Menu
Pengawasan perjokian SBMPTN 2018 akan diperketat.

Pengawasan perjokian SBMPTN 2018 ak…

Sleman-KoPi|Ketua Koordin...

Panlok 46 SBMPTN 2018 berpeluang menerima lebih dari 40.000 pendaftar.

Panlok 46 SBMPTN 2018 berpeluang me…

Sleman-KoPi| Panitia Loka...

KTT APRS ketiga, pembahasan tidak cukup hanya pada perlindungan hutan saja.

KTT APRS ketiga, pembahasan tidak c…

Sleman-KoPi| Gelaran Ko...

Satu kali transaksi, kawanan pengedar pil mendapat keuntungan 15-20 juta.

Satu kali transaksi, kawanan penged…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Rektor UGM: Dosen asing itu baik, namun jangan lupa fasilitas dan lab perlu juga ditingkatkan.

Rektor UGM: Dosen asing itu baik, n…

Sleman-KoPi| Rektor UGM, ...

Ini tanggapan rektor UGM pada wacana kedatangan dosen asing.

Ini tanggapan rektor UGM pada wacan…

Sleman-KoPi|Rektor Univer...

Cerita perjuangan wisudawan doktoral anak dari Satpam UGM.

Cerita perjuangan wisudawan doktora…

Sleman-KoPi| Tak ada yang...

Peringati Milad UMY ke 37, Rektor tingkatkan internasionalisasi dosen dan mahasiswanya.

Peringati Milad UMY ke 37, Rektor t…

Bantul-KoPi| Rektor Unive...

Tim mahasiswa UGM bawakan mobil besutannya ke kompetisi dunia Juli nanti.

Tim mahasiswa UGM bawakan mobil bes…

Sleman-KoPi| Tim mahasi...

Prev Next

Siswa di Bantul diduga terjangkit Difetri

difetri

Sleman-KoPi| Satu siswa asal Kab. Bantul diduga terjangkit penyakit Difteri, langsung diisolasi di ruangan khusus RSUP Sardjito Yogyakarta.

Dokter Spesialis Anak RSUP Sardjito dr Ida Safitri SpA menuturkan, saat masuk ke RSUP, pasien menunjukkan gejala penyakit difteri.

"Gejalanya seperti Flu, batuk, kesulitan menelan dan selaput putih dibalik tenggorokan," jelas Ida saat jumpa pers di RSUP Sardjito Sleman Yogyakarta, Rabu(13/12).

Berdasarkan keterangan pihak RSUP, pasien ini sudah mulai dirawat sejak Minggu 10 Desember 2017. Hingga saat ini tim medis masih terus melakukan pemeriksaan dan memastikan kondisi sang pasien.

Ida pun menuturkan pada awal perawatan, tim dokter RSUP sudah mengambil sampel riak pasien. Namun sampel tersebut menunjukkan hasil negatif di laboratorium sardjito. Untuk lebih pastinya ,Pihak RSUP juga mengirimkan sampel tersebut ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya untuk diteliti kemungkinan adanya keberadaan bakteri Difteri.

"Saat diperiksa pertama di Lab, hasil negatif. Tapi kami kirim ke BBLK untuk diperiksa kedua kalinya . Kami masih menunggu hasilnya," kata Ida.

Sebagai langkah pencegahan, selain diisolasi pasien tersebut hanya bisa dijenguk oleh kedua orangtuanya. Seperti aturan ruang isolasi lainnya, pasien dilarang meninggalkan ruangan dan diwajibkan memakai masker.

"Kedua orangtua dan tim medis yang merawatnya juga wajib pakai masker dan peralatan khusus,pasien tidak boleh dijenguk dulu oleh siapapun kecuali orangtuanya," tegas Ida.

Selain itu pihak Dokter juga turut menyuntikkan suntikan anti difteri serum dan antibiotik.

Sementara itu dokter spesialis patologi konsultan infeksi, dr Andaru Dahesih Dewi menambahkan pihak medis RSUP juga mencaritahu riwayat kesehatan sang pasien.

"Kami juga akan mencari tahu apakah saat balita dan usia anak, pasien mengikuti imunisasi secara lengkap. Lalu apakah ia pada dua minggu terakhir tinggal di lokasi endemik difteri, atau pulang dari wilayahnya," pungkasnya.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top