Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Ya Tuhan, dokter ini sangat tega pada bayi baru terlahir

Ya Tuhan, dokter ini sangat tega pada bayi baru terlahir

Kerawang-KoPi | Seorang dokter bekerja bukan hanya untuk mencari uang namun juga kemanusiaan. Itu menjadi etika dan nilai dalam profesi kedokteran. Sayang sekali, seorang dokter di Rumah Sakit Citra Sari Husada Intan Barokah (RSCSHIB) Kerawang, telah melukai hati kemanusiaan. Itulah yang dirasakan oleh Hayani, pasien di sana.

Seorang ibu bernama Hayani melahirkan di rumah sakit tersebut merasa sedih. Sesaat bayinya terlahir, sang dokter langsung memisahkan darinya. Ketika dia ingin menyusu namun kok tidak boleh? Dokter menjawab "Ibu tidak diperkenankan menyusui karena masih berlumuran darah".

Setelah itu, Hayani disodori beberapa merk susu formula dengan harga-harga pilihan yang akan diberikan pada bayi mungilnya. 

"Loh, mengapa susu sapi Dok? Air susu saya banyak Dok!"

Namun dokter tersebut menolaknya. Perawat yang bertugas bahkan menjawab seenaknya. "Ibu kan di kelas dua, jadi bayinya hanya bisa bertemu dua kali sehari. Nanti kalau bayinya lapar gimana?"

Ibu Hayani merasakan luka dan duka sangat dalam. Benar dia miskin, namun dia tahu bahwa ASI adalah nutrisi sangat dibutuhkan bagi bayi mungilnya. Nutrisi yang tidak bisa disamakan dan tidak bisa diperoleh dari susu formula. Mengapa dokter dan perawat di rumah sakit tersebut memaksanya menggunakan sufor?

Tulisan suara hati dari Ibu Hayani tersebut telah menyebar menjadi viral di media sosial. Dokter Dini Adityarini, Sp.A., pegiat pendidikan kesehatan anak dan ASI, sangat menyayangkan apa yang terjadi. Saat KoPi menghubungi via telpon, dokter Dini agak tercekat suaranya.

"Konsern saya yang pertama adalah hak pasien memberikan ASI. Jika ada kesengajaan menghalangi memberikan ASI, itu merupakan pelanggaran berat. Saya bisa memasukkkan sebagai pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia, red.)."

Reporter KoPi saat ini sedang berusaha menghubungi pihak rumah sakit untuk mendapatkan keterangan dari kasus ini. Tulisan tentang kasus Ibu Hayani dibagikan oleh Ayu, yang pada saat bersamaan sedang mengantar saudara dalam kelahiran di rumah sakit tersebut.

Bagaimana sebenarnya nurani dokter, perawat dan rumah sakit tersebut sampai tega memisahkan bayi dari hak mendapatkan ASI dari ibunya?

Berikut adalah tulisan lengkap tentang Ibu Hayani yang dipisahkan dari bayinya. | Ginanjar

back to top