Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Rajin meminumnya maka kanker lewat!

Rajin meminumnya maka kanker lewat!
Surabaya – KoPi | Obat nasional semakin mahal harganya. Akibatnya masyarakat miskin semakin kesusahan mendapatkan pengobatan yang layak. Apa boleh buat, 96% bahan baku obat yang ada di Indonesia masih merupakan produk impor. Total impor obat Indonesia hingga 2013 mencapai Rp 11 trilyun.
 

Sungguh ironis, padahal Indonesia adalah negara dengan biodiversitas terbesar kedua setelah Brazil. Seharusnya Indonesia dapat menciptakan obat-obatan sendiri yang berasal dari kekayaan alamnya. 

Hal itu diakui oleh Guru Besar Unair di Bidang Kimia Farmasi Prof. Djoko Agus Purwanto. Djoko mengatakan bahan baku obat hasil industri yang dimiliki Indonesia masih sangat kurang. Karenanya, perlu pemanfaatan bahan alam sebagai sumber bahan baku obat.

Salah satu kekayaan alam di Indonesia yang memiliki khasiat luar biasa adalah daun teh hijau. Senyawa Epigallocatechin-3-Gallate (EGCG) yaitu kandungan utama dari daun teh (Camellia sinensis) memiliki potensi yang kuat untuk menurunkan insiden kanker di Indonesia. EGCG memiliki peluang menjadi senyawa nasional untuk penanggulangan kanker.

“Studi epidomologi menunjukkan bahwa teh hijau dapat mencegah berbagai macam kanker. Mulai dari kanker rongga mulut, kanker prostat, kanker usus, kanker payudara, kanker ovarium dan endometrium, kanker serviks, kanker paru serta jenis kanker lainnya di dunia,” jelas Djoko.

Hal ini menunjukkan bahwa khasiat EGCG dan teh dalam pencegahan kanker sudah tidak diragukan lagi. Indonesia sebagai salah satu negara penghasil teh terbesar di dunia seharusnya memiliki budaya minum teh yang kuat. Dibandingkan Cina dan Jepang, konsumsi teh Indonesia masih belum begitu besar. Bahkan Indonesia masih kalah oleh Inggris yang bukan negara penghasil teh. 

Ia berharap minum teh menjadi semacam gerakan nasional di Indonesia untuk mencegah kanker. “Penggunaan teh sebagai minuman sehari-hari seharusnya dapat menjadi program nasional untuk menurunkan angka kejadian kanker di Indonesia,” tukas Djoko.

Bukan hanya teh, Djoko mengatakan perlunya Indonesia melakukan riset di bidang Kimia Farmasi dari bahan-bahan alam asli Indonesia. Riset tersebut harus ditujukan dan difokuskan pada beberapa produk obat yang bersifat strategis. “Dengan demikian nilai ekonomis dan kemanfaatannya tambah besar apabila diproduksi pada skala industri,” ujar profesor kelahiran 5 Agustus 1959 ini. | Defrina S.S.

 

back to top