Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Down Syndrome bukan musuh kita

Down Syndrome bukan musuh kita

Jogja-KoPi│"Down Syndrome bukan penyakit menular, mereka sama dengan kita hanya saja mereka mengalami keterbelakangan. Mereka memiliki hak yang sama dan diperlakukan sama pula," jelas Sri Rejeki Ekasasi, Ketua Persatuan Orang Tua Anak Down Sindrom, Yogyakarta.

Penderita down syndrome kerap mendapat perlakuan yang berbeda di kehidupan masyarakat, dikucilkan dan dianggap bodoh. Prasangka-pransangka negatif kerap didapatkan mereka dari masyarakat sekitar.
“Masyarakat kadang takut terhadap anak down syndrome karena perilaku over mereka dan anggapan mereka bahwa down syndrome adalah hasil dari dosa besar dan persekutuan dengan setan," papar Sri Rejeki Ekasasi.

Padahal, down syndrome terjadi karena kelainan kromosom. "Kromosom ke-21 yang harusnya membelah dua, membelah tiga. Jadi ini bukan penyakit yang menular," jelas Sri Rejeki Ekasasi

Perilaku anak down syndrome sendiri tergantung dari cara mendidik orang tua terhadap anak. Anak akan menjadi pribadi yang baik dan tidak over ketika keluarga membiasakan mendidik mereka sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat.

"Baik tidaknya perilku anak down syndrome tergantung dari orang tuanya. Orang tua harus sabar dalam menanamkan nilai–nilai kepada anak down syndrome. Selain itu, orang tua juga harus tegas dalam memperlakukan anak-anak down syndrome, ketika bilang no hug, no touch, no kiss, sampai kapanpun harus tetap konsisten seperti itu," jelas Sri Rejeki Ekasasi.

Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak down syndrome. Penerimaan orang tua, kesabaran dalam mendidik, serta intervensi orang tua kepada anak berpengaruh besar terhadap sikap dan perilaku anak pada lingkungan. Selain orang tua, masyarakat juga perlu menerima keadaan anak down syndrome di tengah-tengah lingkungan mereka. "Anak down syndrome perlu dukungan dari semua pihak yang ada, baik dari pemerintah, medis, pendidikan, masyarakat, dan orang tua untuk perkembangan mereka karena mereka sebenarnya sama dengan kita dan tak seharusnya dikucilkan," tuturnya.

Sri Rejeki Ekasasi berharap orang tua, masyarakat, pemerintah, medis dan pendidikan (5 pilar) dapat mengakui keberadaan mereka dan menganggap mereka sama. Pemerintah seharusnya mensosialisasikan kepada masyarakat tentang down syndrome, termasuk hari down syndrome sedunia dan bagaimana seharusnya menghadapi anak down sindrom karena down syndrome bukanlah musuh kita. Frenda Yentin

 

back to top