Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Momen terbaik Di Stefano

Di Stefano berfoto dengan piala Eropa (sekarang Liga Champion)) Di Stefano berfoto dengan piala Eropa (sekarang Liga Champion)) Foto: Getty Images

Madrid-KoPi. Alfredo Di Stefano, salah seorang bintang paling terang di buku sejarah sepakbola dunia, telah diakui kehebatannya, bukan saja oleh para pundit, namun juga bintang dunia di masanya. Eusebio memujinya setiggi langit dengan penggambaran "Pemain dengan skill paling lengkap sepanjang sejarah".

Lahir di Buenos Aires di tahun 1926, Di Stefano bermain di Argentina, Spanyol dan Kolombia di level internasional, namun tidak pernah berkiprah di kancah piala dunia.

Kesuksesannya berawal saat ia berkostum Real Madrid di mana ia menghabiskan 11 tahun, antara 1953 hingga 1964. Dikenal sebagai la Saeta Rubia (Busur panah berambut pirang), ia bergabung dengan Madrid di umur 27 tahun setelah sebelumnya berkarir di Amerika latin.

Ia menjadi aktor penting Madrid menggondol piala Eropa lima kali berturut-turut dan delapan titel La Liga, mencetak 216 gol dan caps 282 pertandingan. 

Kedatangan Di Stefano menjadi pertanda awal dominasi Los Merengues di kancah benua biru. Ia adalah pemain terbaik sebagai tim ibukota Spanyol itu sejak pertama kali berdiri 112 tahun yang lalu.

Di Stefano selalu mencetak 1 gol di final piala Eropa lima kali berturut-turut, termasuk di final tahun 1960, salah satu pertndingan terbaik di kompetisi paling bergengsi di benua Eropa.

madrid mengalahkan Eintracht Frankfurt 7-3 di Hampden Park dihadapan 130.000 penonton. stadion itu menjadi pertunjukan tunggal Di Stefano. ia mencetak hat-trick dan tandemnya, Ferenc Puskas mencetak quat-trick.

Gelar individual yang diraihnya adalah, pemain terbaik Eropa di tauhn 1957 dan 1957 dan memenangi lima kali gelar el pichichi (pencetk gol terbanyak) antara tahun 1953 dan 1959

Walaupun ia diplot sebagai penyerang tengah, ia memiliki kemampuan serba guna, bermain di seluruh sisi lapangan dan secara konstan berlari untuk mencari bola.

legenda timnas Inggris, Sir Bobby Charlton menyebut Di Stefano sebagai pemain terbaik yang pernah ada.

"Alfredo Di Stefano adalah pemain terbaik yang pernah saya saksikan, pemain paling berintelejensi yang pernah saya lihat di dunia sepakbola. Real Madrid kala itu, saya kira tidak ada satu pemain pun yang lebih baik dari dia."

Bagi Diego Maradona, Di Stefano lebih baik daripada Pele.

Setelah meninggalkan Real dan gantung sepatu, Di Stefano menjadi pelatih yang cukup sukses, memenangi titel liga Argentina bersama Boca Juniors dan River Plate dan titel La Liga bersama Valencia di tahun 1971. namun seperti yang diakuinya, menjadi pemain adalah "jatuh cinta pertamanya" ketimbang menjadi menajer

Untuk menghargai jasanya, ia diganjar sebagai Presiden kehormatan real Madrid, di mana patungnya dipajang di depan pintu masuk stadion Santiago Bernabeu.

 

Nora

back to top