Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

SATU Pameran Fotografi dan Puisi

SATU Pameran Fotografi dan Puisi

SURABAYA- Selalu berkumpul di berbagai acara seni dan saling silang terlibat dalam sebuah proyek seni, 10 sahabat banyak perbedaan membuahkan satu proyek seni bertajuk ‘SATU’ yang sejak 10 Agustus dalam pameran di Galeri House of Sampoerna.

Dalam pertemuan Pameran Fotografi dan Puisi ini, mereka mengambil kesamaan hobi untuk bertemu yaitu pertemuan antara fotografer dan penulis. Ada lima fotografer yaitu Peter Wang, Mamuk Ismuntoro, Haryo Suryo Kusumo, B.G. Fabiola Natasha, Leo Arif Budiman, yang bekerja sama dengan lima penulis yaitu Heti Palestina Yunani, Vika Wisnu, Didik Siswantono, Sol Amrida dan Wina Bojonegoro.

Prinsipnya yang lima fotografer berkarya foto, yang lima penulis berkarya puisi. Tak jelas siapa yang merespon siapa. Ada kalanya puisi dihasilkan dari foto atau foto dibuat setelah puisi jadi.

Saling merespon antara mereka ini terjadi sejak 2015. Semula dimaksudkan untuk merealisasikan persahabatan semata dalam satu buku berjudul JOMBLO, Photo-Poem Book. Sederhana saja, dalam buku ingin ditampilkan karya foto yang bisa dilihat dan puisi yang bisa dibaca sebagai suatu hubungan saling merespon.

Mungkin buku semacam ini bukan sesuatu yang baru namun buat mereka bersepuluh, ini perdana, menarik sekaligus menantang. Sebab sebagai wacana baru, kolaborasi foto dan puisi ini tak begitu saja berjalan mulus.

Selama menjalin kerjasama yang intens antara fotografer dan penulis, banyak hal yang terjadi karena masing-masing kesibukan. Maklum latar belakang aktivitas mereka berbeda seperti Peter (pengusaha), Mamuk (dosen/documentary photographer), Eed/Haryo (fotografer), Fabiola (Chinese painter/dosen), Leo (pembatik), Heti (jurnalis/dosen), Vika (dosen), Didik (bankir), Sol (produser film dan musik), serta Wina (novelis/pengusaha travel tour).

Untuk SATU, pemahaman selaras antara bahasa visual dan bahasa teks diserahkan masing-masing yang berpasangan antara Peter dan Wina, Leo dan Heti, Fabiola dan Vika, Haryo dan Didik, serta Mamuk dan Sol. Dibantu Eddy Purnomo dari Pana Foto (kurator foto) dan redaktur Media Indonesia Damhuri Muhammad (kurator puisi), SATU dibagi dalam 10 sub tema yaitu Cinta, Kuat, Berlari, Gelora, Kontemplasi, Tulus, Berani, Kenangan, Ramai dan Tumbuh. Sub tema itu menghasilkan 50 foto dan 50 puisi.

Untuk pameran SATU, ditampilkan 25 foto dan 15 puisi dalam beberapa macam bentuk. Karya foto ada yang dicetak di atas kanvas, kain, stiker, lampion, kertas foto, papan kayu. Sementara puisi ada yang ditulis di atas kaca dengan lipstik, kapur di atas papan tulis, pena di atas buku, diketik dengan mesin ketik, diprint kertas, ditulis tangan, dalam rekaman audio, di atas sofa kanvas, dll.

Bisa jadi penuangan visual ini berbeda dengan publik. Maka, pameran SATU yang berlangsung hingga 2 September ini juga menyediakan Pohon Puisi.

Ada tiga foto untuk bisa direspon penikmat pameran dengan cara menuliskan puisi di atas kertas yang digantung di Pohon Puisi. Secara khusus, SATU yang bentuk lain dari kata manunggal, kumpul, gabung, sepakat, seia sekata, padu, dsb-nya juga dipersembahkan untuk memaknai HUT Kemerdekaan RI ke-72 atau bisa terjemahan dari Bhineka Tunggal Ika.

Menyesuaikan perayaan Proklamasi RI, SATU juga mereferensikan kebhinekaan dalam suku, agama, ras, pendidikan, profesi, dll. Semoga pameran yang ini menjadi pemicu maraknya kegiatan literasi dan fotografi di Kota Surabaya serta memberikan dorongan yang positif bagi persatuan dan kesatuan Indonesia. (*)

back to top