Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Candi Sojiwan, Cinta Cucu Kepada Neneknya

Candi Sojiwan, Cinta Cucu Kepada Neneknya

Klaten-KoPi|Bila Anda melihat kemegahan Borobudur atau kecantikan Prambanan, pernahkah sejenak berpikir, begitu jayanya masa itu. Suatu masa yang diabadikan sejarah. Jejak masa lalu ketika di nusantara pernah berdiri sebuah kerajaan besar, Mataram Kuno sekitar abad VIII-X masehi.

Kebesaran kerajaan Sanjaya ini masih bisa kita nikmati, tentu bukan semata deretan artistik tulisan pallawa atau bahasa sansekertanya. Kita bisa menelusuri peninggalannya melalui candi. Monumen yang merepresentasikan kisah kerajaan dan situasi sosialnya.

Ada beberapa candi peninggalan Mataram Kuno seperti Kerajaan Medang antara lain, Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Sambisari, Candi Sari, Candi Kedulan, Candi Morangan, Candi Ijo, Candi Barong, Candi Sojiwan, dan tentu saja yang paling fenomenal adalah Candi Borobudur.

Dari semua candi, Candi Sojiwan paling baru. Pemugaran awal sekitar tahun 1996. Meskipun termuda, Candi Sojiwan memiki nilai historis yang tinggi. Candi Sojiwan buah baktinya Raja Balitung kepada neneknya Nini Haji Rakryan Sanjiwana yang menganut agama Budha. Selintas Candi Sojiwan cerminan toleransi antar umat beragama kala itu.

Candi Sojiwan terletak di Desa Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten. Dari Prambanan masih dua kilometer ke selatan. 

Bangunan fisik candi tidak jauh berbeda dengan candi yang lainnya, hanya pada dinding Candi Sojiwan bersih tidak terdapat pahatan relief. Relief- relief terpahat pada bagian kaki candi. Rangkaian relief menggambarkan ajaran moral agama Budha. Penuturannya melalui fabel atau dongeng tentang binatang. 

Beberapa relief di antaranya gambar binatang sedang berkelahi, relief lomba antara garuda dan kura-kura, persahabatan seekor tikus dengan seekor ular, serigala dan banteng, serigala dan wanita, dan cerita kura-kura dan angsa. 

Sampai saat ini Candi Sojiwan masih mengalami pemugaran. Pemugaran juga dilakukan penelitian arkeologi. 

Hasilnya pun tidak sia-sia, penelitian ini menemukan struktur parit keliling, pagar halaman I sisi utara dan timur yang telah direkonstruksi, struktur pagar halaman II di sisi utara yang sebagianya telah direkostruksi dan dua deret struktur candi perwara stupa pada halaman II sisi utara, salah satu candi perwara stupa sudah direkonstruksi. 

Setelah peresmian tahun 2012 lalu, kondisi Candi Sojiwan nampak semakin cantik, walaupun rata-rata pengunjung masih sedikit sekitar 20 orang per harinya. Untuk tiket belum dilakukan secara formal. Pengunjung bisa memberikan infak seikhlasnya. |Winda Efanur FS|

back to top