Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Mimpi: Realita dalam tidur

Mimpi: Realita dalam tidur
Kita biasa bermimpi ketika tidur. Mimpi-mimpi kita seolah sebuah dunia nyata yang kita tapaki. Ia seolah sebuah perjalanan tersendiri yang kadang terasa indah dan mengerikan. Oleh orang awam, mimpi sering disebut bunga tidur.  Beberapa yang lain menyebut sebagai sebuah firasat tentang sesuatu. Tetapi, bagaimana sebenarnya mimpi itu bisa terjadi?

Psikoanalisis Freud, menjelaskan bahwa pada dasarnya tidur terdiri dari dua fase yaitu fase NREM (Non-Rapid Eye Movement) dan fase REM. Fase NREM adalah fase dimana individu baru memulai tidur. Fase ini berlangsung sekitar 5-30 menit setelah mulai tertidur.

Kemudian dilanjutkan dengan fase REM (Rapid Eye Movement). Biasanya fase ini terjadi 70-90 menit setelah tertidur. Pada umumnya di fase inilah mimpi terjadi. Namun pada fase ini otak melumpuhkan otot-otot tubuh, khususnya kaki dan tangan sehingga angota tubuh individu tidak ikut bergerak saat bermimpi.

Mimpi versi Freud dan Jung

Bapak psikologi (Freud) mengemukakan mimpi adalah refleksi dari pikiran-pikiran yang tersimpan dalam alam bawah sadar individu. Mimpi juga dapat berarti harapan-harapan yang tersebunyi dan tidak kita sadari karena harapan atau pikiran-pikiran itu tertimbun di alam bawah sadar kita.

Di dalam mimpi tidak semua penggambaran dapat digambarkan secara nyata atau utuh, terkadang hanya sebagian kecil saja yang dapat terlihat jelas. Sebagai contoh ketika individu mengingat ibunya sebelum tidur maka ia akan bermimpi tentang ibunya. Karena menurut Freud bahwa mimpi itu merupakan refleksi dari pikiran-pikiran alam bawah sadar manusia.

Lain halnya dengan Carl Jung (baca: Memories, Dream and Reflection) yang mengatakan mimpi berasal dari ketidaksadaran kolektif yang berarti bahwa mimpi yang dialami individu merupakan simbol-simbol yang mewakili pikiran-pikiran alam bawah sadar manusia. Sebagai contohnya ketika individu memikirkan tentang agama atau berdiskusi mengenai agama maka dalam mimpi akan terlefleksikan sebagai simbol misalnya ia bertemu dengan pemuka agama.

Jadi dapat disimpulkan bahwa mimpi merupakan refleksi dari pikiran-pikiran atau harapan-harapan individu yang tertanam dalam alam bawah sadar manusia.  Mimpi adalah keinginan yang telah tertanam dalam diri namun kita sendiri tidak menyadarinya. Namun, bila sebuah mimpi kemudian dikaitkan dengan sebuah petunjuk, tentu saja itu merupakan misteri yang lain.

back to top