Menu
Kemenperin ajak siswa masuk Sekolah Kejuruan Industri

Kemenperin ajak siswa masuk Sekolah…

Jogja-KoPi|Kementerian ...

Mahasiswa Sistem Informasi Pelajari Komunikasi Interpersonal

Mahasiswa Sistem Informasi Pelajari…

Sleman-KoPi| Lulusan dari...

Polisi Yogyakarta gunakan kuda untuk patroli di tutup tahun 2017

Polisi Yogyakarta gunakan kuda untu…

Jogja-KoPi|Kepolisian R...

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald Trump sebagai orang gila

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald T…

Sleman-KoPi| Buya Ahmad...

Taiwan Higher Education Fair UMY tawarkan beasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Taiwan

Taiwan Higher Education Fair UMY ta…

Bantul-KoPi Universitas...

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota ciptakan Skema Pembiayaan Terintegrasi

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota cipta…

Surabaya-KoPi| Sekdapro...

Mendikbub belum berlakukan UN model esai

Mendikbub belum berlakukan UN model…

Jogja-KoPi|Menteri Pend...

Muhammadiyah menyatakan sikap terkait bencana lingkungan

Muhammadiyah menyatakan sikap terka…

Bantul-KoPi| Majelis Li...

Mendikbud meresmikan Museum dan Galeri Tino Sidin

Mendikbud meresmikan Museum dan Gal…

Jogja-KoPi|Menteri Pend...

Para orangtua harus pahami kebutuhan anak difabel

Para orangtua harus pahami kebutuha…

Bantul-KoPi|Pola asuh ana...

Prev Next

Teknologi dari Tuhan yang tidak tertandingi Featured

Foto: dr. Dini Adityarini, Sp.A saat memberi seminar dan bedah buku MCM (Merawat Cinta Mungil) di hadapan sekitar 1000 bidan Jawa Timur di Kota Malang Foto: dr. Dini Adityarini, Sp.A saat memberi seminar dan bedah buku MCM (Merawat Cinta Mungil) di hadapan sekitar 1000 bidan Jawa Timur di Kota Malang

"Jangan menunggu terlalu lama terpisah. Sebab fase persentuhan dibutuhkan untuk merajut sistem syaraf ‘cinta’ antara ibu dan cinta mungil"


oleh: dr. Dini Adityarini, Sp.A


Dulu selama awal menjalani sebagai dokter, aku selalu bertanya tentang satu hal. Apakah proses merawat dan menyembuhkan kesehatan hanya ditentukan oleh prosedur medis yang ketat? Ya, prosedur medis ketat adalah faktor fundamental. Akan tetapi prosedur-prosedur itu benarkah telah sempurna? 

Tanya itu makin berpusar di ruang hati ketika menjadi dokter spesialis anak. Seorang ibu melahirkan melalui proses sectio caesar dan bayinya harus dibawa terpisah di ruang perawatan intensif NICU ( Neonausl Intensive Care Unit), misalnya, secara prosedur medis ketat harus terpisah dari cinta mungil. Pengalamanku menangani ini, entah berapa kali sejak tahun 2006, prosedur medis ketat menciptakan fenomena pada ibu dan cinta mungil.

Fenomena itu muncul dalam bentuk kondisi psikologis, emosional, dan perilaku. Ibu yang terpisah dari cinta mungilnya cenderung kehilagan kepercayaan diri untuk ‘menyentuh’ buah hatinya. Pada cinta-cinta mungil, ada gerak atau gesture yang kurang cepat merespon.

Fenomena itulah yang mendorongku sering berbeda dalam penanganan paska ibu melahirkan di ruang NICU. Aku berusaha langsung mendekatkan cinta mungil yang baru saja terlahir pada sang ibu. Membantu keduanya dalam persentuhan pertama setelah kelahiran.

Beberapa kulakukan, dan yang kusaksikan sungguh menakjubkan. Wajah ibu memperlihatkan cahaya kerinduan, sama halnya cinta mungil yang langsung terhubung kembali. Seolah dua kekasih yang terpisah ribuan tahun. Bahasa prosedur medis modern yang ketat mungkin tidak akan menjangkaunya, sebab prosedur bisa saja mengabaikan kekuatan sentuhan.

Sentuhan tidaklah proses biologis semata. Ini mungkin kunci dari Allah bagaimana ruh cinta mengalami proses perajutan sangat mendasar. Perajutan cinta itu menghidupkan sistem syaraf yang bahasanya tidak tertangkap oleh mikroskop. Sistem yang mungkin menentukan salah satunya bagaimana ASI bisa diproduksi secara lancar dan tersalur pada cinta mungil tanpa halangan.

Proses persentuhan ini sesungguhnya, kuyakini, merupakan narasi ultra-ilmiah dari Tuhan. Tujuannya agar ASI bisa terserap. Bagiku ini merupakan alasan paling penting mengapa Tuhan menciptakan proses persentuhan cinta. Alasan itu adalah ASI merupakan jawaban paling ilmiah dari sisi apapun.

Suatu ketika akhir tahun 2015, aku mengikuti konferensi internasional dan workshop untuk para dokter anak dan obgyn bertajuk  Kongres JENS (Joint European Neonatology Soceity) di Budapest. Para pakar dan dokter Eropa hadir di sana.

Sungguh, Allah menjawab pertanyaan-pertanyaanku selama ini. Pakar kesehatan anak itu bernama Richard Kuhn dan Paul Gyorgy. Mereka menemukan hal penting dari pertanyaanku, bahwa ASI mengandung zat yang dinamakan "Bifidus factor" atau "Gynolacyosa" atau "Human Milk Oligosaccharides (HMO)".

HMO hanya ada dalam ASI.  Sebab konsentrasi oligosakarida pada susu sapi (yang dipakai sebagai dasar susu formula), kambing, domba dan babi hanya seperseribu dari kadar di ASI. HMO mempunyai fungsi-fungsi terlampau penting untuk diabaikan.

Dokter Lars Bode seorang dokter anak neonatologi dan juga ahli gastroenterologi menyebutnya sebagai POSTULAT HMO Effect. Ada 5 fungsi utama dari postulat itu*:


1. HMO sebagai prebiotik. Ini akan menumbuhkan bakteri baik (bifidobacterium) dalam usus bayi sehingga bakteri patogen tertekan pertumbuhannya.

2.HMO sebagai antiadhesive antimicrobial yang akan mencegah perlekatan mikroba pathogen.

3.HMO secara langsung mempengaruhi sel2 epitel usus sebagai modulator cell response.

4.HMO sebagai Imunomodulator yang akan mencegah bayi dari reaksi alergi (menyeimbangkan fungsi Th1 dan Th2).

5.HMO melindungi bayi bayi prematur dari kerusakan epitel usus (Necrotizing Enterocolitis)

6. HMO mengandung Sia (Sialic Acid) yang merupakan nutrisi penting untuk perkembangan otak.

Susu formula tidak bisa menyediakan HMO seperti yang terdapat dalam ASI. FOS (Fructooligosaccharides) dan GOS (Galactooligosaccharides) yang ditambahkan pada susu formula mempunyai struktur kimia yang sama sekali berbeda dengan HMO.

Nah, tantangan selanjutnya tidak hanya pada dimensi mengapa ASI menjadi alasan paling penting bagi pertumbuhan bayi. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana para ibu dan ayah memilih ASI daripada susu formula. Kunci itu adalah persentuhan awal antara ibu dan cinta mungil. Jangan menunggu terlalu lama terpisah. Sebab fase persentuhan dibutuhkan untuk merajut sistem syaraf ‘cinta’ antara ibu dan cinta mungil.

*) Disadur dari Review yang ditulis oleh Lars Bode, Human Milk Oligosaccharides :Every Baby needs a sugar mama, Glycobiology vol 22 April 2012)

back to top