Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Teater Pandora sukses menteror dan menghibur penonton

Teater Pandora sukses menteror dan menghibur  penonton

Jogja-KoPi|Usai sudah pementasan tiga hari Teater Pandora sastra Inggris  ditutup dengan persembahan drama berjudul Kucing Hitam hasil adaptasi dari The Black Cat karya Edgar Allan Poe. Penonton pun mencicipi sedikit nuansa mencekam dan rasa takut karya Edgar pada pementasan terakhir ini di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta(TBY).

Pada Cerpen realis bernuansa Horror nan mencekam berjudul The Black Cat, Cerpen tersebut diubah menjadi naskah drama dengan durasi permainan kurang lebih 1 setengah jam dan dimainkan 15 Pemain .Semua pihak ini berasal dari Mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2015.

Berkaitan pada persembahan pertunjukkan di TBY, Pementasan Kucing Hitam ini ditengarai oleh Sutradara tunggal atas nama Nisaul Mutmainah yang juga mahasiswa sastra inggris angkatan 2015. Pementasan hari terakhir ini,sang sutradara tak tanggung-tanggung merombak setiap unsur pada karya Edgar menjadi pementasan berjudul Kucing Hitam.

Jenis karya yang diubahpun diubah dari realis seolah menjadi surealis dan absurd. Perubaha genre karya itupun ditunjukkan dengan tata lampu teater yang acap kali menggunakan tiga warna dasar dan setting panggung yang megah menggambarkan sebuah hutan terbengkalai.

Penampilan pun banyak menonjolkan adegan simbolis,metafora,serta nyanyian chorus para pemain yang seolah-seolah berusaha menunjukkan emosi pasa karya Edgar. Adegan-adegan ini hampir mendominasi jalannya di seluruh pementasan pada malam terakhir.

Tak hanya itu ,pembawaan plot drama yang cukup intrik menggunakan alur maju mundur juga tentunya tak membuat jenuh kurang lebih 500 penonton  yang memadati gedung Societet TBY. Beberapa penonton baik yang sudah atau pun belum membaca karya Edgar pun mengungkapkan sempat merasakan suasana horror pementasan.

Milatun Nafiah (24), Penggiat seni teater yang berkecimpung pada bidang sastra  di Sanggar Nuun mengungkapkan apresiasinya pada teman-teman teater Pandora yang berani merombak karya Edgar menjadi pementasan yang unik. Ia pun merasakan nuansa horor cerpen The Black Cat pada pementasan di beberapa adegan yang dimainkan tokoh utama bernama Jack yang menunjukkan kekejiannya membunuh kucing dan wanita idamannya.

"Saya justru mendapatkannya (nuansa horror) saat ia (Jack) membunuh istrinya dan menganiyaya seekor. Memang kalau dicerpen itu scene yang paling horor,"ujarnya usai pementasan,ditulis pada Kamis (14/9)

Terlepas dari adegan horror tersebut,Mila sempat menyampaikan bahwa ia tidak merasakan secara penuh nuansa horror yang dibawa oleh Edgar pada pementasan. Pasalnya beberapa adegan menampilkan suasana komedi ketimbang horror.

"Secara keseluruhan tidak terlalu seram, karena beberapa adegan ada tampilan komedi. Namun tidak apa-apa,karena yang namanya penampilan teater maka ia (teater) memiliki tujuan menghibur,"ucapnya

Senada dengan Mila, Penonton lainnya dari kalangan Mahasiswa Sastra Inggris, Wahyu Jaya (22) pun memberikan poin lebih pada intrepretasi karya Edgar ke Pementasan drama. Namun,sebagai salah satu penonton yang sudah membaca Cerpen The Black Cat, ia mengungkapkan bahwa dirinya kesulitan mendapatkan alur dan Plot yang seolah menghilang ditelan adegan absurd dan simbolisme.

Lebih lanjut ,Mahasiswa Sastra lainnya,Marhamah Dian (22) menimpali bahwa kesialan dari tokoh utama Jack tidak pernah ditunjukkan pada jalannya pementasan.

"Poin penting pada karya yang sudah saya baca adalah kesialan tokoh utama,namun rasa sial tidak terlihat selama pementasan,seharusnya ini(kesialan) tidak dihilangkan,"katanya.

Ia juga menambahkan beberapa adegan improvisasi merespon gelaran pementasan justru sebaiknya dihilangkan karena terkesan berlebihan dan memakan durasi. Selebihnya, ia dan Wahyu mengapresiasi permainan aktor,suara ,tata lampu hingga suasana mencekam yang dibangun.

Ada pula penonton dan penggiat Seni Yogyakarta yang menyampaikan apresiasinya walau belum pernah membaca Cerpen The Black Cat. Aim (21) menuturkan sempat kaget pada adegan penganiyayaan kucing yang terkesan mencekam.

"Suasana mencekamnya juga  bagus banget,apalagi saat adegan menggebuk kucing.Walaupun bukan kucing sungguhan ,aku sempat merinding melihatnya. Sebagai pementasan pertama ,pementasan ini menarik sekali,"ujarnya

Kuncoro (27), penggiat Seni di TBY pun mengungkapkan sangat menikmati pementasan ini meski beberapa segmen adegan terputus oleh adegan simbolisme. Ia pun menghimbau untuk kedepannya Sastra Inggris dapat membawakan karya buatan sendiri demi menghindari ekspetasi penonton yang sudah membaca karya pementasan.

"Mungkin tahun depan hebohkan lagi TBY kalo bisa pakai naskah sendiri ,agar lebih leluasa dalam menampilkannya soalnya kalau membawa karya Prosa orang lain,beberapa orang sudah mengetahui alurnya,takutnya mereka kecewa saat karya tersebut dipentaskan,"pesannya.

Terlepas dari masukkan kritikan serta pujian dari berbagai pihak, pementasan akbar tiga karya prosa fenomenal berhasil menghibur ratusan penonton TBY. Tentunya Euforia dan antusiasme penonton meningkat tiap harinya ditunjukkan oleh jumlah penonton yang selalu bertambah pada setiap gelaran.

Salah satu dosen sastra Inggris  sekaligus inisiator pementasan di TBY ini, Danial Hidayatullah berpesan kepada pemain dan panitia agar lebih bersemangat lagi dalam menggeluti dunia teater dan ikut pula menyemarakan dunia teater Jogja

Ia juga berencana mengagendakan event ini menjadi agenda tahunan, sehingga adik angkatan dibawah mahasiswa angkatan 2015 dapat mengikuti jejak senior mereka dengan mengisi panggung-panggung di DIY dengan pementasan yang lebih meriah.

"Pesannya  kepada pemain dan panitia agar tetap semangat berproses di dunia teater, karena dunia teater ini sudah pasti akan memberikan manfaat pada kehidupan kalian,"pungkasnya.

back to top