Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Dr. Setyadewi Lusyati, SpA(K), Ph.D : Bayi Aset Bangsa

Dr. Setyadewi Lusyati, SpA(K), Ph.D : Bayi Aset Bangsa

Jakarta-KoPi, Perempuan cantik dan ramah ini bernama Setyadewi Lusyati (48 ) . Biasa disapa sebagai dokter Lusy. KoPi menemuinya di salah satu ruang Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Tim Dokter Perinatologi NICU (Neonatal Intensive Care Unit) RSAB Harapan Kita Jakarta. Pada tahun 2007, gelar Ph.D ia peroleh dari Universitas Rijks Groningen,Belanda. Dengan Disertasi Neonatal Sepsis in New Born ( Incedence-nfection markers-Antibiotics).

Jauh sebelumnya di tahun 1999 dokter spesialis anak ia dapatkan dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung. Beberapa penghargaan internasional juga mewarnai perjalanan inteletualitasnya. Diantaranya adalah penghargaan atas pendidikan dan riset tentang neotanologi dari Nestlle Nutrition Institute Swistzerland ( 2005 ).

Perbincangan mengalir bersamaan dengan guyur hujan di Jakarta. Dokter Lusy mengawali obrolan dengan bercerita tentang pilihan hidupnya sebagai dokter.

“Saya terinpirasi dan termotivasi ketika membaca buku Florence Nightigale saat masih sekolah menengah pertama. Beliau seorang perawat kebangsaan Inggris yang mendedikasikan hidupnya pada kemanusiaan. Merawat korban-korban perang. Entah mengapa, kemudian saya tertarik juga mengabdikan diri di dunia sosial. Sejak itu saya memutuskan menjadi seorang dokter, “ kisahnya.

Ibu dua anak ini, kemudian bercerita merasa sangat beruntung mendapatkan tempat yang tepat ketika diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya pada tahun 1984. Di sana ia memperoleh banyak tempaan ilmu. Dokter Lusy menyelesaikan studinya dan memperoleh profesi dokter di tahun 1990.

Setelah menjadi dokter, ia memilih Timor-Timur menjadi wilayah pengabdian awalnya. Pilihan ini tidak saja membuatnya menjadi lebih merasa dekat dengan masayarkat kecil pinggiran, namun juga menjadi memudahkannya mendapatkan jenjang keilmuan yang lebih tinggi. Di tahun 2001 setelah menyelesaikan pendidikan spesialis anak, Dokter Lusy bertugas di Ende, Flores sebagai dokter anak. Kemudian masih ditahun 2002 hingga sekarang ia mulai bertugas d RSAB Harapan Kita Jakarta.

Aset Bangsa

Neonatalogy, jelas dokter Lusy, merupakan bagian dari pedriati (ilmu kesehatan anak) yang khusus menangani bayi awal lahir hingga usia 28 hari. Bayi-bayi yang membutuhkan penangan khusus karena pelbagai hal termasuk bayi prematur. Mereka membutuhkan perlakuan dan perawatan khusus.

Di Indonesia, RSAB Harapan Kita adalah rumah sakit yang memiliki dokter yang senantiasa stand by selama 24 jam, ujar dokter Lusy.

“kebijakan ini sudah ditetapkan sejak tahun 1990-an lalu oleh RSAB Harapan Kita,” jelasnya. “Rumah Sakit mewajibkan dokter jaga selama 24 jam,” tambahnya.

Menurutnya kebijakan ini berbasiskan pada kesadaran kita bahwa bayi merupakan aset sebuah bangsa yang harus dijaga secara intensif. Tetapi, idealnya semua rumah sakit mestinya seperti itu. Kerja dokter adalah kerja kemanusiaan yang harus peka dan punya empati terhadap penderitaan orang lain.

“Bayi itu adalah tunas bangsa. Mereka adalah calon-calon pemimpin bangsa. Kita mesti peduli dan memahami bahwa banyak kemungkinan baik lahir untuk bangsa ini bersamaan dengan lahirnya bayi-bayi ini. “

Namun, sayangnya masih banyak orang tua di Indonesia yang belum memahami betapa riskanya bayi yang baru lahir. Bahkan banyak diantara mereka, diantara orang-orang kaya bersikap pelit terhadap kesehatan bayi mereka.

“Untuk itu kita harus senantisa melakukan kampanye kesadarankepada masyarakat luas betapa pentingnya peran dokter dalam kehidupan, di dalamnya ya pediatri dan Neotalogy dalam menjaga aset-aset bangsa ini.”

Lebih dari dua puluh tahun mengabdi sebagai dokter, dokter Lusy punya harapan besar terhadap dunia kedokteran Indonesia yang lebih baik. Terutama peran pedriaty dan neotalogy dalam menjaga kesehatan anak-anak Indoneisa. Menjaga kesehatan anak sama halnya menjaga masa depan bangsa.**

back to top