Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Tarian “Naga Tidar” Oei Hong Djien

Tarian “Naga Tidar” Oei Hong Djien

Magelang-KoPi, Sang Naga Tidar atau Oei Hong Djien bersinar-sinar wajahnya. Malam itu sekitar seribu undangan dari pelbagai penjuru dunia memenuhi Gedung Tribakti untuk merayakan ulang  tahun ke 75 Sang Naga Tidar. Diantara mereka adalah para kolega kolektor dan seniman dari Hongkong, Malysia, Belanda dan Indonesia, tentu saja. Oei Hong Djien seharusnya merayakan pada tanggal 5 April yang lalu, tetapi karena alasan agar tak bias dengan moment politik pemilu, perayaan diundur tanggal 26 April 2014.

Sebelumnya, pada hari yang sama telah diadakan pembukaan pameran seni rupa di Museum H Widayat dan peluncuruan buku “Pioneer of Number Four H Widayat” yang ditulis oleh Dr.Oei Hong Djien dan DR. Helena Spanjaard asal Belanda. Peluncuran dibuka oleh sastrawan besar Ajip Rosidi di Museum OHD, Magelang dan disaksikan oleh para tamu seniman Indonesia dan manca negara. Setelah selesai peluncuran buku, para undangan berpindah lokasi untuk ritual selebrasi sebagai puncak dari rangkaian acara.

Gedung Tribakti Magelang yang berada di jalan protokol Jogja-Magelang, malam itu disulap menjadi ruang pameran dan pesta dansa “Sang Naga Tidar”.  Lukisan H Widayat ukuran 1,6 x 138 meter dibentang menutup tembok gedung dalam. Karya Widayat tanpa judul ini mendapatkan penghargaan MURI sebagai karya terpanjang yang pernah dibuat.

Dengan latar warna hitam dan cahaya lampu yang dipasang di atasnya, lukisan Widayat seolah bersenyawa dalam keriangan “Sang Naga Tidar” Oei Hong Djien.

“Widayat membuatnya tahun 1994 hingga 1997,” jelas Dr Oei. “Karya ini dibuat pelukis Widayat setelah selama dua bulan tidak melukis karena sakit,” kenang Oei Hong Djien dalam pidato perayaannya. “Begitu sembuh, Widayat seperti melakukan balas dendam dengan melukis sepanjang 138 meter.”

“Ini adalah moment yang langka dan belum tentu karya dipamerkan kembali,” tambah kolektor paling dicintai seniman ini.

Naga Tidar

Dr Oei Hong Djin, lahir di Magelang 5 April 1939. Ayahnya seorang pengusaha tembakau dan sukses sebagai grader. Meskipun hidupnya sebagai pengusaha, ayahnya adalah penikmat seni, maka tak heran bila ‘Sang Ayah’ memenuhi dinding rumanhnya dengan karya-karya lukisan. Seni adalah takdir keluarga, darahnya menetes dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Pada usia sekolah dasar Oei kecil belajar dan mulai menguasai instrumen musik biola. Ia pun lantas sering tampil dalam acara-acara konser musik klasik. Oei, seperti memahati takdirnya, mengolah rasa dengan musik dan menatap dunia dengan lukisan. Ia pun kemudian mencoba melukis dan mengoleksi karya-karya besar seniman di segala penjuru dunia.

Langkah-langkahnya seperti naga yang terbang halus mengarungi angkasa dunia. Ia melingkari dunia. Lulus sekolah kedokteran di UI dan spesialisnya di Universitas Katholik Nijmegen, Belanda. Sebagai dokter, ia mendapatkan cinta dari para pasiennya. Sebagai seniman dan kolektor seni rupa, ia pun mendapatkan limpahan cinta dan rasa hormat dari para seniman dan koleganya.

Oei Hong Djien, dalam usianya yang ke 75 tahun saat ini, telah mengoleksi lebih dari 2.500 karya seni rupa di dunia. dan mungkin terus bertambah.

Malam itu, wajahnya ceria dan awet muda. Mempesona seperti lukisan H Widayat yang langka. Di tengah malam, ia menari sebagai Naga Tidar.

“Ini resep awet muda,” katanya.


Ranang Aji SP

back to top