Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Si penyebar virus itu telah berpulang

Si penyebar virus itu telah berpulang
Surabaya – KoPi | Surabaya kembali kehilangan salah satu seniman besarnya. Slamet Abdul Sjukur, maestro musik kontemporer asli Surabaya menghembuskan nafas terakhirnya pada Selasa (24/3) di Graha Amrta RSUD Dr Soetomo. Sebelumnya Slamet direncanakan akan menjalani operasi karena patah tulang pinggul setelah terjatuh pada beberapa waktu lalu.
 

Slamet Abdul Sjukur boleh dibilang sebagai bapak musik kontemporer Indonesia. Ia sering disebut sebagai komponis yang menyebarkan “virus” musik kontemporer di tanah air. Musik-musiknya banyak dinikmati oleh di luar negeri. Ia pernah mendapat berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri.

Hingga siang hari, rumah duka di jalan Pirngadi tetap didatangi pelayat. Berbagai karangan bunga terus berdatangan, mulai dari Walikota Surabaya, Dewan Kesenian Jakarta, Wisma Jerman, hingga Twilight Orchestra. Bukan hanya warga Surabaya yang kehilangan Slamet Sjukur, seluruh Indonesia, bahkan dunia, telah kehilangan maestro sederhana tersebut.

Tomi, salah seorang murid Slamet Sjukur mengatakan Slamet adalah sosok yang berkarakter bebas, kritis, dan nasionalis. Slamet Sjukur tidak terikat oleh apapun kecuali apa yang disadarinya sebagai peraturan pribadi. “Beliau juga sangat mencintai filosofi dan sains. Yang saya pelajari dari beliau hanya 20% saja mengenai musik, sisanya lebih banyak ke filosofi dan saintifik. Beliau sangat jenius dalam menggabungkan antara filosofi dengan keilmiahan,” tutur Tomi.

Tomi juga mengungkapkan, masih banyak keinginan Slamet Sjukur yang hingga sekarang belum terealisasi. “Beliau punya visi besar tentang bangsa ini, dan beliau berani mengkritik mengenai ketidakadilan yang saat ini dihadapi bangsa. Bahkan dari masalah terkecil seperti birokrasi di kelurahan. Untuk musik sendiri beliau berharap komponis-komponis muda mau berpikir bebas dan mempertanggungjawabkan karya yang telah mereka buat,” tambah Tomi.

Selain bebas, Slamet Sjukur juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Hingga akhir hayatnya, Slamet Sjukur tinggal di rumah yang sederhana di lorong-lorong kawasan Keputran. Kesederhanaan tersebut juga diakui oleh Rosa, salah seorang mahasiswi yang mengangkat sejarah musik Surabaya sebagai tema skripsinya. Ia mengenal Slamet Sjukur sebagai narasumber yang sederhana sekaligus disiplin.

“Beliau itu simple, tidak neko-neko. Namun beliau juga bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Beliau juga sangat disiplin. Beliau pernah tidak mau menemui saya sama sekali karena saya terlambat di waktu yang saya janjikan,” ungkap Rosa.

Slamet dimakamkan di TPU Tembok, Surabaya, bersama keluarganya. Di TPU tersebut juga terdapat makam berbagai seniman asli Surabaya, seperti Gombloh dan Cak Durasim. Selamat jalan, Cak Slamet. Sosokmu halus namun mengendap, dan akan terus dikenang. Sluman slumun slamet.

back to top