Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Tari klasik dan garapan mewarnai ‘Njemparing Rasa’

Tari klasik dan garapan mewarnai ‘Njemparing Rasa’

Siaran Perss


Yogyakarta-KoPi- Persiapan pementasan drama kolosal Sumantri-Sukasrana Njemparing Rasa, Menarik Busur Sejarah Membidik Masa Depan semakin intensif dilakukan. Latihan para aktor, musik, dan tari yang awalnya dilakukan secara terpisah, kini sudah mulai digabungkan. Salah satu yang menarik adalah dari tim tari. Njemparng Rasa akan dipentaskan di Lapangan Pacasila Grha Sabha Pramana UGM, Minggu (12/10).

Surono,  penata tari yang ditemui di sela-sela latihan mengungkapkan, konsep tari yang diusung dalam pementasan kali ini adalah penggabungan antara tari klasik dan garapan. Maksud garapan di sini adalah menggunakan beberapa properti, misalnya bendera atau yang lainnya.

“Tim tari terdiri atas 40 orang. Mereka dibagi dalam adegan raja, prajurit satu, prajurit dua, begaya, putri taman, dan putri njemparing,” ujarnya.
Para penari yang berasal dari berbagai latar belakang ini telah melakukan latihan sebanyak lima kali. Setelah itu, baru bergabung dengan yang lainnya.

“Mereka ada yang mahasiswa, ada juga seniman murni. Waktu untuk menggarap adalah tiga minggu, kemudian sharing kepada teman-teman. Sekarang sudah 75% fiks. Tinggal menggabungkan dengan iringan dan multimedia. Kalau dengan aktor, kami sudah cukup sering latihan bersama,” kata laki-laki yang sedang menempuh studi di ISI Yogya Jurusan Karawitan ini.

Selain itu, Surono juga mengungkapkan bahwa salah satu aktor, yakni Citrowati, harus melakukan tarian dalam sebuah adegan. Namun karena latar belakang aktor ini bukan penari, Surono memberikan gerakan yang simple. Hingga saat ini, latihan terus dilakukan. Harapannya, pentas drama kolosal yang akan diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY bekerja sama dengan PKKH UGM tersebut dapat mengangkat keistimewaan Yogyakarta sebagai pijakan pembangunan karakter bangsa. *

back to top