Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Parasetamol meningkatkan risiko ADHD

Parasetamol meningkatkan risiko ADHD
Selandia Baru-KoPi- Parasetamol adalah obat yang paling umum dilakukan untuk menghilangkan rasa sakit selama kehamilan, tetapi sebuah studi baru dari Selandia Baru menemukan bahwa parasetamol dapat meningkatkan risiko anak-anak terkena ADHD. 

Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau yang biasa disebut ADHD adalah suatu kondisi dimana anak-anak menjadi sulit memusatkan perhatian (Attention Deficit Disorder), terjadi ketidak beresan kecil di otak (Minimal Brain Disorder), kerusakan kecil pada otak (Minimal Brain Damage), terlalu banyak bergerak/aktif (Hyperkinesis), ataupun sedikit bergerak/ pasif (Hyperactive). 

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. John Thompson dari Universitas Auckland Selandia Baru menganalisis data longitudinal dari 871 bayi di Eropa. Para peneliti menganalisis penggunaan obat acetaminophen, aspirin, antasid, dan antibiotik selama kehamilan dan ditemukan gejala ADHD pada anak usia 7-11 tahun. Tapi studi ini tidak memiliki data apakah gejala ADHD berlanjut di masa pubertas. 

"Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memberikan penilaian yang lebih tepat dari risiko dan konsekuensi ketika mengkonsumsi parasetamol selama masa kehamilan. Dikhawatirkan konsumtif masayarakat, khususnya ibu hamil akan obat pembunuh rasa sakit ini terus berlanjut karena merupakan obat antenatal yang paling umum digunakan ", kata Dr. Thompson. 

ADHD sendiri telah mempengaruhi 5% sampai 10% dari anak usia sekolah di Selandia Baru. Dimana Usia tersebut adalah kelompok usia yang paling umum terjadi gangguan pada perkembangan saraf.

Irfan Ridlowi

Sumber: news.com

 

back to top