Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Doni Suwung, Nyanyian Satu Moyang

Doni Suwung, Nyanyian Satu Moyang

Doni Suwung, anak Sanggar Suwung di Jogja. Perjalanan komunalnya selama lebih dari 13 tahun mempertemukan banyak seniman dan pemikiran, termasuk Sawung Jabo. Pada tahun ini, ia merangkum album musik sebagai buah perenungannya terhadap kehidupan. Satu Moyang, demikian nama album musiknya.

KoPi| Dia memiliki nama lengkap R. Haryo Dwi Hardono  atau akrab dipanggil Doni Suwung. Nama ‘Suwung’ sendiri nama sebuah sanggar seni yang berdiri tahun 1990-an. Doni yang aktif  ke luar mencari pengalaman baru sehingga orang mengenalnya sebagai Doni Suwung, alias Doni dari sanggar Suwung.
     
Semenjak kecil naluri keseniannya sudah tampak meskipun tidak mengalir darah seni dari keluarganya. Keluarganya sangat biasa dan sederhana. Setelah menamatkan sekolah menengah atas lelaki kelahiran Cirebon ini merantau ke Jogjakarta pada tahun 1994.

Doni sempat tercatat menjadi mahasiswa ASDRAFI, sebuah sekolah drama dan film namun tidak selesai. Tidak mudah memang menjalani kehidupan di perantauan. Desakan ekonomi yang menghimpit mengharuskan Doni bekerja ekstra guna membiayai hidup.

Dalam kondisi rapuhnya itu Doni pun segan meminta bantuan dari keluarga. Doni gantungkan hidupnya pada tangannya sendiri.  Laksana satria bergitar Doni membelah jalanan kota, mendedangkan lagu dari sudut ke sudut kota Yogyakarta. Namun hal itu sangat disyukurinya, Jogjakarta menawarkan lautan pengalaman yang luas. Gelisah kesenian yang tertanam dalam dirinya begitu mudah tersalurkan. Dalam beberapa komunitas, Doni mengaktualisasikan dirinya dengan bermain teater, menari, membatik, menggambar, dan bermusik.

Selain itu gairah kesenian didapatkan dari berguru kepada seniman Malioboro, UKM- UKM kampus dan beberapa sanggar. Hingga  akhirnya Doni bertemu dengan komunitas Sawung Jabo milik pelukis, Sudargono. Komunitas yang paling nyaman bagi Doni. “Aku banyak dapat inspirasi dari mereka. Jalan bareng, akhirnya kita punya kecocokan, aku nyantri. Aku dapat makna hidup, dan kesenian di sana”, kenang Doni.

Jalur Musik
Doni banyak menjajagi dunia kesenian dari teater, melukis dan menari. Beralih pentas dari satu panggung ke panggung lainnya. Kelarutan hiruk pikuk kesenian akhirnya menuntunnya menempuh jalur seni musik. Pada tahun 2008 Doni memutuskan keluar dari komunitas Sawung Jabo- dia ingin menempuh jalan sendiri dan berkarya sendiri.

Doni memilih aliran musik Ballada. Sebuah genre musik yang menitikberatkan pada problema sosial. Memiliki daya pikat yang kuat pada lirik-liriknya. Ballada menurutnya sebuah eksistensi diri yang jujur tentang segala peristiwa yang telah dialaminya.

“Ini perjalanan hidup aku, apa yang aku rekam dan apa yang aku jalani, ini sesuai dengan jalan hidup aku. Bentuk pengungkapan diri,- kejujuran diri dari karya itu. Dan juga kisah-kisah di dalamnya”, papar Doni.

Salah satu album yang rampung digarapnya “Satu Moyang”. Dalam waktu dekat album ini akan dilaunching. Album Satu Moyang berisi sekitar enam lagu. Album “Satu Moyang” menceritakan sebuah lagu nasionalisme tentang persoalan negeri. Generasi yang akan menjaga negeri ini. Doni mengkritik minimnya lagu- lagu nasionlais saat ini. Kebanyakan lagu yang beredar di pasaran tentang lagu cengeng jatuh cinta dan putus cinta.

“Generasi saat ini kurang tangguh, maunya instan. Proses yang ga mau susah, padahal jaman dahulu kalau mau sukses kudu nggetih, nek ora nggetih ra dadi (mau berdarah-darah, kalau tidak, ya tidak jadi)”, kritik Doni.

Doni tidak berharap muluk-muluk tentang lagunya. Dia hanya ingin berkarya dan lagunya mampu menginspirasi semua orang.

Lirik Satu Moyang

Dari tanah yang subur,
Kami goreskan
Cerita kehidupan
Dari air yang jernih
Kami jalankan keinginan
Dari pulau yang beda kami bersatu
Untukmu negeri kami tercinta
Hilangkanlah rasa benci
Untuk kedamaian yang abadi
Dari darah satu moyang
Untuk membangun bangsa
Anak-anak negeri berjalan menatap hari
Menyongsong penuh harapan untuk esok hari
Kami generasi yang hidup di bumi ini
Tanah ku pertiwi yang kan menjaga negeri

(Lagu Satu Moyang menceritakan sebuah perjuangan anak nelayan di Pulau terpencil Sulawesi. Penduduk pulau itu tidak lebih dari 10 KK. Anak-anak nelayan punya semangat hidup yang tinggi. Demi bersekolah mereka harus menempuh waktu tujuh jam perjalanan. Enam jam berjalan di darat, satu jam sisanya untuk menaiki rakit atau kapal. Kerasnya perjuangan meraih cita-cita untuk hidup yang lebih baik).
  

back to top