Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Ya Tuhan, dokter ini sangat tega pada bayi baru terlahir

Ya Tuhan, dokter ini sangat tega pada bayi baru terlahir

Kerawang-KoPi | Seorang dokter bekerja bukan hanya untuk mencari uang namun juga kemanusiaan. Itu menjadi etika dan nilai dalam profesi kedokteran. Sayang sekali, seorang dokter di Rumah Sakit Citra Sari Husada Intan Barokah (RSCSHIB) Kerawang, telah melukai hati kemanusiaan. Itulah yang dirasakan oleh Hayani, pasien di sana.

Seorang ibu bernama Hayani melahirkan di rumah sakit tersebut merasa sedih. Sesaat bayinya terlahir, sang dokter langsung memisahkan darinya. Ketika dia ingin menyusu namun kok tidak boleh? Dokter menjawab "Ibu tidak diperkenankan menyusui karena masih berlumuran darah".

Setelah itu, Hayani disodori beberapa merk susu formula dengan harga-harga pilihan yang akan diberikan pada bayi mungilnya. 

"Loh, mengapa susu sapi Dok? Air susu saya banyak Dok!"

Namun dokter tersebut menolaknya. Perawat yang bertugas bahkan menjawab seenaknya. "Ibu kan di kelas dua, jadi bayinya hanya bisa bertemu dua kali sehari. Nanti kalau bayinya lapar gimana?"

Ibu Hayani merasakan luka dan duka sangat dalam. Benar dia miskin, namun dia tahu bahwa ASI adalah nutrisi sangat dibutuhkan bagi bayi mungilnya. Nutrisi yang tidak bisa disamakan dan tidak bisa diperoleh dari susu formula. Mengapa dokter dan perawat di rumah sakit tersebut memaksanya menggunakan sufor?

Tulisan suara hati dari Ibu Hayani tersebut telah menyebar menjadi viral di media sosial. Dokter Dini Adityarini, Sp.A., pegiat pendidikan kesehatan anak dan ASI, sangat menyayangkan apa yang terjadi. Saat KoPi menghubungi via telpon, dokter Dini agak tercekat suaranya.

"Konsern saya yang pertama adalah hak pasien memberikan ASI. Jika ada kesengajaan menghalangi memberikan ASI, itu merupakan pelanggaran berat. Saya bisa memasukkkan sebagai pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia, red.)."

Reporter KoPi saat ini sedang berusaha menghubungi pihak rumah sakit untuk mendapatkan keterangan dari kasus ini. Tulisan tentang kasus Ibu Hayani dibagikan oleh Ayu, yang pada saat bersamaan sedang mengantar saudara dalam kelahiran di rumah sakit tersebut.

Bagaimana sebenarnya nurani dokter, perawat dan rumah sakit tersebut sampai tega memisahkan bayi dari hak mendapatkan ASI dari ibunya?

Berikut adalah tulisan lengkap tentang Ibu Hayani yang dipisahkan dari bayinya. | Ginanjar

back to top