Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Makanan tidak salah, perilaku kita yang salah

Makanan tidak salah, perilaku kita yang salah
Surabaya – KoPi. Makanan tidak pernah salah, perilaku manusia yang memakannya yang salah. Ungkapan itu disampaikan oleh Dr. Annis Catur Adi, Departemen Gizi FKM UNAIR, ketika mengisi seminar dalam acara Gizi Peduli Indonesia di Aula Rumah Sakit Pusat Tropik Indonesia UNAIR, Sabtu (11/9).

Menurutnya, faktor pangan dan gizi sangat menentukan kualitas manusia dari kehidupan masyarakat sehat. Namun, kualitas gizi di Indonesia cukup bermasalah. Sebut saja berbagai kasus seperti kurangnya energi protein yang berdampak pada tubuh yang kurus dan pendek, kurangnya vitamin A, amnesia karena kurang zat besi, gizi lebih (overweight), dan kurangnya yodium. 

Permasalahan gizi disebabkan oleh kegagalan penyelamatan seribu hari pertama kehidupan (HPK), pola hidup tidak sehat, dan pergeseran pola hidup global. 

Dr. Toto Sudargo, MKes, Kepala Bagian Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) yang turut hadir dalam seminar itu menjelaskan hasil penelitiannya di Bantul. Dia menemukan hanya 10% ibu hamil di Bantul yang tidak menderita anemia. Padahal ibu hamil dengan anemia bisa menghasilkan kecerdasan yang kurang baik pada keturunannya.

“Kami pernah melakukan studi terhadap calon pengantin, dan hasilnya 23% di antaranya menderita anemia. Itu sangat bahaya. Itu bisa mempengaruhi IQ anak. Bagaimana mereka bisa bersaing dengan generasi lainnya, kalau mereka kehilangan kemampuan bersaing,” terang Toto.

Pemberian ASI eksklusif untuk anak usia nol sampai enam bulan sangat dianjurkan oleh para ahli kesehatan yang juga diperkuat oleh badan kesehatan dunia PBB, WHO. Pada usia tersebut, sistem pencernaan bayi belum berfungsi sempurna. 

“Teruskan pemberian ASI. Beri makanan lembek dengan frekuensi sesuai umur. Perkenalkan aneka ragam bahan makanan. Beri makanan sesuai jumlah kebutuhan kalorinya agar tidak terjadi kegemukan atau kurang gizi,” nasehatnya.

Pertumbuhan ekonomi mengakibatkan daya beli yang meningkat. Hal itu berpengaruh pada pola makan. Pola makan sayur-sayuran dan buah-buahan mulai ditinggalkan dan orang beralih mengonsumsi makanan olahan kaya kalori atau gula dan miskin serat. 

“Gizi tak selalu mahal, kan ada nilai ekonomis gizi. Cari kelompok-kelompok makanan yang nilai ekonominya rendah tapi cukup bergizi. Itu akan jadi solusi,” saran Anis.

Salah satu gaya hidup yang berkembang sejak 1847 adalah pola makan ala vegetarian. Menurut studi yang pernah dilakukan Toto di Gianyar, Bali, kelompok vegan paling banyak menderita penyakit anemia. Sedangkan kelompok nabatiwan lainnya tidak. 

“Ketika lagi musim flu, kelompok lacto vegetarian dan lacto ovo vegetarian ikut sakit flu, sedangkan vegan tidak. Mereka mengonsumsi makanan dengan kandungan basa yang tinggi. Radikal bebasnya rendah, otomatis antioksidannya tinggi, tapi anemianya juga paling tinggi,” tutur Toto. 

 Reporter: Amanullah Ginanjar Wicaksono

back to top