Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

TBY Gelar Rekonstruksi Tari Yang Hampir Punah

TBY Gelar Rekonstruksi Tari Yang Hampir Punah

Siara Perss

Yogya-KoPiSalah satu penopang eksistesi kota Yogya sebagai kota budaya adalah tumbuhnya seni tari klasik gagrak Yogyakarta. Keberadaan seni klasik yang selama ini tumbuh berkembang di lingkungan Kraton Yogyakarta sudah terlewati waktu yang panjang dan mencapai kristalisasi yang tinggi serta mempunyai standar dan nilai artistik yang tinggi pula, sehingga akan mampu memberikan ciri khas yang halus dan teratur.

Sayangnya seni tari klasik selama ini jarang lagi dimunculkan di tengah masyarakat, sehingga bukan tidak mungkin lambat laun bakal dilupakan bahkan ditinggalkan masyarakat. Lebih parahnya lagi bisa jadi kedepannnya akan mengalami keputusan pelaku (penari). Melihat
persoalan diatas itulah, Taman Budaya Yogyakarya (TBY), melaksanakan program rekonstruksi dan Pendokumentasian Seni Tari Klasik. Program ini ini sebagai langkah upaya TBY untuk melakukan penyelamatan kesenian tari klasik gaya Yogyakarta.

Menurut Sri Eka Kusumaning Ayu, ketua pelaksana, tahun 2014 TBY melakukan rekokonstruki tiga tarian klasik yang jarang sekali dihadirkan ke publik. Tiga tarian tersebut adalah: Tari Srimpi Ronggo Janur, tari Angguk Putra, dan Jathilan Jago.
"Harapannya agar semua bahan dokumentasi ini bisa menjadi bahan kajian untuk generasi mendatang," ujar Sri Eka Kusumaning Ayu Tari Klasik 'Srimpi Ronggo Janur' merupakan hasil penggalian rekonstruksi dari naskah di Kraton Yogyakarta pada masa Hamengku Buwana VIII. Tarian ini bakal dipentaskan oleh Kelompok Kridha Beksa Wirama pada Jumat 23/5 di nDalem Tejokusuman. Acara yang akan dimulai pukul 19.30 WIB ini terbuka untuk umum dan gratis.

"Ceritanya sendiri diambil dari Cerita Mahabarata, menggambarkan pertarungan Dewi Srkandi melawan Dewi Larasati. Iringan yang digunakan gamelan laras slendro. Durasi tarian ini 90 menit. Tari ini dipentaskan terkahir kalinya 35 tahun silam," ujar Sri Eka KusumaningAyu.

Tari Srimpi Ronggo Janur besok bakal dimainkan oleh penari dari Kelompok Kridha Beksa Wirama. Kelompok tari ini didirikan oleh G.B.H. Tedjokusumo dan BPH. Soerjodiningrat pada tanggal 17 Agustus 1918 atau 9 Dulkangidah 1848 hari Sabtu Wage. Pendirian perkumpulan Kridha Beksa Wirama di dorong atas hasrat untuk mengembangkan dan menyebarluaskan seni tari di luar tembok Kraton Yogyakarta. Karenanya menghadaplah dua orang pangeran ke hadapan Sri Paduka Sultan Hamengku Buwana VIII untuk mohon izin mengajarkan seni tari di kalangan masyarakat di luar tembok Kraton Yogyakarta. Permohonan tersebut mendapatkan tanggapan positif dari Sri Paduka Sultan Hamengku Buwana VIII bahkan pihak Kraton membantu dalam hal fasilitas pengajar maupun perlengkapan.

"Kalau melihat angka tahun berdirinya, Kridha Beksa Wirama mungkin organisasi pertama yang bediri diluar kraton. Mungkin kelompok ini merupakan sanggar tari pertama berdiri diseluruh Indonersia," tandas Sri Eka Kusumaning Ayu.

Pada Sabtu 25/5 pukul 10.00 WIB TBY juga melakukan pentas rekonstruksi dan pendokumentasi seni tari 'Angguk Putra' dan Jathilan Jago. Kesenian asli Kulonprogo ini bakal dipentaskan di PPSJ Kulonprogo.

Rekonsrtuksi tari klasik dan tradisi ini merupakan langkah TBY untuk menyelamatkan khasanah kesenian Yogyakarta yang begitu banyak dan selama ini jarang dipentaskan. Jika kesenian yang langka dan hampir punah itu tidak coba digali kembali, bisa jadi akan lenyap ditelan sejarah. (*)

Salam Budaya

back to top