Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

6 Argumen Salah Kaprah tentang Vaksinasi

6 Argumen Salah Kaprah tentang Vaksinasi
KoPi| Meskipun vaksin sudah terbukti mencegah penularan berbagai macam penyakit, beberapa kalangan masih mempercayai vaksin memiliki efek samping yang berbahaya. Pemerintah telah menggalakkan pemakaian vaksin dan sosialisasinya, namun skeptisme masyarakat pada vaksinasi justru menyebar melalui dunia maya.
 

Kalangan anti-vaksinasi memiliki berbagai argumen yang menguatkan keyakinan mereka terhadap vaksin. Padahal, beberapa argumen tersebut salah kaprah, atau justru sudah tidak lagi relevan. Berikut beberapa argumen tersebut.

Argumen 1: Tidak ada bukti vaksin tidak menyebabkan autisme

Ini adalah bentuk argumen buruk yang disebut kekosongan bukti (evidence of absence). Mereka meyakini bukti yang tidak ada. Padahal, badan kesehatan internasional telah mempublikasikan berbagai penelitian yang menunjukkan tidak ada keterkaitan antara vaksinasi dengan autisme.

Argumen 2: Penelitian dari Inggris menyebutkan ada keterkaitan antara vaksinasi dengan autisme

Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal The Lancet pada tahun 1998 memang menyebutkan ada keterkaitan antara vaksinasi dengan autisme. Namun ketika penelitian tersebut ditelusuri kembali, diketahui bahwa Dr. Andrew Wakefield, dokter yang memimpin studi tersebut, telah berbohong dan memalsukan data. Lisensi Wakefield sebagai dokter kini telah dicabut.

Argumen 3: Ada banyak cerita tentang anak-anak yang menderita autisme setelah divaksinasi

Banyak cerita yang beredar di dunia maya mengenai dugaan dan tuntutan orangtua terhadap anaknya yang menderita autisme setelah divaksinasi. Namun, cerita tetaplah cerita. Tanpa bukti medis yang kuat cerita tersebut tidak bisa dipercaya. Meski dikatakan anak-anak tersebut pernah divaksinasi, hubungan tersebut tidak lantas menjadi penyebab autisme. Bila diperlakukan secara adil, ada studi yang menunjukkan adanya kesamaan pada waktu dan angka rata-rata peningkatan penjualan makanan organik dan autisme. Tentu saja hal itu tidak bisa dikatakan bahwa makanan organik menjadi penyebab autisme, meskipun masih berhubungan.

Argumen 4: Bukan urusan orang lain apakah anak saya divaksinasi atau tidak

Argumen ini menjadi dasar bagi penganut free choice di Amerika. Mereka menganggap mereka bebas memilih apakah anak-anak mereka divakasinasi atau tidak. Namun, mereka tidak menyadari tindakan mereka tersebut membahayakan kesehatan anak-anak lain yang belum mendapat vaksinasi karena belum cukup umur atau karena sebab lain.

Argumen 5: Vaksin bisa membebani sistem kekebalan tubuh anak-anak

Ketika bayi baru lahir, mereka terpapar berbagai virus penyebab penyakit, namun mereka cukup kuat untuk tidak langsung sakit. Karena itu, mayoritas dokter percaya bahwa sistem imun bayi mampu menerima berbagai antigen yang ada di dalam vaksin. Bahkan, ada dokter yang menyebutkan bahwa anak-anak terpapar lebih banyak antigen dari lingkungan dibandingkan antigen yang ada di dalam vaksin.

Argumen 6: Sistem kekebalan alami lebih baik daripada kekebalan yang diberikan vaksin

Kekebalan alami berasal dari reaksi tubuh yang terpapar penyakit dan mampu melawan infeksinya. Peneliti menemukan bahwa kekebalan yang didapat seseorang melalui vaksinasi sama bagusnya dengan kekabalan yang didapat secara alami. Karena itu, kekebalan karena vaksinasi selalu lebih baik karena seseorang tidak harus terserang penyakit tersebut, yang bisa jadi berbahaya.| The Huffington Post

back to top