Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Transplantasi Sel Induk Dapat Mengurangi Kejang

Transplantasi Sel Induk Dapat Mengurangi Kejang

KoPi. Penelitian baru dari McLean Hospital dan Harvard Stem Cell Institute menunjukkan terapi sel induk mengurangi kejang pada tikus. Menurut FoxNews.com 6 November 2014 Peneliti menggunakan model hewan untuk transplantasi, neuron yang diturunkan dari sel induk embrio manusia kejang-menghambat kinerja otak tikus yang memiliki bentuk umum epilepsi.

Setengah dari tikus yang menerima transplantasi neuron tidak lagi mengalami kejang, sementara separuh lainnya mengalami penurunan gejala kejang yang signifikan.

Neuron yang ditransplantasikan ke dalam otak tikus melepaskan hormon GABA (gamma-aminobutyric acid), untuk menghambat hiperaktivitas listrik yang menyebabkan kejang.

Para peneliti awalnya menguji fungsi neuron manusia, kemudian menguji penyakit epilepsi. Sekitar 30 persen penderita epilepsi tidak merespon obat kejang. Bahkan satu dari 26 penderita di hantui kejang dalam hidupnya, kata Chung.

Mekanisme yang tepat tentang bagaimana kejang dihasilkan tidak sepenuhnya jelas, tapi melihat bagian dihapus dari otak dari pasien epilepsi menunjukkan bahwa serangan melibatkan kematian interneuron.

Lebih banyak tes diperlukan sebelum penelitian pergi ke percobaan klinis, termasuk uji coba primata dan menemukan proses untuk memurnikan neuron, kata Chung. ( FoxNews.com).

Joko Raharjo, Winda Efanur FS


 

 

 

back to top