Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

"Hati saya berdesir saat melihat ke arah kiri"

Foto: Illustrasi Foto: Illustrasi

Surabaya-KoPi| Lelaki separuh baya itu memejamkan mata, berusaha mengingat apa yang terjadi suatu ketika pada masa yang lalu. Waktu saat dia sedang gundah menentukan pilihan.

"Waktu itu saya sedang berjalan di koridor rumah. Sore hari, telah sunyi. Lampu-lampu berusaha melawan gelap yang makin menggelombang." 

Tutur lelaki bernama Erry Dewanto tersebut kepada reporter KoPi. Ia menarik nafas dalam, sesaat kemudian mengeluarkannya halus. Kedua alisnya mengerut.

"Hati saya berdesir saat melihat kearah kiri. Saya terpana pada apa yang saya lihat. Seorang perempuan, mungkin berusia empat puluhan tahun, berjalan tertatih dengan tongkat. Kedua matanya tak bisa melihat."

Perempuan itu, lanjut Erry, ia sangka mengalami kebutaan sejak lahir. Betapa menderitanya perempuan tersebut, hati Erry Dewanto sesak oleh haru. Ia baru tahu belakangan bahwa perempuan itu menderita katarak. Seorang perempuan yang tinggal di luar kompleks tempat tinggal Erry.

Kedua mata memiliki dua fungsi utama sekaligus. Pertama, fungsi melihat dunia agar segala aktivitas menjadi optimal dan mengetahui kejadian. Kedua, fungsi keindahan penampilan bagi seorang laki-laki maupun perempuan. Kedua mata yang berbentuk indah dan sesuai dengan bentuk wajah, akan memberi estetika yang indah.

Erry Dewanto saat itu telah menjadi seorang dokter umum yang sedang berpikir akan mengambil spesialis apa. 

"Saya gundah ingin mengambil spesialis apa. Apa yang saya saksikan itu (perempuan penderita katarak, red.) sungguh berkesan. Saya ingin sekali bisa mengobati mereka yang menderita sakit mata, terutama katarak."

Tanpa ragu lagi, Dokter Erry memutuskan spesialis mata sebagai keahlian medis. Ia pun meneruskan studi spesialis mata di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada tahun 2002.

Selain studi spesialis mata, Dokter Erry mengikuti program fellowship bedah plastik dan rekonstruksi mata di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tahun 2003, dan mengikuti Brevet kompetensi bedah fakoemulsifikasi di FKUI tahun 2010.

Saat ini Dokter Erry merupakan ahli bedah katarak dengan teknik 'phacoemulsifikasi' atau teknik yang minim sayatan. Selain itu adalah pakar dalam bedah plastik rekonstruksi mata baik untuk tujuan kesehatan maupun estetika.

Selain menjalani sebagai dokter mata di Klinik Mata EDC baik di Jl. Kayon No. 3 Surabaya, Jl. Kalijaten Ruko Town House B/6 Sepanjang (telpon 031-7871170), serta klinik di Mojoagung Mojokerto, Dokter Erry juga menjalani diri sebagai aktivis sosial. Ia sering mengikuti bakti sosial, dan mendapat undangan memberikan pendidikan mata sehat dari pemerintah, swasta maupun masyarakat.

Sampai saat ini Dokter Erry telah memiliki jam terbang sangat tinggi, terlihat dari 2000 (dua ribu) lebih operasi katarak yang telah ia jalani.

Masyarakat pasti bangga memiliki dokter sepertimu, Dokter Erry! |A.G|

back to top