Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Ya Tuhan, dokter ini sangat tega pada bayi baru terlahir

Ya Tuhan, dokter ini sangat tega pada bayi baru terlahir

Kerawang-KoPi | Seorang dokter bekerja bukan hanya untuk mencari uang namun juga kemanusiaan. Itu menjadi etika dan nilai dalam profesi kedokteran. Sayang sekali, seorang dokter di Rumah Sakit Citra Sari Husada Intan Barokah (RSCSHIB) Kerawang, telah melukai hati kemanusiaan. Itulah yang dirasakan oleh Hayani, pasien di sana.

Seorang ibu bernama Hayani melahirkan di rumah sakit tersebut merasa sedih. Sesaat bayinya terlahir, sang dokter langsung memisahkan darinya. Ketika dia ingin menyusu namun kok tidak boleh? Dokter menjawab "Ibu tidak diperkenankan menyusui karena masih berlumuran darah".

Setelah itu, Hayani disodori beberapa merk susu formula dengan harga-harga pilihan yang akan diberikan pada bayi mungilnya. 

"Loh, mengapa susu sapi Dok? Air susu saya banyak Dok!"

Namun dokter tersebut menolaknya. Perawat yang bertugas bahkan menjawab seenaknya. "Ibu kan di kelas dua, jadi bayinya hanya bisa bertemu dua kali sehari. Nanti kalau bayinya lapar gimana?"

Ibu Hayani merasakan luka dan duka sangat dalam. Benar dia miskin, namun dia tahu bahwa ASI adalah nutrisi sangat dibutuhkan bagi bayi mungilnya. Nutrisi yang tidak bisa disamakan dan tidak bisa diperoleh dari susu formula. Mengapa dokter dan perawat di rumah sakit tersebut memaksanya menggunakan sufor?

Tulisan suara hati dari Ibu Hayani tersebut telah menyebar menjadi viral di media sosial. Dokter Dini Adityarini, Sp.A., pegiat pendidikan kesehatan anak dan ASI, sangat menyayangkan apa yang terjadi. Saat KoPi menghubungi via telpon, dokter Dini agak tercekat suaranya.

"Konsern saya yang pertama adalah hak pasien memberikan ASI. Jika ada kesengajaan menghalangi memberikan ASI, itu merupakan pelanggaran berat. Saya bisa memasukkkan sebagai pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia, red.)."

Reporter KoPi saat ini sedang berusaha menghubungi pihak rumah sakit untuk mendapatkan keterangan dari kasus ini. Tulisan tentang kasus Ibu Hayani dibagikan oleh Ayu, yang pada saat bersamaan sedang mengantar saudara dalam kelahiran di rumah sakit tersebut.

Bagaimana sebenarnya nurani dokter, perawat dan rumah sakit tersebut sampai tega memisahkan bayi dari hak mendapatkan ASI dari ibunya?

Berikut adalah tulisan lengkap tentang Ibu Hayani yang dipisahkan dari bayinya. | Ginanjar

back to top