Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

ASI: Cinta yang mengerti

ASI: Cinta yang mengerti dr. Dini Adityarini, SpA

ASI memancar dari lubuk cinta, membagi nutrisi penuh manfaat kepada bayi agar tumbuh sehat. Artikel dalam rubrik Untukmu Cinta ini merupakan sari pemikiran dokter spesialis anak dari Kota Surabaya, dr. Dini Adityarini, SpA yang selalu berharap agar anak-anak selalu sehat, cerdas, dan tumbuh secara alami. Dokter Dini, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa harapan tersebut bisa bertumpu pada air susu ibu (ASI). Baginya, ASI adalah zat yang paling mengerti pemberian Tuhan kepada manusia.
 

Bayi akan melewati hari-hari pertumbuhan pada tubuh dan jiwanya. Tumbuh sebagai insan yang penuh daya imajinasi terhadap dunianya. Imajinasi yang menggambarkan betapa dia, sang bayi, tumbuh cerdas. Bayi mungil yang bergerak bebas karena otak yang sempurna. Namun tahukah bahwa hanya ASI merupakan materi yang membuat otak tumbuh sempurna dan tidak mengalami kerusakan dalam jangka panjang?

Sang cinta

ASI adalah nutrisi sempurna, terbaik dan murni. Bersumber dari kasih sayang ibu kepada bayinya. Air susu yang memiliki unsur nutrisi bagi perkembangan fisik dan sekaligus membangun ikatan perasaan terkuat. Bayi tidak saja cerdas, namun diberkahi oleh kedekatan kepada sang ibu dan lingkungannya. Sayangnya, budaya dan modernisme industrial yang kini menjadi tata kehidupan masyarakat telah menyebabkan banyak ibu membuang air susunya sia-sia. Tak ada tetesan zat sempurna bagi bayi mungilnya. Sebab telah tersublim dalam segala kesibukan, dan pula ada rasa enggan menyusui bayi.

Susu formula, yang diproduksi industri modern, menggantikan air susu dari ibu. Indonesia dengan geliat perkembangan modernisme industrialnya merupakan surga bagi peredaran dan penggunaan susu formula. Bayi mendapatkan asupan susu yang tidak sempurna hasil olahan yang memiliki efek samping. Dokter Dini berduka pada kenyataan ini. Kerugian akan diderita oleh anak dan ibu itu sendiri. "Susu formula tidak bisa menggantikan air susu dari ibu. Kenyataan yang menyedihkan bahwa susu formula dianggap sepadan dengan ASI".

Perilaku penggunaan susu formula secara membabi buta seringkali bersumber dari kurangnya pengetahuan substantif tentang air susu dari ibu. Susu formula menjadi pahlawan dalam dunia modernisme industrial yang sangat sibuk. Para bayi tidak lagi menangis, kenyang dan tidur nyenyak. Efek samping tidak lagi dipikirkan. Efek samping yang menjadi noktah gelap, sesungguhnya, pada masa depan ibu dan anak.

Para ibu semestinya peka pada kemungkinan buruk dari penggunaan susu formula. Sayang sungguh sayang, para ibu yang semestinya mendapat pengetahuan dan terbangun keyakinannya untuk memberikan air susunya makin tersuruk gelap. Mereka makin kehilangan kesadaran, bahkan mata air kasih sayang. Hal tersebut bersumber dari sebagian tenaga medis, dokter, atau perawat yang membenarkan susu formula.

Pada negara maju seperti Jepang peredaran susu formula hanya dibatasi 2 (dua) produk saja. Cara mendapatkan susu formula pun sungguh sulit dengan menggunakan resep dokter. Kebijakan pemerintah Jepang berbasis pada pengetahuan dan visi bahwa ASI adalah zat paling sempurna untuk bayi. ASI harus menjadi prioritas utama walaupun para ibu di Jepang sangat sibuk dalam dunia modernisme industrial.

Protein khusus

Kesempurnaan ASI salah satunya dari kandungan protein khusus bernama Heat Shock Protein 70 (HSP70). Protein HSP70 adalah senyawa nutrisi pencegah terjadinya kerusakan otak yang tidak terlihat dalam jangka pendek. Dokter Dini Adityarini menjelaskan bahwa protein khusus HSP70 yang hanya ada dalam ASI mampu mencegah kerusakan white matter pada otak. Para orang tua, ibu, harus tahu bahwa kerusakan otak itu tidak bisa dilihat dalam jangka pendek.

White matter merupakan jaringan penghubung antar syaraf dalam otak. Apabila terjadi kerusakan pada white matter anak, maka dampaknya akan mulai terasa pada masa yang akan datang. Kerusakan pada white matter dalam jangka panjang akan dapat memicu terjadinya developmental delay. Developmental delay dapat menyebabkan terjadinya keterlambatan pada pertumbuhan cognition (kecerdasan), behavior (perilaku) dan juga speech (bicara). Developmental delay menjadi penghalang masa depan anak.

Kesulitan belajar yang terjadi pada anak juga merupakan indikasi terjadinya gangguan pada white matter, hal ini disebabkan karena white matter merupakan syaraf yang bertanggung jawab pada kognitif anak.

Pada lubuk hati para ibu, pertumbuhan anak yang sehat, kuat dan cerdas adalah harapan paling suci. Para ibu harus menyadari bahwa ASI merupakan zat paling sempurna dan paling mengerti. Pada tahun pertama dimana  pertumbuhan otak bayi mencapai 80 persen, ASI menjadi zat nurtisi paling dibutuhkan. Bayi prematur, terlebih, sangat membutuhkan asupan ASI untuk menjaga pertumbuhan otaknya. ASI mampu mencegah kerusakan otak permanen, terutama pada bayi-bayi yang prematur yang belum terjadi pertumbuhan otak secara optimal pada saat terlahir.

"Jadi, masihkah para ibu dan para calon ibu menganggap bahwa susu formula mampu menggantikan ASI?" ***


Reporter : Aditya Lesmana

back to top