Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Tenis dunia dicurigai dilanda korupsi

Tenis dunia dicurigai dilanda korupsi
KoPi| Skandal korupsi olahraga ternyata tidak hanya melanda dunia sepakbola saja. Bahkan, tenis yang dianggap olahraga bangsawan juga terindikasi dipenuhi korupsi. Beberapa juara Turnamen Grand Slam diduga terlibat dalam pertandingan yang sudah diatur skornya selama 10 tahun terakhir.
 

Sebuah penyelidikan yang dilakukan oleh Buzzfeed News dan BBC mengungkapkan bahwa ada 16 petenis yang masuk dalam daftar 50 top dunia terlibat dalam skandal tersebut. Mereka terlibat dalam pengaturan skor di berbagai pertandingan, termasuk 3 pertandingan di Wimbledon. Kesepakatan itu disebut sebagai upaya agar mereka dapat mempertahankan karir mereka di dunia tenis.

Setelah laporan tersebut diungkapkan kepada publik, petenis pria nomor 1 dunia Novak Djokovic mengungkapkan dirinya pernah ditawari sejumlah uang agar mengalah dalam sebuah pertandingan di St Petersburg. Djokovic menyebutkan, tawaran dengan nilai 110 ribu Poundsterling (sekitar Rp 2,1 miliar) tersebut ditolak sebelum sampai pada dirinya.

"Saya tidak didekati secara langsung. Mereka mendekati saya melalui orang-orang yang bekerja dengan saya pada waktu itu," ungkap Djokovic.

Petenis pria asal Serbia tersebut mengaku sama sekali tidak tahu menahu mengenai pengaturan hasil pertandingan yang melibatkan petenis peringkat atas dunia. "Sepengatahuan saya, tidak ada pengaturan skor di peringkat atas. Di turnamen tingkat Challenger, mungkin ada, mungkin tidak. Tapi saya tidak punya kapasitas untuk mengatakan hal itu," katanya.

Meski demikian, hingga saat ini tidak ada penyelidikan terhadap petenis-petenis tingkat dunia. Hal itu karena adanya peraturan anti-korupsi yang baru diberlakukan pada tahun 2009. Para pengacara petenis menyebutkan aturan tersebut membuat pelanggaran yang dilakukan sebelum tahun 2008 tidak bisa diselidiki.

Kecurigaan mengenai pengaturan hasil pertandingan telah beredar sejak lama. Skandal ini diduga melibatkan jaringan penjudi dari Rusia dan Sisilia. Mereka diduga bisa meraup keuntungan miliaran dalam turnamen yang sudah diatur hasilnya, seperti di Wimbledon dan Prancis Terbuka.

Para pemain disebutkan didekati ketika mereka berada di hotel sebelum menjalani turnamen. Mereka ditawari uang dengan nilai minimal 35.200 Poundsterling (sekitar Rp 700 juta). |Daily Mail|

back to top