Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Kain songket Desa Sukarara bernilai tinggi

 Pic. From : http://lombok.panduanwisata.com/oleh-oleh/berburu-songket-indah-khas-lombok-di-sukarara/ Pic. From : http://lombok.panduanwisata.com/oleh-oleh/berburu-songket-indah-khas-lombok-di-sukarara/
Lombok-KoPi-Lombok tidak hanya terkenal dengan wisata laut dan keeksotisan alamnya, tetapi juga sebagai penghasil kain tenun tradisional dan songket di Indonesia. Kain tenun sendiri menjadi sangat popular karena sering kali digunakan oleh para perancang busana baik lokal maupun internasional.

 

Salah satu desa yang menjadi pusat kerajinan kain tenun di Lombok adalah Desa Sukarara. Menempuh waktu selama 30 menit dari kota Mataram dengan menggunakan perjalanan darat.

Sebagian besar kaum perempuan di desa ini bekerja sebagai penenun. Sejak kecil diwajibkan bagi setiap perempuan untuk belajar menenun, keahlian menenun biasanya diwariskan oleh ibu kepada anak gadisnya.

Bagi masyarakat Lombok pada jaman dahulu kecantikan perempuan dilihat dari seberapa bisa dia menenun, selain itu perempuan yang sudah lihai dalam menenun dianggap sudah siap untuk menikah.

Pekerjaan menenun biasanya dilakukan di halaman rumah sehingga wisatawan dapat melihat kegiatan menenun di sepanjang jalan Sukarara. Gadis – gadis di Desa Sukarara mulai menenun dari motif awal yang paling sederhana hingga motif yang paling sulit.

Diantaranya adalah  motif – motif   rumah adat, lumbung, tokek dan yang lainnya. Bahan baku yang digunakan merupakan bahan – bahan dengan kualitas yang baik. Pengerjaan seutas kain tenun dapat memakan waktu dua minggu hingga dua setengah bulan, sesuai dengan tingkat kesulitannya.

Dalam pemilihan warnanya, penenun di Desa Sukarara juga mengambil pewarna dari alam, dari pohon jati, daun mahoni, anggur, pandan dan juga kulit manggis. Motif songket berwarna cerah merupakan salah satu motif tenun unggulan desa Sukarara. 

Berada di kecamatan Jonggot, Kabupaten Lombok Tengah, setiap penduduk di desa ini memiliki alat tenun tradisional. Bagi mereka menenun adalah denyut nadi kehidupan mereka untuk melestarikan warisan nenek moyang.

Harga sebuah kain tenun songket dibandrol berdasarkan tingkat kesulitan dalam pembuatannya. Rata – rata harga kain tenun antara seratus ribu hingga lima juta rupiah.

Namun sekarang ini, untuk mendapatkan kain tenun songket dari desa Sukarara tidak perlu jauh – jauh pergi ke Lombok, banyak desainer yang mulai menjadikan kain tenun khas desa Sukarara menjadi produk unggulan mereka yang juga sudah dijual baik melalui online ataupun offline di outlet – outlet yang tersebar diseluruh Indonesia.

 Reporter: Suci Wulandari


back to top