Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Awas cataract back log!

Awas cataract back log!

 

Dokter Erry menyebutkan besarnya angka tersebut akan menyebabkan cataract back log.

Ia menjelaskan, misalnya dari angka penduduk 1 juta jiwa, dan 3 persen menderita katarak. Artinya ada 30 ribu penderita katarak. Masalahnya, berapa kemampuan dokter mata mengoperasi penderita katarak dalam satu tahun?

“Katakanlah dokter spesialis mata mampu melakukan 200 operasi sebulan, artinya dalam setahun dokter mata bisa mengoperasi 2400 orang. Tapi masih ada 17.800 orang yang masih belum tersentuh, baik itu karena biaya, edukasi, atau macam-macam. Dan tiap tahun penderita katarak terus bertambah, baik karena pertambahan penduduk atau pertambahan usia. Jadi yang tidak tersentuh makin lama makin menumpuk dan tidak tertangani, jadi back log,” jelas Dokter Erry di kliniknya. Dia sendiri biasa mengoperasi 200 pasien dalam sebulan.

Sebagai dokter yang kerap mengikuti dan mengadakan operasi katarak gratis, Dokter Erry menggambarkan bagaimana sulitnya menjangkau mereka yang membutuhkan. Meskipun kegiatan itu diumumkan melalui radio atau hingga ke saluran pengumuman desa, biasanya yang bersedia datang hanya berkisar 100 orang.

“Padahal kendala biaya sudah kami selesaikan. Biasanya kalau kita mengadakan operasi gratis, bagi yang punya BPJS kita utamakan BPJS. Kalau bukan peserta BPJS biasanya kita gratiskan. Namun itu pun masih tidak bisa mengcover lebih banyak,” ujar Dokter Erry.

Keengganan masyarakat tersebut bisa jadi karena beragam alasan. Ada yang karena takut, ada yang khawatir masalah biaya, faktor jarak, dan lain sebagainya.

Dokter Erry menjelaskan bahwa jumlah dokter mata di daerah-daerah sebenarnya memadai. Namun itu hanya untuk pelayanan kesehatan mata di mana pasien sendiri mendatangi dokter mata. Sedangkan untuk dokter mata yang datang langsung menjemput bola mencari pasien yang perlu dioperasi masih sangat sedikit. Ditambah lagi dokter spesialis mata memiliki kemampuan yang berbeda-beda, mulai dari kecepatan operasi, pengalaman, dan sebagainya, sangat bervariasi.

“Memang untuk masalah ini perlu edukasi pada masyarakat. Dan memang harus ada grace program, seperti operasi katarak massal,” tukasnya.  |Amanullah Ginanjar|

back to top