Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Antibiotik berlebihan pada hewan membuat tubuh manusia resisten obat

Antibiotik berlebihan pada hewan membuat tubuh manusia resisten obat

Sleman-KoPi| dr. Tri Wibawa, PhD, SpMK menghimbau masyarakat untuk waspada terhadap resistensi antibiotik, khususnya dengan hewan yang dikonsumsi manusia, ketika diwawancara di depan Gedung Graha Alumni Fakultas Kedokteran UGM, Rabu 1 Februari 2017.

Menurutnya ada dua hal yang perlu diwaspadai saat sebuah resistensi antibiotik berada pada hewan. Pertama, adanya kemungkinan residu antibiotik berada di dalam daging, sehingga ada kemungkinan antibiotik akan masuk ke tubuh kita dan memberikan efek-efek pada beberapa bakteri tertentu, bakteri tidak akan mati, namun memiliki kesempatan untuk berubah menjadi resisten.

“Artinya bakteri ini tidak benar-benar mati tapi bisa memberikan kesempatan untuk berubah sehingga betul-betul menjadi resisten,” papar pria pakar mikrobiotik.

Untuk dosis antibiotik yang ada di daging ini sedikit, tapi dr. Tri Wibawa berpendapat jumlah antiobiotik yang sedikit ini dapat menyebabkan pembasmian mikroba tidak seratus persen, dan dapat meninggalkan sisa mikroba lainnya.

Kedua, tentang bakteri yang masuk ke tubuh. Menurutnya, bakteri yang ada di manusia dan di hewan yang dikonsumsi dapat bersinggungan dan saling berinteraksi.

Selanjutnya, kedua bakteri ini dapat memberikan sifat saling resistens terhadap antibiotik. Sehingga jika tidak dikontrol di hewan, sifat resistensinya dapat ditularkan ke manusia.

“Bakteri yang ada di manusia dan di hewan akan sering berkomunikasi dan bisa saling memberikan resistensi.” Resistensi antibiotik ini dapat menyebabkan manusia menjadi kebal terhadap obat antibiotik dan membuat sebuah penyakit menjadi sulit disembuhkan.

Namun, Dr. Tri Wibawa tidak serta merta melarang memberikan jumlah antibiotik yang banyak ke hewan yang dapat dikonsumsi, karena permasalahan antibiotik ini memang harus dibicarakan tidak dalam satu sektor, perlu juga dilihat juga dari pertimbangan sektor lainnya.

Berkaitan dengan kondisi itu, drh. Rondius Solfaine, MP, Dosen Patologi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya membenarkan pendapat dr. Tri Wibawa. Menurutnya penggunaan antibiotik untuk hewan di industri sedemikian parah dan memberi kontribusi terhadap resistensi obat pada manusia.

"Iya benar," katanya melalui sambungan telepon. Calon doktor pada bidang patologi dari Universitas Airlangga ini kemudian menjelaskan kondisi lapangan yang terjadi.

"Industri unggas tidak patuh aturan Kementan dalam pengunaan antibiotika pada hewan alias aplikasinya seringkali tidak tepat dosis (berlebihan,red). Praktiknya seharusnya pengunaan antibiotik sebagai pengobatan kuratif tapi sering dipakai untuk pencegahan agar unggas tidak terserang penyakit.

Selain itu supervisi dokter hewan banyak ditemukan tidak bisa mengcover sampai ke kandang/farm dengan baik terutama farm komersial. Di sisi lain ada kepentingan bisnis industri obat hewan di farm perunggasan.

Jika ditelaah omzet obat hewan besar sekali di industri perunggasan indonesia. Padahal di negara maju Eropa dan Amerika antibiotik sudah sangat dibatasi pemakaiannya untuk hewan dengan supervisi dokter hewan ketat agar tepat dosis dan jenis antibiotiknya." |Syidiq Syaiful Ardli|

back to top