Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Momen terbaik Di Stefano

Di Stefano berfoto dengan piala Eropa (sekarang Liga Champion)) Di Stefano berfoto dengan piala Eropa (sekarang Liga Champion)) Foto: Getty Images

Madrid-KoPi. Alfredo Di Stefano, salah seorang bintang paling terang di buku sejarah sepakbola dunia, telah diakui kehebatannya, bukan saja oleh para pundit, namun juga bintang dunia di masanya. Eusebio memujinya setiggi langit dengan penggambaran "Pemain dengan skill paling lengkap sepanjang sejarah".

Lahir di Buenos Aires di tahun 1926, Di Stefano bermain di Argentina, Spanyol dan Kolombia di level internasional, namun tidak pernah berkiprah di kancah piala dunia.

Kesuksesannya berawal saat ia berkostum Real Madrid di mana ia menghabiskan 11 tahun, antara 1953 hingga 1964. Dikenal sebagai la Saeta Rubia (Busur panah berambut pirang), ia bergabung dengan Madrid di umur 27 tahun setelah sebelumnya berkarir di Amerika latin.

Ia menjadi aktor penting Madrid menggondol piala Eropa lima kali berturut-turut dan delapan titel La Liga, mencetak 216 gol dan caps 282 pertandingan. 

Kedatangan Di Stefano menjadi pertanda awal dominasi Los Merengues di kancah benua biru. Ia adalah pemain terbaik sebagai tim ibukota Spanyol itu sejak pertama kali berdiri 112 tahun yang lalu.

Di Stefano selalu mencetak 1 gol di final piala Eropa lima kali berturut-turut, termasuk di final tahun 1960, salah satu pertndingan terbaik di kompetisi paling bergengsi di benua Eropa.

madrid mengalahkan Eintracht Frankfurt 7-3 di Hampden Park dihadapan 130.000 penonton. stadion itu menjadi pertunjukan tunggal Di Stefano. ia mencetak hat-trick dan tandemnya, Ferenc Puskas mencetak quat-trick.

Gelar individual yang diraihnya adalah, pemain terbaik Eropa di tauhn 1957 dan 1957 dan memenangi lima kali gelar el pichichi (pencetk gol terbanyak) antara tahun 1953 dan 1959

Walaupun ia diplot sebagai penyerang tengah, ia memiliki kemampuan serba guna, bermain di seluruh sisi lapangan dan secara konstan berlari untuk mencari bola.

legenda timnas Inggris, Sir Bobby Charlton menyebut Di Stefano sebagai pemain terbaik yang pernah ada.

"Alfredo Di Stefano adalah pemain terbaik yang pernah saya saksikan, pemain paling berintelejensi yang pernah saya lihat di dunia sepakbola. Real Madrid kala itu, saya kira tidak ada satu pemain pun yang lebih baik dari dia."

Bagi Diego Maradona, Di Stefano lebih baik daripada Pele.

Setelah meninggalkan Real dan gantung sepatu, Di Stefano menjadi pelatih yang cukup sukses, memenangi titel liga Argentina bersama Boca Juniors dan River Plate dan titel La Liga bersama Valencia di tahun 1971. namun seperti yang diakuinya, menjadi pemain adalah "jatuh cinta pertamanya" ketimbang menjadi menajer

Untuk menghargai jasanya, ia diganjar sebagai Presiden kehormatan real Madrid, di mana patungnya dipajang di depan pintu masuk stadion Santiago Bernabeu.

 

Nora

back to top