Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Parasetamol meningkatkan risiko ADHD

Parasetamol meningkatkan risiko ADHD
Selandia Baru-KoPi- Parasetamol adalah obat yang paling umum dilakukan untuk menghilangkan rasa sakit selama kehamilan, tetapi sebuah studi baru dari Selandia Baru menemukan bahwa parasetamol dapat meningkatkan risiko anak-anak terkena ADHD. 

Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau yang biasa disebut ADHD adalah suatu kondisi dimana anak-anak menjadi sulit memusatkan perhatian (Attention Deficit Disorder), terjadi ketidak beresan kecil di otak (Minimal Brain Disorder), kerusakan kecil pada otak (Minimal Brain Damage), terlalu banyak bergerak/aktif (Hyperkinesis), ataupun sedikit bergerak/ pasif (Hyperactive). 

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. John Thompson dari Universitas Auckland Selandia Baru menganalisis data longitudinal dari 871 bayi di Eropa. Para peneliti menganalisis penggunaan obat acetaminophen, aspirin, antasid, dan antibiotik selama kehamilan dan ditemukan gejala ADHD pada anak usia 7-11 tahun. Tapi studi ini tidak memiliki data apakah gejala ADHD berlanjut di masa pubertas. 

"Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memberikan penilaian yang lebih tepat dari risiko dan konsekuensi ketika mengkonsumsi parasetamol selama masa kehamilan. Dikhawatirkan konsumtif masayarakat, khususnya ibu hamil akan obat pembunuh rasa sakit ini terus berlanjut karena merupakan obat antenatal yang paling umum digunakan ", kata Dr. Thompson. 

ADHD sendiri telah mempengaruhi 5% sampai 10% dari anak usia sekolah di Selandia Baru. Dimana Usia tersebut adalah kelompok usia yang paling umum terjadi gangguan pada perkembangan saraf.

Irfan Ridlowi

Sumber: news.com

 

back to top