Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Si penyebar virus itu telah berpulang

Si penyebar virus itu telah berpulang
Surabaya – KoPi | Surabaya kembali kehilangan salah satu seniman besarnya. Slamet Abdul Sjukur, maestro musik kontemporer asli Surabaya menghembuskan nafas terakhirnya pada Selasa (24/3) di Graha Amrta RSUD Dr Soetomo. Sebelumnya Slamet direncanakan akan menjalani operasi karena patah tulang pinggul setelah terjatuh pada beberapa waktu lalu.
 

Slamet Abdul Sjukur boleh dibilang sebagai bapak musik kontemporer Indonesia. Ia sering disebut sebagai komponis yang menyebarkan “virus” musik kontemporer di tanah air. Musik-musiknya banyak dinikmati oleh di luar negeri. Ia pernah mendapat berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri.

Hingga siang hari, rumah duka di jalan Pirngadi tetap didatangi pelayat. Berbagai karangan bunga terus berdatangan, mulai dari Walikota Surabaya, Dewan Kesenian Jakarta, Wisma Jerman, hingga Twilight Orchestra. Bukan hanya warga Surabaya yang kehilangan Slamet Sjukur, seluruh Indonesia, bahkan dunia, telah kehilangan maestro sederhana tersebut.

Tomi, salah seorang murid Slamet Sjukur mengatakan Slamet adalah sosok yang berkarakter bebas, kritis, dan nasionalis. Slamet Sjukur tidak terikat oleh apapun kecuali apa yang disadarinya sebagai peraturan pribadi. “Beliau juga sangat mencintai filosofi dan sains. Yang saya pelajari dari beliau hanya 20% saja mengenai musik, sisanya lebih banyak ke filosofi dan saintifik. Beliau sangat jenius dalam menggabungkan antara filosofi dengan keilmiahan,” tutur Tomi.

Tomi juga mengungkapkan, masih banyak keinginan Slamet Sjukur yang hingga sekarang belum terealisasi. “Beliau punya visi besar tentang bangsa ini, dan beliau berani mengkritik mengenai ketidakadilan yang saat ini dihadapi bangsa. Bahkan dari masalah terkecil seperti birokrasi di kelurahan. Untuk musik sendiri beliau berharap komponis-komponis muda mau berpikir bebas dan mempertanggungjawabkan karya yang telah mereka buat,” tambah Tomi.

Selain bebas, Slamet Sjukur juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Hingga akhir hayatnya, Slamet Sjukur tinggal di rumah yang sederhana di lorong-lorong kawasan Keputran. Kesederhanaan tersebut juga diakui oleh Rosa, salah seorang mahasiswi yang mengangkat sejarah musik Surabaya sebagai tema skripsinya. Ia mengenal Slamet Sjukur sebagai narasumber yang sederhana sekaligus disiplin.

“Beliau itu simple, tidak neko-neko. Namun beliau juga bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Beliau juga sangat disiplin. Beliau pernah tidak mau menemui saya sama sekali karena saya terlambat di waktu yang saya janjikan,” ungkap Rosa.

Slamet dimakamkan di TPU Tembok, Surabaya, bersama keluarganya. Di TPU tersebut juga terdapat makam berbagai seniman asli Surabaya, seperti Gombloh dan Cak Durasim. Selamat jalan, Cak Slamet. Sosokmu halus namun mengendap, dan akan terus dikenang. Sluman slumun slamet.

back to top