Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Down Syndrome bukan musuh kita

Down Syndrome bukan musuh kita

Jogja-KoPi│"Down Syndrome bukan penyakit menular, mereka sama dengan kita hanya saja mereka mengalami keterbelakangan. Mereka memiliki hak yang sama dan diperlakukan sama pula," jelas Sri Rejeki Ekasasi, Ketua Persatuan Orang Tua Anak Down Sindrom, Yogyakarta.

Penderita down syndrome kerap mendapat perlakuan yang berbeda di kehidupan masyarakat, dikucilkan dan dianggap bodoh. Prasangka-pransangka negatif kerap didapatkan mereka dari masyarakat sekitar.
“Masyarakat kadang takut terhadap anak down syndrome karena perilaku over mereka dan anggapan mereka bahwa down syndrome adalah hasil dari dosa besar dan persekutuan dengan setan," papar Sri Rejeki Ekasasi.

Padahal, down syndrome terjadi karena kelainan kromosom. "Kromosom ke-21 yang harusnya membelah dua, membelah tiga. Jadi ini bukan penyakit yang menular," jelas Sri Rejeki Ekasasi

Perilaku anak down syndrome sendiri tergantung dari cara mendidik orang tua terhadap anak. Anak akan menjadi pribadi yang baik dan tidak over ketika keluarga membiasakan mendidik mereka sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat.

"Baik tidaknya perilku anak down syndrome tergantung dari orang tuanya. Orang tua harus sabar dalam menanamkan nilai–nilai kepada anak down syndrome. Selain itu, orang tua juga harus tegas dalam memperlakukan anak-anak down syndrome, ketika bilang no hug, no touch, no kiss, sampai kapanpun harus tetap konsisten seperti itu," jelas Sri Rejeki Ekasasi.

Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak down syndrome. Penerimaan orang tua, kesabaran dalam mendidik, serta intervensi orang tua kepada anak berpengaruh besar terhadap sikap dan perilaku anak pada lingkungan. Selain orang tua, masyarakat juga perlu menerima keadaan anak down syndrome di tengah-tengah lingkungan mereka. "Anak down syndrome perlu dukungan dari semua pihak yang ada, baik dari pemerintah, medis, pendidikan, masyarakat, dan orang tua untuk perkembangan mereka karena mereka sebenarnya sama dengan kita dan tak seharusnya dikucilkan," tuturnya.

Sri Rejeki Ekasasi berharap orang tua, masyarakat, pemerintah, medis dan pendidikan (5 pilar) dapat mengakui keberadaan mereka dan menganggap mereka sama. Pemerintah seharusnya mensosialisasikan kepada masyarakat tentang down syndrome, termasuk hari down syndrome sedunia dan bagaimana seharusnya menghadapi anak down sindrom karena down syndrome bukanlah musuh kita. Frenda Yentin

 

back to top