Menu
Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Prev Next

Tenis dunia dicurigai dilanda korupsi

Tenis dunia dicurigai dilanda korupsi
KoPi| Skandal korupsi olahraga ternyata tidak hanya melanda dunia sepakbola saja. Bahkan, tenis yang dianggap olahraga bangsawan juga terindikasi dipenuhi korupsi. Beberapa juara Turnamen Grand Slam diduga terlibat dalam pertandingan yang sudah diatur skornya selama 10 tahun terakhir.
 

Sebuah penyelidikan yang dilakukan oleh Buzzfeed News dan BBC mengungkapkan bahwa ada 16 petenis yang masuk dalam daftar 50 top dunia terlibat dalam skandal tersebut. Mereka terlibat dalam pengaturan skor di berbagai pertandingan, termasuk 3 pertandingan di Wimbledon. Kesepakatan itu disebut sebagai upaya agar mereka dapat mempertahankan karir mereka di dunia tenis.

Setelah laporan tersebut diungkapkan kepada publik, petenis pria nomor 1 dunia Novak Djokovic mengungkapkan dirinya pernah ditawari sejumlah uang agar mengalah dalam sebuah pertandingan di St Petersburg. Djokovic menyebutkan, tawaran dengan nilai 110 ribu Poundsterling (sekitar Rp 2,1 miliar) tersebut ditolak sebelum sampai pada dirinya.

"Saya tidak didekati secara langsung. Mereka mendekati saya melalui orang-orang yang bekerja dengan saya pada waktu itu," ungkap Djokovic.

Petenis pria asal Serbia tersebut mengaku sama sekali tidak tahu menahu mengenai pengaturan hasil pertandingan yang melibatkan petenis peringkat atas dunia. "Sepengatahuan saya, tidak ada pengaturan skor di peringkat atas. Di turnamen tingkat Challenger, mungkin ada, mungkin tidak. Tapi saya tidak punya kapasitas untuk mengatakan hal itu," katanya.

Meski demikian, hingga saat ini tidak ada penyelidikan terhadap petenis-petenis tingkat dunia. Hal itu karena adanya peraturan anti-korupsi yang baru diberlakukan pada tahun 2009. Para pengacara petenis menyebutkan aturan tersebut membuat pelanggaran yang dilakukan sebelum tahun 2008 tidak bisa diselidiki.

Kecurigaan mengenai pengaturan hasil pertandingan telah beredar sejak lama. Skandal ini diduga melibatkan jaringan penjudi dari Rusia dan Sisilia. Mereka diduga bisa meraup keuntungan miliaran dalam turnamen yang sudah diatur hasilnya, seperti di Wimbledon dan Prancis Terbuka.

Para pemain disebutkan didekati ketika mereka berada di hotel sebelum menjalani turnamen. Mereka ditawari uang dengan nilai minimal 35.200 Poundsterling (sekitar Rp 700 juta). |Daily Mail|

back to top