Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Bunga Kayoon, nasibmu dulu dan kini

Pembeli memilih-milih bunga di salah satu kios di Pasar Bunga Kayoon Pembeli memilih-milih bunga di salah satu kios di Pasar Bunga Kayoon
Surabaya – KoPi. Pasar Bunga Kayoon oleh Pemerintah Kota Surabaya telah ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata Surabaya. Berada di pinggir sungai Kali Mas, Pasar Bunga Kayoon diharapkan membangkitkan kembali romantika masa lalu, tentang geliat ekonomi dan keindahan warna-warni bunga di sungai terbesar Surabaya itu.

Namun, di balik asrinya pasar bunga Kayoon tersimpan kenyataan pahit. Kehidupan ekonomi para pedagang tak seindah bunga-bunga yang mereka pajang. Meskipun telah diakui sebagai pusat wisata, pedagang bunga tak merasa ada perbaikan dalam pendapatan mereka.

Seperti yang diungkapkan oleh Mulyadi. Pedagang yang telah berjualan bunga di Pasar Kayoon sejak tahun 1995 itu mengaku sejak ditetapkan sebagai destinasi wisata Surabaya, banyak turis asing yang mampir. Namun, tak banyak yang membeli.

“Tidak ada yang berubah, Mas. Penghasilan masih tetap gini-gini saja. Memang lebih sering dikunjungi turis-turis. Tetapi mereka tidak ada yang beli. Kan mereka dilarang membawa bunga dari sini,” tuturnya.

Mulyadi bercerita, para pedagang di Pasar Bunga Kayoon dengan cara mengontrak ke Jasa Tirta. Kontraknya terbilang murah, setahun mereka hanya perlu membayar Rp 15 ribu per meter.

Adanya sentra PKL dan kafe-kafe di bagian selatan Jalan Kayoon rupanya juga kurang membawa dampak pada jumlah pengunjung. Para pedagang mengaku, sentra PKL dan kafe lesehan itu merupakan bagian yang terpisah dari Pasar Bunga. 

Sepanjang pengalaman mereka, tidak ada orang yang berkunjung ke sentra PKL kemudian memutuskan melihat-lihat atau sekedar berjalan-jalan ke pasar bunga. Pembeli bunga rata-rata langsung menuju ke kios dan parkir di depan kios bunga, lantaran tidak ada parkir khusus bagi pengunjung. 

Kondisi di belakang kios Pasar Bunga Kayoon

Sebagai destinasi wisata, Pasar Bunga Kayoon selalu menampilkan pemandangan indah, dengan deretan tanaman segar dan bunga-bunga cantik. Namun itu baru wajah depan saja. Di belakang kios-kios pedagang bunga tersebut, terlihat kesemerawutan layaknya pasar lain. Sampah-sampah bekas dekorasi maupun potongan bunga kadang dibuang begitu saja. Sebagian kadang hanyut ke Kali Mas.

Pedagang bunga lain, Yuli, mengatakan, bagian belakang kios bunga yang sekarang justru lebih baik daripada dulu. “Sebelum ditetapkan sebagai destinasi wisata, bagian belakang kios-kios ini hanya jalan tanah yang becek tiap kali hujan. Baru-baru ini saja dibangun jalan paving block oleh Jasa Tirta,” ungkap Yuli.

Sayang sekali destinasi wisata semacam Pasar Bunga Kayoon yang menawarkan keindahan ini justru kurang tertata. Kita mungkin masih harus belajar banyak pada Bloemenmarket, pasar bunga terapung di Amsterdam, yang mampu menghadirkan keindahan bunga di keriuhan kota dan pinggiran sungai.

Reporter: Amanullah Ginanjar Wicaksono

 

back to top