Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Apa sih kelainan refraksi itu?

Apa sih kelainan refraksi itu?
Surabaya - KoPi| Refraksi merupakan kemampuan mata untuk mengolah masuknya cahaya agar jatuh di retina. Cahaya yang jatuh di retina memungkinkan kita untuk melihat. Tanpa adanya refraksi, kita akan mengalami kesulitan melihat suatu benda.

Namun ada kalanya mata manusia mengalami perubahan bentuk sehingga cahaya yang jatuh tidak terfokus pada retina dan menyebabkan gangguan pada penglihatan. Dalam dunia kedokteran mata, hal itu disebut sebagai refractional disorder atau kelainan refraksi. 

Menurut dokter spesialis mata dr. Erry Dewanto, SpM., kelainan refraksi merupakan gangguan penglihatan yang paling banyak diderita di Indonesia. Selama ini, orang Indonesia mengenal kelainan refraksi sebagai rabun jauh dan rabun dekat. Namun, sebenarnya kelainan refraksi tidak terbatas rabun dekat atau rabun jauh saja.

“Kelainan refraksi ini merupakan faktor genetik atau bawaan lahir. Jadi, tidak ada hubungannya dengan aktivitas di tempat gelap,” ujarnya. Dr. Erry menjelaskan, bola mata mengalami perubahan seiring bertambahnya usia, entah bola mata memanjang atau memendek, perubahan variasi kornea, hingga kelainan pada lensa. 

Dokter spesialis bedah katarak tersebut menyebutkan ada 5 jenis kelainan refraksi, yaitu miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), astigmatisma, presbiopia, dan afakia. Rabun jauh terjadi saat cahaya yang masuk ke mata jatuh ke depan retina, karena bola mata memanjang atau lonjong. Sebaliknya, rabun dekat terjadi karena cahaya jatuh di belakang retina, karena bola mata terlalu kecil atau berbentuk pendek, kornea kurang melengkung, atau karena ablasi retina.

Sedangkan astigmatisma merupakan kelainan refraksi di mana sinar datang sejajar tapi tidak fokus pada satu titik, yang diakibatkan karena bentuk kornea tidak sempurna. Hal itu menyebabkan penderita mengalami penglihatan ganda atau berbayang. 

Untuk kelainan refraksi presbiopia lebih dikenal sebagai peyakit mata tua, karena memang disebabkan oleh bertambahnya usia. Semakin tua seseorang, lensa semakin keras dan otot akomodasinya semakin kehilangan elastisitas. Gejala yang dialami antara lain mata mudah lelah, berair, dan terasa pedih.

Terakhir, kelainan refraksi afakia yang disebabkan karena hilangnya lensa mata. Hal itu bisa terjadi akibat kelainan waktu lahir, luka pada mata, atau operasi katarak. Pada penderita katarak yang sudah parah umumnya terjadi pengeruhan lensa, sehingga harus diangkat. Karena itu penderita katarak 

Lalu bagaimana penangannya? Dr. Erry menyebutkan, cara paling mudah dan paling aman untuk mengatasi kelainan refraksi adalah dengan menggunakan kacamata. “Ya yang paling mudah dan aman dengan memakai kacamata. Tapi selain itu ada juga cara lain, seperti bedah LASIK,” ungkapnya.

Dr. Erry menambahkan, kelainan refraksi bukan berarti mata sedang sakit, tetapi mata membutuhkan alat bantu agar dapat melihat dengan jelas. Jika tidak segera ditangani dengan mengenakan kacamata, justru akan menghambat produktivitas. |Amanullah Ginanjar W|

back to top