Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Teater Suluh,"Kami bunuh mereka"

Teater Suluh,"Kami bunuh mereka"
Jogjakarta-KoPi| Teater Suluh dari Social Movements Institute (SMI) mementaskan drama "Kami Bunuh Mereka" di Gelanggang UIN Sunan Kalijaga pukul 19.00 WIB.
 
Teater menampilkan tokoh militer yang melakukan kekerasan kepada mahasiswaa, menyiksa para wanita dan menyerang para aktivis HAM. Secara surealis juga dimunculkan tokoh Marsinah.
 
Menurut Staf Manager Janeska Mahardika menjelaskan pementasan teater ini menggambarkan rekonstruksi pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia.
 
Pentas teater ini mengkritik tindakan represif militer. Para militer yang dianggap melakukan penindasan terhadap masyarakat sipil. Seperti pembunuhan 1965, yang menewaskan 2 juta manusia tanpa peradilan. Hingga kasus kekerasan terhadap masyarakat Papua yang hangat sekarang ini.
 
Pentas "Kami Bunuh Mereka" dari kisah tragis pelanggaran HAM di Indonesia yang tidak dituntaskan permasalahannya. Seperti Kasus Munir dan Marsinah.
 
"Teater ini semangat menolak lupa masalah HAM, Marsinah hanya menuntut kenaikan upah seribu rupiah mahkotanya dirobek-robek oleh aparat militer mayatnya dibuang ke hutan,  diselesaikan dengan pembunuhan, kita  menuntut penuntasan kasus HAM", papar Dika.
 
Dika menambahkan ending drama ini ketika jenderal mengakui kesalahannya. "Ayolah mengaku para penjahat HAM, kita menuntut para militer mengaku, tapi nampaknya ini hanya terjadi didrama, kayaknya, karena kegagahan militer tidak seimbang dengan tanggung jawabnya.
 
Drama "Kami Bunuh Mereka" skenario Eko Prasetyo dengan arahan sutradara Noerdan Sisworo. |Winda Efanur FS|
back to top