Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Parasetamol meningkatkan risiko ADHD

Parasetamol meningkatkan risiko ADHD
Selandia Baru-KoPi- Parasetamol adalah obat yang paling umum dilakukan untuk menghilangkan rasa sakit selama kehamilan, tetapi sebuah studi baru dari Selandia Baru menemukan bahwa parasetamol dapat meningkatkan risiko anak-anak terkena ADHD. 

Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau yang biasa disebut ADHD adalah suatu kondisi dimana anak-anak menjadi sulit memusatkan perhatian (Attention Deficit Disorder), terjadi ketidak beresan kecil di otak (Minimal Brain Disorder), kerusakan kecil pada otak (Minimal Brain Damage), terlalu banyak bergerak/aktif (Hyperkinesis), ataupun sedikit bergerak/ pasif (Hyperactive). 

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. John Thompson dari Universitas Auckland Selandia Baru menganalisis data longitudinal dari 871 bayi di Eropa. Para peneliti menganalisis penggunaan obat acetaminophen, aspirin, antasid, dan antibiotik selama kehamilan dan ditemukan gejala ADHD pada anak usia 7-11 tahun. Tapi studi ini tidak memiliki data apakah gejala ADHD berlanjut di masa pubertas. 

"Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memberikan penilaian yang lebih tepat dari risiko dan konsekuensi ketika mengkonsumsi parasetamol selama masa kehamilan. Dikhawatirkan konsumtif masayarakat, khususnya ibu hamil akan obat pembunuh rasa sakit ini terus berlanjut karena merupakan obat antenatal yang paling umum digunakan ", kata Dr. Thompson. 

ADHD sendiri telah mempengaruhi 5% sampai 10% dari anak usia sekolah di Selandia Baru. Dimana Usia tersebut adalah kelompok usia yang paling umum terjadi gangguan pada perkembangan saraf.

Irfan Ridlowi

Sumber: news.com

 

back to top