Menu
Pengakuan Baru: Perjanjian RI-Australia 1972 cacat hukum

Pengakuan Baru: Perjanjian RI-Austr…

Kupang-KoPi| Penulis Bu...

AKMIL Magelang manfaatkan lahan tidur untuk pertanian

AKMIL Magelang manfaatkan lahan tid…

Akademi Militer - Gubernu...

Gus Ipul berharap semua terbiasa baca shalawat

Gus Ipul berharap semua terbiasa ba…

  Surabaya-KoPi| Wa...

Perayaan Natal Keluarga Besar UAJY

Perayaan Natal Keluarga Besar UAJY

Sleman-KoPi| Universita...

Teliti isu multikultur dalam film Indonesia

Teliti isu multikultur dalam film I…

Bantul-KoPi| Sejarah pe...

Karwo Dorong Penerapan K3 Hingga Sektor UMKM

Karwo Dorong Penerapan K3 Hingga Se…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Susi Pudjiastuti diminta tegakkan kedaulatan Laut Timor

Susi Pudjiastuti diminta tegakkan k…

Kupang-KoPi|Pembela nel...

Kapolda DIY segera lakukan operasi pasar kontrol harga beras

Kapolda DIY segera lakukan operasi …

Sleman-KoPi|Kepala Pold...

Beberapa pejabat tinggi Polda DIY digeser

Beberapa pejabat tinggi Polda DIY d…

Sleman-KoPi|Polda DIY m...

Pengedar Sabu di Sleman berhasil ditangkap jajaran Polres Sleman

Pengedar Sabu di Sleman berhasil di…

Sleman-KoPi| Satuan res...

Prev Next

Siswa di Bantul diduga terjangkit Difetri

difetri

Sleman-KoPi| Satu siswa asal Kab. Bantul diduga terjangkit penyakit Difteri, langsung diisolasi di ruangan khusus RSUP Sardjito Yogyakarta.

Dokter Spesialis Anak RSUP Sardjito dr Ida Safitri SpA menuturkan, saat masuk ke RSUP, pasien menunjukkan gejala penyakit difteri.

"Gejalanya seperti Flu, batuk, kesulitan menelan dan selaput putih dibalik tenggorokan," jelas Ida saat jumpa pers di RSUP Sardjito Sleman Yogyakarta, Rabu(13/12).

Berdasarkan keterangan pihak RSUP, pasien ini sudah mulai dirawat sejak Minggu 10 Desember 2017. Hingga saat ini tim medis masih terus melakukan pemeriksaan dan memastikan kondisi sang pasien.

Ida pun menuturkan pada awal perawatan, tim dokter RSUP sudah mengambil sampel riak pasien. Namun sampel tersebut menunjukkan hasil negatif di laboratorium sardjito. Untuk lebih pastinya ,Pihak RSUP juga mengirimkan sampel tersebut ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya untuk diteliti kemungkinan adanya keberadaan bakteri Difteri.

"Saat diperiksa pertama di Lab, hasil negatif. Tapi kami kirim ke BBLK untuk diperiksa kedua kalinya . Kami masih menunggu hasilnya," kata Ida.

Sebagai langkah pencegahan, selain diisolasi pasien tersebut hanya bisa dijenguk oleh kedua orangtuanya. Seperti aturan ruang isolasi lainnya, pasien dilarang meninggalkan ruangan dan diwajibkan memakai masker.

"Kedua orangtua dan tim medis yang merawatnya juga wajib pakai masker dan peralatan khusus,pasien tidak boleh dijenguk dulu oleh siapapun kecuali orangtuanya," tegas Ida.

Selain itu pihak Dokter juga turut menyuntikkan suntikan anti difteri serum dan antibiotik.

Sementara itu dokter spesialis patologi konsultan infeksi, dr Andaru Dahesih Dewi menambahkan pihak medis RSUP juga mencaritahu riwayat kesehatan sang pasien.

"Kami juga akan mencari tahu apakah saat balita dan usia anak, pasien mengikuti imunisasi secara lengkap. Lalu apakah ia pada dua minggu terakhir tinggal di lokasi endemik difteri, atau pulang dari wilayahnya," pungkasnya.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top