin kuat. Ia menemukan gaya teknik kaligrafi China yang kuat dan kekuatan pengetahuan tentang eksistensi kemanusiaan. 

"Ada tegangan yang kuat di dalam teknik garis kaligrafi China. Saya menemukan sesuatu yang selaras dalam setiap proses melukis atau menggambar dengan prinsip spiritual manusia," katanya.

Manusia, baginya, adalah entitas yang seharusnya memiliki timbangan yang ekuilibirium. Satu sisi, ia menerima realitas manusia dengan hasrat ekonomi kapitalistik, tetapi di sisi lain, manusia harus mampu memberikan payung bagi kehidupan yang lebih luas (spiritual) dan transendental secara sosial. Ia memahami kesimbangan seperti itu.

Ketika tahun 2011 dan tengah berada di Indonesia, ia melihat pengalaman bencana Fukushima. Franziska tersadarkan untuk kembali pada realitas dan mengintegrasikan kritik atau mimpi kepada realitas ke dalam karyanya.

"Fukushima menjadi alasan saya kembali ke situasi realitas kini dalam karya. Saya merasa menerima bencana itu sebagai sesuatu yang selayaknya saya tidak ikut bertanggung jawab sepenuhnya. Ketakutan dari perasaan itu mendorong saya untuk kembali melihat realitas."

Maka, dalam wujud bahasa rupa, karya yang disebut Prof Tabrani sebagai Ruang Waktu Datar (RWD) sebagai karya khas Timur, karya-karya Franziska membangun metafora yang indah. Menggugat dengan lembut kekasaran hasrat manusia. 

The Tiger Monitors The Lactating Doe, 2014, misalnya, adalah salah satu karya lukisnya yang memperlihatkan hal itu, seekor harimau besar melihat seekor rusa betina yang matanya tertutup tengah menyusui tiga anak harimau. Sebuah karya yang menggugat tetapi memiliki pesona dan keteduhan.

franzi

Berumah di Indonesia

Tahun 2007 ketika ia ke Indonesia dan melakukan Darmasiswa hingga 2008, ia merasa menemukan sesuatu yang 'klik'. Pesona dan keragaman budayanya membuatnya semakin mengeksplore kebudayaan di Indonesia. Pada saat itu pula ia merasa menemukan tempatnya. Ruang yang menurutnya memberikan kekuatan untuk berkarya sepenuhnya. 

Maka, setelah menyelesaikan master seni rupanya di Akademi  Seni Rupa Dresden tahun 20​09​, ia  mendapatkan beasiswa dari Saxony untuk mengambil Meisterschueler (post graduated studies) selama dua tahun. Kemudian ia pe​kembali ke Indonesia dengan sebuah ​outdoor ​proyek di ​ Artsociates, Lawangwangi​  Bandung tahun 2013, Vision of a Social Evolution --yang pada waktu itu merupakan obyek jahit terbesar yang pernah direalisasikan​ .

Usai proyek tersebut, Franziska mulai menggelar pelbagai pameran tunggal ​ dengan dukungan Goethe Institut Jakarta dan pameran kelompok termasuk Artchipelagi di Galeri Nasional dan Sequence di NuArt sculpture park/museum di Bandung dan ARTJOG. Ia pun kemudian memutuskan berumah di Indonesia. Menikahi pria Indonesia dan membesarkan anaknya di Indonesia.

Franziska Fennert beberapa kali mendapatkan penghargaan seperti ​dukungan untuk proyek Vision of a social evolution oleh Federal Foreign Office of Germany, 2009-11 Sächsisches Landesstipendium des Freistaates Sachsen Regional Grant of Saxony, Germany, support oleh Goethe Institut Jakarta untuk solo exhibition Place the king in the right position di Lawangwangi​ dan Sangkring Gallery. Saat ini, Franziska Fennert tengah mempersiapkan pameran tunggal pada tahun 2017.

 

back to top