Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

"Hati saya berdesir saat melihat ke arah kiri"

Foto: Illustrasi Foto: Illustrasi

Surabaya-KoPi| Lelaki separuh baya itu memejamkan mata, berusaha mengingat apa yang terjadi suatu ketika pada masa yang lalu. Waktu saat dia sedang gundah menentukan pilihan.

"Waktu itu saya sedang berjalan di koridor rumah. Sore hari, telah sunyi. Lampu-lampu berusaha melawan gelap yang makin menggelombang." 

Tutur lelaki bernama Erry Dewanto tersebut kepada reporter KoPi. Ia menarik nafas dalam, sesaat kemudian mengeluarkannya halus. Kedua alisnya mengerut.

"Hati saya berdesir saat melihat kearah kiri. Saya terpana pada apa yang saya lihat. Seorang perempuan, mungkin berusia empat puluhan tahun, berjalan tertatih dengan tongkat. Kedua matanya tak bisa melihat."

Perempuan itu, lanjut Erry, ia sangka mengalami kebutaan sejak lahir. Betapa menderitanya perempuan tersebut, hati Erry Dewanto sesak oleh haru. Ia baru tahu belakangan bahwa perempuan itu menderita katarak. Seorang perempuan yang tinggal di luar kompleks tempat tinggal Erry.

Kedua mata memiliki dua fungsi utama sekaligus. Pertama, fungsi melihat dunia agar segala aktivitas menjadi optimal dan mengetahui kejadian. Kedua, fungsi keindahan penampilan bagi seorang laki-laki maupun perempuan. Kedua mata yang berbentuk indah dan sesuai dengan bentuk wajah, akan memberi estetika yang indah.

Erry Dewanto saat itu telah menjadi seorang dokter umum yang sedang berpikir akan mengambil spesialis apa. 

"Saya gundah ingin mengambil spesialis apa. Apa yang saya saksikan itu (perempuan penderita katarak, red.) sungguh berkesan. Saya ingin sekali bisa mengobati mereka yang menderita sakit mata, terutama katarak."

Tanpa ragu lagi, Dokter Erry memutuskan spesialis mata sebagai keahlian medis. Ia pun meneruskan studi spesialis mata di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada tahun 2002.

Selain studi spesialis mata, Dokter Erry mengikuti program fellowship bedah plastik dan rekonstruksi mata di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tahun 2003, dan mengikuti Brevet kompetensi bedah fakoemulsifikasi di FKUI tahun 2010.

Saat ini Dokter Erry merupakan ahli bedah katarak dengan teknik 'phacoemulsifikasi' atau teknik yang minim sayatan. Selain itu adalah pakar dalam bedah plastik rekonstruksi mata baik untuk tujuan kesehatan maupun estetika.

Selain menjalani sebagai dokter mata di Klinik Mata EDC baik di Jl. Kayon No. 3 Surabaya, Jl. Kalijaten Ruko Town House B/6 Sepanjang (telpon 031-7871170), serta klinik di Mojoagung Mojokerto, Dokter Erry juga menjalani diri sebagai aktivis sosial. Ia sering mengikuti bakti sosial, dan mendapat undangan memberikan pendidikan mata sehat dari pemerintah, swasta maupun masyarakat.

Sampai saat ini Dokter Erry telah memiliki jam terbang sangat tinggi, terlihat dari 2000 (dua ribu) lebih operasi katarak yang telah ia jalani.

Masyarakat pasti bangga memiliki dokter sepertimu, Dokter Erry! |A.G|

back to top