Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Parasetamol meningkatkan risiko ADHD

Parasetamol meningkatkan risiko ADHD
Selandia Baru-KoPi- Parasetamol adalah obat yang paling umum dilakukan untuk menghilangkan rasa sakit selama kehamilan, tetapi sebuah studi baru dari Selandia Baru menemukan bahwa parasetamol dapat meningkatkan risiko anak-anak terkena ADHD. 

Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau yang biasa disebut ADHD adalah suatu kondisi dimana anak-anak menjadi sulit memusatkan perhatian (Attention Deficit Disorder), terjadi ketidak beresan kecil di otak (Minimal Brain Disorder), kerusakan kecil pada otak (Minimal Brain Damage), terlalu banyak bergerak/aktif (Hyperkinesis), ataupun sedikit bergerak/ pasif (Hyperactive). 

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. John Thompson dari Universitas Auckland Selandia Baru menganalisis data longitudinal dari 871 bayi di Eropa. Para peneliti menganalisis penggunaan obat acetaminophen, aspirin, antasid, dan antibiotik selama kehamilan dan ditemukan gejala ADHD pada anak usia 7-11 tahun. Tapi studi ini tidak memiliki data apakah gejala ADHD berlanjut di masa pubertas. 

"Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memberikan penilaian yang lebih tepat dari risiko dan konsekuensi ketika mengkonsumsi parasetamol selama masa kehamilan. Dikhawatirkan konsumtif masayarakat, khususnya ibu hamil akan obat pembunuh rasa sakit ini terus berlanjut karena merupakan obat antenatal yang paling umum digunakan ", kata Dr. Thompson. 

ADHD sendiri telah mempengaruhi 5% sampai 10% dari anak usia sekolah di Selandia Baru. Dimana Usia tersebut adalah kelompok usia yang paling umum terjadi gangguan pada perkembangan saraf.

Irfan Ridlowi

Sumber: news.com

 

back to top