Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Polemik vaksinasi, dari konspirasi sampai medis

Polemik vaksinasi, dari konspirasi sampai medis
KoPi| Belakangan ini gaya hidup sehat secara tradisional dan kembali ke alam semakin populer. Semakin banyaknya zat-zat kimia berbahaya yang terkandung dalam segala kebutuhan manusia menjadi alasannya. Gaya hidup secara alami dipercaya lebih sehat karena sesuai dengan kebutuhan tubuh dan membatasi masuknya bahan-bahan kimia berbahaya ke dalam tubuh.

Keinginan untuk hidup secara alami memunculkan kekhawatiran terhadap upaya vaksinasi karena dianggap berbahaya bagi tubuh. Saat ini muncul berbagai gerakan yang menolak vaksinasi. Banyak alasan yang dipaparkan mengenai penolakan terhadap vaksinasi. Mulai dari alasan agama, prasangka, hingga alasan medis. 

Dari segi agama, ada kecurigaan mengenai beberapa vaksin yang terbuat dari enzim babi. Masyarakat Muslim Indonesia pun sempat gempar dengan kabar tersebut. Akibatnya beberapa kalangan menolak menggunakan vaksin. Masyarakat pun khawatir mengenai masalah halal atau haramnya vaksinasi karena tercampur dengan bahan haram dan najis. Ada pula ketakutan bahwa vaksin dibiakkan dalam tubuh narapidana atau penderita penyakit berbahaya.

Muncul pula prasangka bahwa upaya vaksinasi yang dilakukan kepada penduduk negara berkembang merupakan bentuk konspirasi internasional yang ingin melemahkan negara tersebut. Beberapa kalangan mempercayai perusahaan pembuat vaksin sengaja memberikan vaksin berbahaya untuk melemahkan penduduk negara-negara berkembang.

Dari segi medis, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa upaya vaksinasi sendiri dianggap tidak perlu dan justru membahayakan tubuh. Beberapa peneliti dan dokter dari negara maju menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah apakah vaksinasi betul-betul mampu mencegah penyakit.

Selain itu, ada kekhawatiran bahwa pembuatan vaksin mencampurkan bahan-bahan berbahaya seperti merkuri, formaldehid, alumunium, dan sebagainya untuk melemahkan virus. Hal itu diperkuat dengan kejadian di mana beberapa anak ditengarai menderita autisme sebagai akibat dari vaksinasi yang dilakukan pada ibu hamil.

Pada bulan Juni lalu, Dr. David Brownstein, seorang dokter pengobatan holistik dari Inggris menyatakan bahwa vaksin flu produksi perusahaan farmasi GlaxoSmithKline memiliki kandungan merkuri sebesar 51 ppm. Kandungan 25.000 kali lebih besar dari batas aman kandungan merkuri dalam air minum kemasan di Inggris. “Selama lebih dari 20 tahun saya menemukan 80% pasien saya, baik yang sehat maupun sakit, memiliki keracunan merkuri,” tukas dr. Brownstein.

Pada tahun 2013, Peter Doshi, seorang kandidat doktor dari Fakultas Kedokteran John Hopkins University menerbitkan sebuah artikel di British Medical Journal. Doshi mempertanyakan efektivitas vaksinasi terhadap epidemi flu. Ia menyatakan bahwa suntikan flu kurang aman dan kurang manjur, dan mempertanyakan penelitian yang menyebut vaksin sebagai perlindungan terbaik dari flu. | Diolah dari berbagai sumber | Reporter: Amanullah Ginanjar Wicaksono

 

back to top