Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Tiga game, pemain Syria terhenti

Tiga game, pemain Syria terhenti

Surabaya-KoPi| Seri ke delapan Djarum Sirkuit Nasional (Djarum Sirnas) Li Ning Open 2015 sudah berlangsung sejak kemarin (9/10) di GOR Sudirman, Surabaya. Tak hanya pemain Indonesia, turnamen yang kali ini memperebutkan hadiah total Rp 270 juta ini pun turut diramaikan pemain asing. Salah satu diantaranya adalah Aljallad Ahmad, Syria.

Merangkak dari babak kualifikasi, Ahmad harus langsung terhenti di babak utama. Berhadapan dengan pemain asal Pelita Bakrie Jakarta, M Ahdial Octa Khairullah, Ahmad sebenarnya bisa mengimbangi permainan Ahdial. Di babak pertama, Ahmad yang berlatih di PB Djarum pada satu bulan terakhir ini berhasil memimpin perolehan angka. Ia berhasil memimpin 20-16 sebelum akhirnya bisa menutup game pembuka ini dengan 21-16.

Di game kedua, Ahmad langsung tertinggal. Ia tak bisa berbicara banyak, hanya 10 angka yang ia kumpulkan dan membuat permainan berlanjut ke game ketiga.

"Di game kedua saya memikirkan lutut saya, lutut saya benar-benar sakit jadi saya lebih banyak hati-hati dan hanya mengikuti irama permainan lawan," ujar Ahmad usai laga.

Game pamungkas berlangsung ketat. Ahmad berhasil memimpin 11-9 di interval. Ia pun berhasil terus memimpin hingga 16-14, sayang dua kesalahan beruntun membuat skor menjadi imbang 17-17. Ia pun bahkan balik tertinggal 18-20. Sempat menambah satu angka, 19-20, keputusan hakim garis yang menyatakan smash Ahdial masuk wilahnya terlihat membuatnya kecewa. Ia pun kalah 19-21.

"Saya benar-benar kecewa dengan keputusan hakim garis hari ini, satu angka itu membuat saya kehilangan pertandingan. Di game pertama saya sudah bermain baik, saya berusaha tampil menyerang dalam tempo cepat. Di game ketiga pun sama, hanya saja saya memang sempat kehilangan fokus karena lutut saya kembali terasa sakit. Saat saya sudah bisa kembali ke lapangan, keputusan hakim garis sangat mengecewakan saya," tuturnya.

Ahmad adalah atlet asal Syria yang dalam satu bulan terakhir berlatih di PB Djarum, Kudus. Ia sudah satu bulan berada di markas PB Djarum itu. Ahmad memulai kiprah bulutangkisnya sejak usia 12 tahun, sang ayah dan sang kakaklah yang mengenalkannya pada bulutangkis.

"Awal saya suka bulutangkis karena kakak saya dan ayah saya bermain, saya mencoba dan ternyata saya suka. Saya ingin bisa jadi atlet bulutangkis, saat ini saya berada dibawah BAC (Konfederasi Bulutangkis Asia), negara saya sedang berperang," ujarnya.

Usai Djarum Sirnas seri kedelapan ini, Ahman mengaku akan kembali berlatih di PB Djarum. "Setelah ini mungkin saya akan kembali berlatih di Kudus, mungkin satu bulan, tetapi kalau turnamen saya belum tahu akan bermain lagi kapan, karena ada beberapa kendala yang harus saya hadapi untuk bermain," pungkas atlet yang lahir di Damaskus, 4 April 1997.

back to top