Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

TEATER, TANAH, dan TAI

Schetza - blogger Schetza - blogger

Selamat berteater

Apa teater sudah selamat ?

Selamat akan kesetian dalam berteater
Apa sudah tak ada kesetian dalam berteater ?

 Selamat yang tanpa jenuh terus berteater

Apa tak ada kejenuhan dalam berteater ?

Selamat akan pentas-pentas teater
Apa teater harus dipentaskan ?

Selamat bagi para pejuang-pejuang teater
Apa teater memang harus diperjuangkan ?

Selamat bagi para teaterawan yang bergerak tanpa biaya
Apa teater tidak membutuhkan biaya ?

Selamat kepada para penonton-penonton teater
Apa teater masih membutuhkan penonton ?

Selamat bagi insan-insan yang memasyarakatkan teater
sehingga teater benar-benar bisa merambah ke segala bidang
di bidang olah raga ada teater sepak bola gajah
di bidang ekonomi bisa memahami untung dan rugi menjadi ilmu dagang
di bidang politik mampu dimainkan dengan lihai oleh para politisi
sehingga paham model drama : tragedi, komedi maupun melodrama

Namun,
Akting-akting dahsyat yang sangat membumi dengan peranya, adalah ketika terjadi penggusuran pada rakyat miskin yang dilakukan para petugas suruhan penguasa atas nama pembangunan dan ketertiban
Ada tangis
Pilu
Perlawanan
Amarah
Semua mengalir secara nyata tanpa sebuah kepura-puraan,yang sering disajikan dalam pertunjukan teater di panggung-pangung dan gedung-gedung.

Apa Teater Berkembang ?

Perkembangan teater saat ini seperti roda yang menggelinding tanpa gas dan tanpa rem yaitu tancap terus namun belum tahu mau kemana. Group maupun komunitas-komunitas menjamur sudah tak terhitung berapa jumlahnya.

Pertunjukan-pertunjukan sudah banyak dipanggungkan dan ditulis dimedia-media menjadi berita atau tinggal berita. Nama dan momentum menjadi eksistensi untuk sebuah pencapaian, tetapi pencapain yang seperti apa.

Teater masih seperti teater yang berteater tentang teater dan berkutat dalam sebuah teater. Apa teater hanya seonggok gedung, pekerja (pemain dan kru panggung), sekaligus kegiatannya (isi pentas-peristiwa).

Apa teater masih menjadi peta buta yang toleh kanan-toleh kiri seperti menyebrang dijalanan yang padat kendaraan. Atau sudah melenggang kangkung dijalan tol dengan pemandangan pohon-pohon dan jembatan-jembatan yang panjang.

Untuk Apa Teater Dipelajari

Gedebak gedebuk sebuah langkah, geliat tubuh dalam gerak, desah dan lengkingan suara menjadi unsur yang dilatih untuk menjadikan teater ada. Dilatih untuk tidak kehilangan daya tarik, diolah untuk tidak kehilangan calon teaterawan, dan dibangun kerja untuk tidak kehilangan kolektifitas.

Teater bukanlah elititas dalam kesendirian, teater merupakan nilai bangun kebersamaan, teater adalah cara sebuah ritual bersama.

Disiplin group dan disiplin pribadi yang mula-mula perlu dibangun sehingga mampu mewujudkan ansamble yang terjaga. Kekuatan teater bukan semata pada seorang aktor namun kesolidan group atau komunitas.

Teater adalah dunia pergerakan, dunia perjuangan, dunia proses, dunia organisasi, dunia karakter untuk membangun pribadi yang utuh dalam balutan kerja tim. Liar bukan berarti arogan, urakan bukan berarti maunya sendiri, karena teater hadir dan mengalir bersama komunitas.

Teater menjadi sebuah gerakan sosial yang bicara tentang masyarakat, pengaruh dan dampaknya. Teater menjadi gerakan kegembiraan hiburan sehat dalam kesadaran. Teater menjadi seni dalam ruang ekspresi tentang sebuah tata dan etika. Teater menjadi dokumentasi jaman pada sebuah bangsa.

Mempelajari teater adalah mempelajari kemungkinan-kemungkinan untuk menjadi ada. Terus mencari bukan dalam kebakuan kaku, tetapi workshop demi workshop untuk terus peka pada sebuah kesadaran pikiran, kesadaran pancaindera, kesadaran bathin,dan kesadaran naluri.

Mau dan rutin berlatih merupakan langkah menjaga semangat, selain melatih daya tahan tubuh juga rasa peduli antar teman. Teater bukan mencari juara atau pemenang tetapi teater melahirkan pemikir sekaligus penggerak tentang kesadaran pada masyarakat.

Tubuh dan Aktor

Adalah salah satu cabang ilmu seni yang khusus mempelajari bagaimana teknik menciptakan dan memainkan peran (berakting) sebagai seorang tokoh tertentu baik di atas pentas (panggung) maupun dalam sebuah film. Dan pelaku seni peran ini disebut sebagai aktor….siapapun bisa menjadi aktor asal mau melatihnya dan punya disiplin, bisa dikatakan punya resep persiapan menjadi seorang aktor.

Modal utama seorang aktor adalah tubuhnya, torso. Tubuh adalah instrument yang siap dibunyikan (disuarakan atau digerakan) oleh karena itu menguasai tubuh menjadi hal mendasar bagi seorang aktor. Seorang aktor harus menguasai tubuhnya. Setiap gerak yang dilakukan diatas panggung harus ada maknanya.

Setiap gerak harus mempunyai motif. Jika tidak ia hanya sekedar bergerak-gerak dan akibatnya permainanya tidak akan memikat. Descartes membagi tubuh menjadi kesadaran dan badan jadi akting adalah perbuatan sadar seorang aktor, atau perbuatan sadar yang disengaja untuk pertunjukkan kepada penonton.

Dalam seni peran vokal adalah modal dasar lain seorang aktor yang sama utamanya dengan tubuhnya. Vokal adalah bahasa seorang aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton, baik secara tersurat maupun tersirat.

Bahasa, bagi seorang aktor adalah alat untuk menstimuli ekspresi dan deskripsi, bukan saja untuk hal lahir tetapi juga hal batin. Jenis vokal keras lirih suaranya dibingkai dalam istilah pianissimo, piano, mezoporte, forte, fortissimo. Pianissimo adalah menyanyi dengan sangat lirih, piano lirih, mezoforte setengah keras, forte keras, fortissimo keras sekali.

Nah dalam seni drama keras suara yang paling minim adalah mezoforte, penggunaan pianissimo dan piano adalah kesalahan fatal sebab suara aktor tidak akan terdengar dari penonton yang paling depan sekalipun. Ada birasa, birama, biraga. Tahap birasa membentuk pernafasan dengan perut sekaligus melatih otot-otot perut misal menyanyikan atau mengucapkan model pianissimo akan tetap kuat dan jelas.

Tahap selanjutnya melatih otot-otot diafragma yang nantinya kita diantar ketahap birama yang artinya mampu menghidupkan rasa, birama berkaitan dengan tempo permainan. Kemudian melatih otot-otot leher ini akan menghasilkan suara yang keras tetapi tidak pecah lalu berlanjut dengan suara kepala artinya sekeras apapun suara akan terasa enteng mengucapkan ini disebut pencapaian tahap biraga atau melakonkan. Jadi proses mengolah alam badan harus seiring dengan proses mengolah alam suara.

Dalam teknik Boleslavski tahap birasa dan birama disebut tahap memahami, biraga tahap melakonkan. Tata artinya menata, seorang aktor harus bisa menata maka mulailah belajar menata hal-hal kecil. Ruang kerja, lemari pakaian, ruang tamu, dapur atau apa saja kemahiran menata akan melatih otak kanan untuk mulai untuk membayangkan gambar besar. Menata analog dengan menyusun.

Menyusun berawal dari yang terendah kemudian semakin keatas. Menata membiasakan seorang aktor memahami letak, yang dipanggung disebut bloking. Dan kebiasaan ini harus tetap dilakukan walau pun telah menjadi aktor hebat.

Ada tata lalu ada titis, tatag, tetes ini adalah tahapan atau tangga sebuah proses kreatif. Titis, artinya seorang aktor harus menguasai ilmu secara lengkap dari A sampai Z. sebab tanpa mengenal dan menguasai ilmu secara lengkap, seorang aktor akan kesulitan memainkan perannya.

Tatag, artinya mempunyai keberanian untuk melakukan tindakan atas kemampuan menata dan penguasaan keilmuan, yang tentu saja akhirnya akan melahirkan. Tetes, menetaskan sebuah karya.

Tahapan ini bisa dicapai apabila punya jembatan neng, ning, nong, nang. Neng itu meneng, diam, menep, mengendapkan kesadaran, menghayati, kristalisasi. Ning, wening, uninga, bening, maya, transparan, wedanta. Hanya orang yang sudah mencapai tahap neng akan mencapai kebeningan.

Bisa melihat segala sesuatu dengan terang trawaca, jelas benderang, tak terhalang. Segala menjadi terpahami. Nong, unong, mengerti, melihat dengan mata hati, dengan rasa, inilah juga disebut tahap birasa. Nang, unang, ngunangi, to detec, menemukan, mendapatkan inspirasi, melimpahnya gagasan dan kasih sayang, abudance mentality.


Tanah dan Ide


Tanah ini tanah siapa
Tanah ini milik siapa
Tanah ini apa bertuan
atau tanah yang tak bertuan

Alang-alang dan juga rumputan.
Tumbuh liar di tanah datar
Batu, gunung, pohon-pohon besar
Menjadi sosok-sosok yang kekar

Hutan-hutan di alam purba
Pohon-pohon tanpa nama
Tumbuh bagai sang raksasa
Air sungai mengalir…mengalir berkelokan
Membelah belantara
Bersatu dalam telaga
Ikan kecil bermain
Burung-burung terbang menyebrangi.
Telaga masih berwarna jernih
Dan bidadari-bidadari masih sering mandi


SANTRUNG :
Tanah airku, tanah kelahiranku dan tanah leluhurku maupun tanah warisanku. Bermula dari tanah kita kembali menyapa, bermula dari tanah kita menjadi ada. Tanah menjadi tempat berpijak bahkan menjadi awal berangkat untuk menata dan merawat.

Tanah perlu dirawat, diurus dan dipertahankan, tanah dimanapun adalah tanah suci, tanpa dosa dan tanpa penderitaan. Tanah adalah tempat mengabdi dan awal dari sejarah……. sejarah kelahiran kita, sejarah perjuangan kita.

Tanah kelahiran sekaligus tanah perjuangan……tetapi tanah-tanah urugan ini menimbun telaga, mematikan mata air. Tanah bongkahan, batu runcing maupun beling dan kaca menimbun telaga menimbun kehidupan.

LOLONGAN : (melolong menjadi-jadi )

SANTRUNG :
Dahulu telaga ini adalah tempat saya berenang waktu kecil, inilah salah satu keunikan tanah kelahiran kami, keunikan sekaligus keangkeran, tempat kami masih banyak tempat- tempat yang wingit banyak roh-roh penunggunya kalau malam menjadi tempat yang misteri namun bila pagi setelah ayam berkokok kampung kami dan kampung tetangga mulai gaduh dapur-dapur mulai mengepulkan asap membuat lalat-lalat tak berani masuk, kambing-kambing mulai mengunyah dedaunan dan anak ayam mulai makan jagung dan gabah namun kini menjadi sunyi entah mengunsi kemana.

Tetapi sekarang pohon- pohon di hutan larangan mulai terbalik roboh dihajar mesin-mesin, burung-burung kehilangan sangkarnya burung prenjak mencak-mencak, anak kera jatuh terbanting karena ranting patah.

LOLONGAN : (melolong, menjerit bersuara tanpa jelas kata-kata )

SANTRUNG :
Dan telaga ini telah diuruk oleh bongkahan-bongkahan tanah, tanah-tanah galian yang tak kutahu dari mana. Truk-truk menderu lalu lalang membongkar muatan tanah-tanah dan menguruknya asal-asalan telaga itu sudah tak terbentuk….. aaahhhhh……..Telaga itu sekarang menjadi gundukan tanah dari puing-puing robohan bangunan, aku sendiri juga tidak tahu dari mana berasal. Ada bebatuan, pecahan bata merah, pecahan keramik maupun ada beling dan kaca dan juga paku-paku…..(tiba-tiba datang orang membawa gerobak lalu menguruk tanah dengan sekenanya )

SANTRUNG :
…….Eeeee sebentar saya mau tanya pada bapak bahwa tanah-tanah ini bapak ambil dari mana.

PENGURUK 1 :
Tanah ini saya ambil dari truk-truk yang mogok karena tak bisa melanjutkan ke tempat ini, ada tiga truk hari ini mogok dan tak bisa dinyalakan mesinnya….lalu mereka menyuruh mengankutnya pakai gerobak kecil ini.

SANTRUNG :
Lho aneh tiga-tiganya bisa mogok…..mesin rusak karena mobil tua atau kehabisan bahan bakar.

PENGURUK 1 :
Bukan karena mobil tua, namun mesin yang tak bisa dinyalakan…..kata sopirnya mobil baru 2 minggu beli jadi masih gres…..


LOLONGAN : uuuuuuuuuuu……….iiiiiiiiiii…….sakiiiiiiitttt…….aduuuuuuhhhhhhhh.

PENGURUK 1 :
Hantuuuu (lari sampai gerobak urugan ditinggal begitu saja )

SANTRUNG :
Hantu…..aneh apa ada suara dari tadi tak ada suara….ya aku ingat telaga ini memang konon berhantu banyak penunggu. Pernah waktu itu ada dua pasang berpacaran dan tiba-tiba kesurupan bahkan yang laki-laki pinsan dan dalam perjalanan nyawanya tak tertolong karena jantungan…….tempat ini bukan tempat sembarangan…..saya perlu memastikan benarkah truk itu mogok (Santrung pergi mencari tempat 3 mobil truk yang mogok )

LAMPU GELAP DAN PELAN-PELAN MENYALA……ada bongkahan tanah yang bergerak

SOSOK 1 :
Uuuuhg……uuuuuhg….aaaakkkkk……(suara geliat dalam urugan beberapa bongkahan tanah bergerak beberapa puing ada yang terlempar_munculah sosok dari dalam tanah urugan tangannya mengapai-gapai dan tergulinglah dia )

LAMPU SAMAR-SAMAR MENYALA MUNCUL BEBERAPA ORANG MENARIK GEROBAK BERISIKAN MAYAT-MAYAT DAN DIBUANGLAH DI URUGAN BEKAS TELAGA.

SOSOK 1 :
………..(menyayat kesakitan ) Gelap…..pedih……susah bernafas (tersenggal kesulitan bicara )

SOSOK 2 :
(melolong lalu menjebol gundukan tanah dan keluar dari bongkahan )

DATANG PENARIK GEROBAK MAU MENGURUK TANAH NAMUN DENGAN TIBA-TIBA DISERANG DENGAN GANAS OLEH DUA SOSOK, MEREKA MENCEKIK, MEMBUNUHNYA DAN MEMBUANGNYA DI TANAH BONGKAHAN

SOSOK 2 :
Kita adalah hantu yang sebenarnya, kita akan menghantui siapa saja yang menimbun telaga ini.

SOSOK 1 :
Kita harus ganas, sadis dan kejam…..alam kita dirusak dan kita perlu merusak yang merusaknya……sampai mereka rusak semua.

SOSOK 2 :
Telaga ini kita pertahankan……ini satu-satunya harta kita.

SOSOK 1 :
Stttt…..sssttttt…….ada orang aneh kita sembunyi dulu bila orang itu menimbun telaga ini kita bunuh dia. ( dua sosok itu cepat-cepat sembunyi )

SANTRUNG :
(masuk sambil menggerutu )…….Aneh truk-truk itu sudah tidak ada, lho kok ada dua gerobak ditinggal begitu saja apa ada hantu lagi, aneh juga ditinggal begitu saja (Santrung memanggil orang yang dilihatnya dari kejauhan ) Pak…..gerobaknya diambil pak nanti bisa diambil tukang rongsok.

ORANG :
Takut……tempat itu angker…..saya tak berani, kawan-kawanku tak kembali setelah menguruk tanah disitu ada demit penunggunya.

SANTRUNG :
Demit penunggu ! …….Pak ada saya, nanti demitnya kita keroyok bersama-sama……tak perlu takut.
( ada orang masuk dengan terburu-buru ketakutan mengambil gerobak )


Ini merupakan cuplikan sebuah naskah drama satu babak “OEROEGI” karya saya sendiri yang bicara tanah dan nasibnya. Ketika tanah digusur dan tanah dijarah ini menjadi kepekaan bagi seorang kreator untuk menyuarakan keadaan sebuah jaman. Teater menjadi sebuah kesaksian berupa persoalan-persoalan yang ada dalam masyarakat.

Apa teaterawan akan diam saja dan tetap berhaha-berhaha dalam keasyikan sendiri atau turun tangan menyuarakan tentang ketidakadilan. Teater dan tanah merupakan kesinambungan yang tidak mandeg. Kegiatan dan berlatih dalam teater tak lepas dari ruang dalam dan ruang luar.

Media berlatih bisa ditengah-tengah masyarakat atau diluar masyarakat yaitu bisa di hutan, gunung, sungai atau air terjun. Ketika kita berlatih lalu mendapati ruang latihan yang tidak sehat yaitu alam raya yang terancam, apa teaterawan tetap fly dengan keasyikan tanpa sebuah kepedulian pada memori alam.

Tubuh, tanah dan ide bersamaan menjadi roh dalam mengolah dan berkarya. Banyak hal tentang tanah yang bisa digali dan digeluti. Tanah adalah kesucian bagi seorang teaterawan karena diatas tanah proses terjadi dan pemanggungan disajikan. Walaupun diatas sungai, air terjun maupun dijalan raya tetap ada unsur tanahnya. Sawah-sawah dengan terikan para petani dan nyanyian suluk yang menjadi irama dan melodi masyarakat.


Perut dan Tai

Teater bersama pergolakan dan prosesnya sudah tersaji dalam latihan serta dalam pemanggungan, tersaji pula dalam garis perjuangan dan gerakan sosial. Teater menjadi ada, bukan sebuah gerakan yang membuang-buang waktu dan buang energi belaka.

Teater menjadi makanan yang dikunyah dalam sajian matang penuh gizi dan protein. Teater dengan komposisi bumbu yang mengundang selera lidah, kemudian dicerna dalam perut untuk disalurkan menjadi energi ke sekujur tubuh.

Tubuh menopang beban, mampu berpikir, berbuat, dan melangkah tanpa sebuah kemalasan dan keraguan. Sisa- sisa yang dicerna dalam perut akan keluar melalui anus menjadi tai.

Perut menjadi mulas atau kemudian mencret-mencret dan berak beberapa kali, bahkan harus minum obat perut supaya berak terhenti biar beransur-ansur tidak mulas. Atau perut menjadi kekenyangan sehingga ngantuk, tertidur lelap dan bangun kesiangan. Atau perut tetap lapar dan lapar ingin makan terus walau setelah makan tetaplah menjadi tai.

Ketika makan petai tainya bau petai dan tainya bau jengkol ketika makan jengkol, atau malah menjadi tai-tai yang aneh yaitu ketika makan durian tainya bau tai ayam, atau ketika makan sate kambing tainya bau sate macan.

Pencernaan bisa menjadi pergolakan perut dan tai. Makanan mentah bisa membahayakan kesehatan bila banyak kuman, atau makanan yang terburu-buru dilahap bisa menyebabkan tersedak bahkan keluar melalui hidung dan tentu akan bikin sakit.

Terkena gangguan tidak bisa berak walau sudah makan berkali-kali dan perut terasa penuh atau menjadi kembung. Tidak berak lama-lama bisa menjadi racun dan bau badan seperti bau bangkai.

Begitulah perut dan tai dibutuhkan makanan sehat yang lezat sehingga perut mampu mencerna lalu keluar menjadi tai-tai. Tai-tai yang baunya menyengat membuat semua orang lari terbirit-birit, atau tai-tai yang menjengkelkan. Apa mungkin tai-tai itu bisa berubah menjadi permata, berlian atau emas atau tai-tai yang bisa dimakan kembali ?

Selamat berteater dalam salam kesehatan.


OmaH27 Pancoran Jaksel,
10 April 2017
Anton Daryanto Bendet

back to top