Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Tanpa vaksin, separuh pasien bisa mati

foto: wm.article.com foto: wm.article.com
Surabaya - KoPi| Pelaksanaan vaksinasi masih menuai pro dan kontra baik di kalangan masyarakat, pemerintah, bahkan dari kalangan tenaga medis sendiri. Perdebatan itu masih berkisar antara halal haramnya vaksinasi karena vaksin berasal dari penderita penyakit berbahaya dan dari enzim babi, alasan moral, hingga kekhawatiran karena bisa memicu autisme.

Pandangan-pandangan itu ditepis oleh dr. Dominicus Husada, SpA (K), Kepala Divisi Infeksi dan Pediatri Tropik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr Soetomo Surabaya. Domi, sapaan akrabnya, beranggapan bahwa kalangan yang menentang adanya vaksinasi itu harus melihat fakta-fakta medis terlebih dahulu.

“Sebagian besar kami yang bekerja sebagai tenaga medis mengatakan bahwa vaksinasi itu bermanfaat. Sejak pertama kali vaksin dibikin hingga sekarang, besar manfaatnya. Pada tahun 1900 ada wabah penyakit difteri di Amerika. Saat itu vaksin belum ada. Akibatnya, separuh dari anak-anak penderita difteri di Amerika meninggal,” tutur Domi.

Hal itu disebabkan bukan karena asupan ASI maupun nutrisi yang kurang baik, namun lebih dikarenakan tidak adanya pemberian vaksinasi.

“Apakah anak-anak ini tidak minum ASI? Minum. Apakah mereka mendapatkan nutrisi yang baik? Dapat. Hari ini, berapa penderita difteri di Amerika? Nol. Bukan karena ASI ataupun nutrisi. Satu-satunya yang membedakan adalah imunisasi. Berapa difteri di Jawa Timur? 600 orang. Di Malaysia justru tidak ada tidak ada. Kenapa? Imunisasinya baik,” tutur Domi. | Reporter: Defrina Sukma Satiti

back to top