Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Polemik vaksinasi, dari konspirasi sampai medis

Polemik vaksinasi, dari konspirasi sampai medis
KoPi| Belakangan ini gaya hidup sehat secara tradisional dan kembali ke alam semakin populer. Semakin banyaknya zat-zat kimia berbahaya yang terkandung dalam segala kebutuhan manusia menjadi alasannya. Gaya hidup secara alami dipercaya lebih sehat karena sesuai dengan kebutuhan tubuh dan membatasi masuknya bahan-bahan kimia berbahaya ke dalam tubuh.

Keinginan untuk hidup secara alami memunculkan kekhawatiran terhadap upaya vaksinasi karena dianggap berbahaya bagi tubuh. Saat ini muncul berbagai gerakan yang menolak vaksinasi. Banyak alasan yang dipaparkan mengenai penolakan terhadap vaksinasi. Mulai dari alasan agama, prasangka, hingga alasan medis. 

Dari segi agama, ada kecurigaan mengenai beberapa vaksin yang terbuat dari enzim babi. Masyarakat Muslim Indonesia pun sempat gempar dengan kabar tersebut. Akibatnya beberapa kalangan menolak menggunakan vaksin. Masyarakat pun khawatir mengenai masalah halal atau haramnya vaksinasi karena tercampur dengan bahan haram dan najis. Ada pula ketakutan bahwa vaksin dibiakkan dalam tubuh narapidana atau penderita penyakit berbahaya.

Muncul pula prasangka bahwa upaya vaksinasi yang dilakukan kepada penduduk negara berkembang merupakan bentuk konspirasi internasional yang ingin melemahkan negara tersebut. Beberapa kalangan mempercayai perusahaan pembuat vaksin sengaja memberikan vaksin berbahaya untuk melemahkan penduduk negara-negara berkembang.

Dari segi medis, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa upaya vaksinasi sendiri dianggap tidak perlu dan justru membahayakan tubuh. Beberapa peneliti dan dokter dari negara maju menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah apakah vaksinasi betul-betul mampu mencegah penyakit.

Selain itu, ada kekhawatiran bahwa pembuatan vaksin mencampurkan bahan-bahan berbahaya seperti merkuri, formaldehid, alumunium, dan sebagainya untuk melemahkan virus. Hal itu diperkuat dengan kejadian di mana beberapa anak ditengarai menderita autisme sebagai akibat dari vaksinasi yang dilakukan pada ibu hamil.

Pada bulan Juni lalu, Dr. David Brownstein, seorang dokter pengobatan holistik dari Inggris menyatakan bahwa vaksin flu produksi perusahaan farmasi GlaxoSmithKline memiliki kandungan merkuri sebesar 51 ppm. Kandungan 25.000 kali lebih besar dari batas aman kandungan merkuri dalam air minum kemasan di Inggris. “Selama lebih dari 20 tahun saya menemukan 80% pasien saya, baik yang sehat maupun sakit, memiliki keracunan merkuri,” tukas dr. Brownstein.

Pada tahun 2013, Peter Doshi, seorang kandidat doktor dari Fakultas Kedokteran John Hopkins University menerbitkan sebuah artikel di British Medical Journal. Doshi mempertanyakan efektivitas vaksinasi terhadap epidemi flu. Ia menyatakan bahwa suntikan flu kurang aman dan kurang manjur, dan mempertanyakan penelitian yang menyebut vaksin sebagai perlindungan terbaik dari flu. | Diolah dari berbagai sumber | Reporter: Amanullah Ginanjar Wicaksono

 

back to top