Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Pengabaian terhadap bayi prematur

foto: www.huffingtonpost.com foto: www.huffingtonpost.com

Ada dokter spesialis anak yang menyesatkan para ibu. Yaitu dengan menjauhkan ASI dari bayi prematur. Akibatnya, sel otak mengalami kerusakan jangka panjang dan daya tahan tubuh lemah. Tahun 2012, WHO melaporkan 15 juta kasus bayi prematur dan 1 juta meninggal akibat komplikasi setiap tahunnya. Salah satu faktornya adalah asupan ASI yang kurang. Bayi tanpa mendapat ASI, sama halnya menganiaya kehidupannya.

Sesungguhnya menyayangi anak adalah sifat alami insan. Anak adalah titipan Tuhan yang perlu dijaga, dilindungi dengan kasih sayang, dan dipeluk dengan kehangatan. Berbagi kasih penuh kecintaaan, penuh makna bahagia pada anak jua merupakan bentuk syukur terhadap karunia Tuhan. Sebagai karunia yang menghidupkan biduk rumah tangga. Oleh karenanya, sang ibu dan ayah harus merawat anak apapun halangannya.

Dimensi ruh cinta

Merawat anak si buah hati membutuhkan kesabaran dan keluasaan perasaaan. Dokter spesialis anak, dr. Dini Adityarini, SpA. memulai cinta dari hal yang makin dilupakan pada konteks masyarakat modern. Yaitu menyusui. Ketiga anaknya mendapatkan air susunya sehingga tumbuh sehat dan ceria.

Kini, dokter spesialis anak di salah satu rumah sakit kota Surabaya tersebut mewujudkan cinta pada anak dengan cara mengajak para ibu memberikan ASI kepada buah hati. ASI adalah sesempurnanya cinta. Berisi nutrisi yang selalu sesuai dengan kondisi buah hati.

Desakan raksasa bisnis susu formula makin kuat, merayu dan memaksa. Namun demikian, dr. Dini menyeru pada keteguhan. Tidak sedikit dokter spesialis anak yang menjadi bagian dari gurita bisnis susu formula, dan kenyataan itu merupakan salah satu halangan tersbesar. Sebagai dokter spesialis anak yang ingin generasi mendatang tumbuh sempurna, ia harus tegar di tengah badai cibiran. Mesti bertahan pada keyakinan dan berupaya melawan kampanye susu formula yang menyesatkan.

Menumbuhkan kemauan dan kehendak para ibu dalam pemberian ASI merupakan proses terjal. Tidak mudah, dan membutuhkan kehati-hatian. Menurut dr. Dini, proses terjal tersebut bisa dilewati oleh ruh cinta yang bekerja secara lembut dan perlahan.

Ada empat dimensi dari ruh cinta, yaitu mengerti perasaan ibu, melindungi perasaan ibu dari rasa takut atau ketidakpercayaan diri, meniupkan pengetahuan tentang ASI, dan memberi dukungan selama proses penyusuan. Empat dimensi ruh cinta tersebut yang selama ini dilakukan Dini terhadap para ibu yang menjadi pasiennya.

Tentu Dini tidak bisa bekerja sendirian. Oleh karena itu, bersama para dokter yang memiliki pemahaman dan cita-cita yang sama, proses meniupkan ruh cinta ASI terhadap para ibu dikerjakan bersama. Dimensi pengetahuan dari ruh cinta, salah satunya informasi terkait pentingnya ASI untuk bayi prematur.

ASI dan bayi prematur

Setiap orang tua berharap sang buah hati lahir tepat waktu dan sehat. Namun demkian kasus bayi prematur tidak sedikit. Faktor penentunya bisa bermacam-macam tergantung pada kondisi ibu. Bayi prematur rentan sakit, lemah, dan tak sempurna. Orang tua akan terlilit kesedihan, tersudut pada ketakutan masa depan buah hati. Sebagai realitas, reaksi orang tua tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa pengetahuan tentang ASI tidaklah mencukupi.

Bayi terlahir prematur, tidak akan menemui masalah jika dokter memberikan inisiasi menyusui ASI sejak dini. Namun, ironi memang karena saat ini banyak Dokter yang lupa akan kemuliaan tugasnya dan memilih berserah pada susu formula sehingga bayi-bayi prematur terancam ketahanan tubuhnya. Daya tahan bayi tidak terbangun kuat karenanya. Dini menyadari bahwa sebagian masyarakat masih belum mengetahui kekuatan ASI sebagai pencegah kerusakan otak permanen pada bayi prematur yang otaknya belum tumbuh optimal.

Pada bayi prematur, resiko terjadi sepsis dan NEC itu jauh lebih rendah sehingga menurunkan angka kematian bayi. Kalori dari ASI ibu yang bayinya prematur itu lebih tinggi dari ibu yang lahirnya normal karena bayi prematur membutuhkan kalori yang lebih banyak daripada bayi biasa. Memberikan ASI terhadap bayi prematur juga memberikan waktu pengosongan lambung dan internal feeding lebih cepat sehingga nutrisi bagi tubuh bayi lebih cepat diserap.

Begitu mulianya ASI, menjaga bayi-bayi yang lahir prematur agar tetap dapat merasakan anugerah Tuhan berupa nafas, kasih dan sayang dari orang tua serta bertumbuh kembang tanpa adanya kerusakan sel otak. Memang kerusakan sel otak tidak dapat dilihat dalam tempo yang singkat, kerusakan otak akan terlihat dalam jangka waktu yang lama. Pemberian susu formula pada bayi prematur dapat menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang kemudian terakumulasi yang dapat menjadi berbahaya bagi bayi tersebut.

Orang tua mana yang tega melihat buah hatinya mengalami kerusakan sel otak dan tumbuh tidak sempurna? Jika ibu masih bisa memancarkan ASI, cintai para buah hati dengannya. ***

 

Reporter : Aditya Lesmana

back to top