Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pemberian ASI oleh ibu yang berkarir

Pemberian ASI oleh ibu yang berkarir

Surabaya-KoPi, Sebagai cairan yang sangat dibutuhkan bayi, pemberian ASI tidak dapat dilepaskan dari bayi. Namun, perkembangan dunia kerja yang menjadikan perempuan, terutama ibu, tidak bisa lepas dari kantor membuat pemberian ASI kepada bayinya terhalang.

Menurut dokter spesialis anak RSIA (Rumah Sakit Ibu dan Anak) Kendangsari yang berlokasi di Jalan Raya Kendangsari 38 Surabaya, dr. Dini Adityarini, SpA hal tersebut bukanlah alasan yang menghambat pemberian ASI oleh ibu kepada bayinya.

“Sekarang, ibu yang bekerja tetap bisa memberikan ASI kepada bayinya. RSIA Kendangsari memberikan penyuluhan berupa cara-caranya.”

Salah satu caranya adalah memerah ASI yang kemudian dimasukkan ke dalam lemari pendingin.

“ASI yang dipompa terlebih dahulu dari ibu, kemudian disimpan di lemari pendingin. ASI disimpan di tempat yang beku, agar bakteri tidak dapat masuk.”

Dengan cara disimpan di lemari pendingin, ASI akan dapat bertahan lama dan dapat diberikan kepada bayi tanpa langsung dari dada sang ibu. Namun sebaiknya masa ASI yang telah disimpan di lemari pendingin tidaklah terlalu lama.

“Asi yang lebih dari 96 jam akan mengalami penurunan kandungan sel darah putih, namun masih lebih bagus daripada kualitas susu formula.”

Selain hal tersebut, faktor kebijakan pemerintah juga mempengaruhi kesempatan ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya. 

“Di Surabaya, ada peraturan dari Walikota yang menyatakan bahwa setiap institusi meberikan waktu kepada ibu agar selama kerja dapat memerah ASI-nya untuk kebutuhan bayi.”

Sang ibu-pun tidak perlu khawatir untuk mengantarkan ASI-nya kepada bayinya. Selain keluarga yang dinilai dapat membantu, saat ini juga muncul bisnis baru yang menawarkan jasa mengantarkan ASI kepada bayinya di rumah.

 

Reporter: Yogi Ishabib - Yudho NP

back to top