Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Yayasan Tahija berkomitmen danai EDP Yogya demi Indonesia sehat

Yayasan Tahija berkomitmen danai EDP Yogya demi Indonesia sehat

Jogja–KoPi|Yayasan Tahija bertekad mewujudkan Indonesia sehat. Maka dari itu, Yayasan Tahija berkomitmen mendanai penelitian yang dilakukan Eliminate Dengue Project (EDP) Yogya untuk memerangi penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Pembina yayasan filantropi ini, dr. Sjakon G. Tahija, Jumat (7/4). EDP Yogya saat ini sedang melakukan penelitian tentang pengendalian demam berdarah dengue (DBD) dengan menggunakan bakteri alami Wolbachia. Selain di Indonesia, penelitian ini juga dilakukan di lima negara lain, yaitu Australia, Vietnam, Brazil, Kolombia, dan India. Penelitian di negara-negara tersebut didanai oleh Bill & Melinda Gates Foundation (BMGF).

Namun, khusus penelitian yang dilakukan EDP Yogya, pendanaan sepenuhnya dilakukan oleh Yayasan Tahija. Yayasan Tahija merupakan organisasi nirlaba yang didirikan di Jakarta oleh almarhum Ibu Jean Tahija dan Bapak Julius Tahija pada 21 Maret 1990. Yayasan ini merupakan wadah formal prakarsa filantropi keluarga Tahija.

Pada perkembangannya, yayasan anak bangsa ini juga pernah menampung prakarsa Corporate Social Responsibilities (CSR) kelompok perusahaan Austindo manakala prakarsa tersebut tidak berkaitan langsung dengan kegiatan bisnis perusahaan. Saat ini Yayasan Tahija sepenuhnya melakukan kegiatan filantropi keluarga dengan mendanai penelitian EDP Yogya.

Dr. Sjakon yang merupakan putra dari almarhum Julius Tahija tidak sendiri dalam mengelola Yayasan Tahija. Bersama istri, dr Shelley L. Tahija, Ketua Pengawas Yayasan dan saudaranya, Ir. George S. Tahija dan istri, Laurel C. Tahija, serta Pengurus Yayasan, mereka meyakinkan bahwa yayasan berjalan dengan baik dalam upayanya mewujudkan visi dan misinya, yaitu mewujudkan Indonesia yang lebih baik, termasuk mewujudkan Indonesia sehat.

Kepedulian keluarga terhadap penanggulangan dengue yang dituangkan dalam kegiatan yayasan bermula di tahun 2004. Sebelumnya, Yayasan Tahija mendanai penelitian tentang DBD menggunakan larvasida bernama Sumilarv. Masyarakat Kota Yogyakarta tentu akrab dengan penelitian ini karena dilakukan di seluruh Kota Yogyakarta selama kurang lebih tujuh tahun.

Pada sebuah kesempatan, dr. Sjakon pernah menyampaikan bahwa Yayasan Tahija dan EDP Yogya merupakan pelopor di dunia. Hal ini karena belum ada yang dapat melakukan penelitian dengan skala yang sangat luas seperti di Indonesia. “Kami berharap melalui penelitian ini Yayasan Tahija dapat melakukan sesuatu untuk kehidupan yang lebih baik dan dapat meningkatkan penelitian ilmiah di Indonesia,” tuturnya.

Peneliti utama EDP Yogya, Prof. Adi Utarini menyampaikan EDP Yogya berjalan sesuai dengan fase yang telah direncanakan. Dimulai sejak 2011, penelitian ini diharapkan dapat mencapai hasilnya pada tahun 2019. “Saat ini kami tengah melakukan pelepasan Wolbachia dengan menitipkan ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di rumah-rumah warga terpilih. Tak kurang dari 7.300 ember mulai kami titipkan sejak awal Maret ini,” imbuh Prof. Uut, sapaan akrabnya.

Prof. Uut menambahkan bahwa pelepasan ini merupakan kali kedua. Pada tahap pertama pelepasan dilakukan di tujuh kelurahan, yaitu: Tegalrejo, Bener, Kricak, Karangwaru, Pakuncen, Wirobrajan, dan Patangpuluhan. “Pelepasan Wolbachia tahap pertama beberapa bulan lalu sangat sukses dan direspons positif oleh masyarakat,” jelas Prof. Uut.

Ahli serangga EDP Yogya, Warsito Tantowijoyo menyampaikan ember-ember yang dititipkan di tujuh kelurahan itu telah ditarik. Hal ini karena persentase Wolbachia telah cukup tinggi sehingga warga tidak perlu dititipi ember lagi. Warsito menyampaikan rasa terima kasihnya kepada masyarakat Yogyakarta yang telah berkenan mengasuh ember berisi telur nyamuk itu.

“Meski durasi peletakan lebih panjang dari waktu yang kami rencanakan, masyarakat tetap tidak keberatan. Kami menilai keterlibatan masyarakat dalam penelitian ini telah berperan besar dalam usaha pengendalian DBD di Yogyakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya,” ujar Warsito.

back to top