Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Awas cataract back log!

Awas cataract back log!

 

Dokter Erry menyebutkan besarnya angka tersebut akan menyebabkan cataract back log.

Ia menjelaskan, misalnya dari angka penduduk 1 juta jiwa, dan 3 persen menderita katarak. Artinya ada 30 ribu penderita katarak. Masalahnya, berapa kemampuan dokter mata mengoperasi penderita katarak dalam satu tahun?

“Katakanlah dokter spesialis mata mampu melakukan 200 operasi sebulan, artinya dalam setahun dokter mata bisa mengoperasi 2400 orang. Tapi masih ada 17.800 orang yang masih belum tersentuh, baik itu karena biaya, edukasi, atau macam-macam. Dan tiap tahun penderita katarak terus bertambah, baik karena pertambahan penduduk atau pertambahan usia. Jadi yang tidak tersentuh makin lama makin menumpuk dan tidak tertangani, jadi back log,” jelas Dokter Erry di kliniknya. Dia sendiri biasa mengoperasi 200 pasien dalam sebulan.

Sebagai dokter yang kerap mengikuti dan mengadakan operasi katarak gratis, Dokter Erry menggambarkan bagaimana sulitnya menjangkau mereka yang membutuhkan. Meskipun kegiatan itu diumumkan melalui radio atau hingga ke saluran pengumuman desa, biasanya yang bersedia datang hanya berkisar 100 orang.

“Padahal kendala biaya sudah kami selesaikan. Biasanya kalau kita mengadakan operasi gratis, bagi yang punya BPJS kita utamakan BPJS. Kalau bukan peserta BPJS biasanya kita gratiskan. Namun itu pun masih tidak bisa mengcover lebih banyak,” ujar Dokter Erry.

Keengganan masyarakat tersebut bisa jadi karena beragam alasan. Ada yang karena takut, ada yang khawatir masalah biaya, faktor jarak, dan lain sebagainya.

Dokter Erry menjelaskan bahwa jumlah dokter mata di daerah-daerah sebenarnya memadai. Namun itu hanya untuk pelayanan kesehatan mata di mana pasien sendiri mendatangi dokter mata. Sedangkan untuk dokter mata yang datang langsung menjemput bola mencari pasien yang perlu dioperasi masih sangat sedikit. Ditambah lagi dokter spesialis mata memiliki kemampuan yang berbeda-beda, mulai dari kecepatan operasi, pengalaman, dan sebagainya, sangat bervariasi.

“Memang untuk masalah ini perlu edukasi pada masyarakat. Dan memang harus ada grace program, seperti operasi katarak massal,” tukasnya.  |Amanullah Ginanjar|

back to top