Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Enzim HO-1 adalah faktor resiko dari obesitas

Enzim HO-1 adalah faktor resiko dari obesitas

Vienna-KoPi, Peneliti Austria dan Jerman menemukan enxim HO-1 yang menjadi faktor kunci dalam menentukan tingkat penyakit yang diakibatkan obesitas, APA melaporkan Kamis (3/7).

Dalam sebuah koloborasi antara ilmuwan dari Medical University of Vienna Planck Institute Immunobiology and Epigenetics dan Paracelsus Medical University, menemukan bahwa penderita obesitas dengan tingkat lebih rendah dari enzim tersebut menunjukkan kecenderungan yang minim terhadap penyakit yang berhubungan dengan obesitas seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular.

Penelitian pertama dilakukan pada tikus, dimana ditemukan bahwa jika enzim berkurang dalam berbagai organ utama, tikus berat badannya masih naik tetapi tidak mengembangkan komplikasi terkait fatty liver atau kerusakan hati, dan sel-sel tidak mengembangkan resistensi terhadap insulin.

Kadar enzim tersebut diprediksikan tidak juga tergantung dengan berat badan, lingkar pinggang atau jumlah lemak di perut, kata Harald Esterbauer pemimipin penelitian, menambahkan ini adalah “kejutan yang lengkap”, dan berarti bagi para peneliti dalam menentukan faktor resiko yang baru mengenai obesitas.

(Fahrurrazi)
Sumber: Xinhua News

back to top