Menu
Menag RI: Agama menolak LGBT, tapi jangan jauhi pelakunya

Menag RI: Agama menolak LGBT, tapi …

Jogja-KoPi|Menteri Agam...

Gus Ipul akan perkuat pendidikan agama

Gus Ipul akan perkuat pendidikan ag…

Nganjuk-KoPi| Wakil Gub...

Menhub meminta PT KAI mengantisipasi bahaya longsor

Menhub meminta PT KAI mengantisipas…

Jogja-KoPi|Memasuki mus...

Kemenperin ajak siswa masuk Sekolah Kejuruan Industri

Kemenperin ajak siswa masuk Sekolah…

Jogja-KoPi|Kementerian ...

Mahasiswa Sistem Informasi Pelajari Komunikasi Interpersonal

Mahasiswa Sistem Informasi Pelajari…

Sleman-KoPi| Lulusan dari...

Polisi Yogyakarta gunakan kuda untuk patroli di tutup tahun 2017

Polisi Yogyakarta gunakan kuda untu…

Jogja-KoPi|Kepolisian R...

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald Trump sebagai orang gila

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald T…

Sleman-KoPi| Buya Ahmad...

Taiwan Higher Education Fair UMY tawarkan beasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Taiwan

Taiwan Higher Education Fair UMY ta…

Bantul-KoPi Universitas...

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota ciptakan Skema Pembiayaan Terintegrasi

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota cipta…

Surabaya-KoPi| Sekdapro...

Mendikbub belum berlakukan UN model esai

Mendikbub belum berlakukan UN model…

Jogja-KoPi|Menteri Pend...

Prev Next

“Ritus Udheng Osing” di HoS Sampoerna

“Ritus Udheng Osing” di HoS Sampoerna

Surabaya-KoPi| Makna udheng bagi masyarakat Osing (Surabaya, 04 Oktober 2017) – Udheng adalah penutup kepala dari kain yang merupakan bagian dari kelengkapan sehari-hari pria di pulau Jawa dan Bali. Memiliki bentuk, motif serta arti dalam penggunaannya yang berbeda disetiap daerah, khususnya pada udheng Osing Banyuwangi menjadi hal menarik untuk diangkat dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Hal inilah yang melatar belakangi Komunitas Batik Jawa Timur di Surabaya (KIBAS) menggelar pameran udheng batik dengan tajuk “Ritus Udheng Osing” yang digelar mulai tanggal 06 Oktober – 17 November 2017 di Galeri HoS.

Tema “Ritus Udheng Osing” dimaknai sebagai tata cara penggunaan udheng oleh Osing (suku asli Banyuwangi). Pada umumnya udheng terbuat dari bahan batik dengan motif klasik seperti motif Gajah Oling, Gedhekan, Kangkung Setingkes, dan ada pula motif dengan nama yang mengingatkan pada daerah lain seperti Sudarjo (Sidoarjo - Jawa Timur), dan Juwono (Juwana -Jawa Tengah).

Udheng adalah perlengkapan wajib bagi laki-laki Osing pada saat penyelenggaraan ritual, baik bersifat individu maupun komunal. Bentuk khas udheng yaitu segi empat yang memiliki inti atau pusat, secara filosofi Jawa dipahami sebagai ekspresi dari keyakinan masyarakat tentang pandangan hidup. Prinsip pemikiran manusia Jawa terbagi dalam empat ruang dengan satu pusat dimana empat ruang tersebut mengacu kepada empat penjuru mata angin dengan pusat satu.

Konsep pemikiran ini adalah konsep pemikiran kesimbangan untuk mencapai harmoni. Udheng Osing sendiri sebagian besar masih menggambarkan kupu kupu pada ujungnya sebagai perlambang kesempurnaan yang harus meninggalkan segala keindahannya untuk mencapai satu kesempurnaan dari kehidupan ini.

Tata cara penggunaan Udheng Osing secara umum dapat dibagi menjadi dua yaitu udheng Tongkosan, yang menutup seluruh kepala dengan penampilan dua segitiga di kanan dan kirinya, dan udheng Sampatan yang memiliki bentuknya terbuka, dengan segitiga dibagian belakang lepas, baik yang menjulang ke atas maupun yang ke bawah.

“Udheng Banyuwangi adalah simbol keberadaan masyarakat Osing yang memiliki makna tinggi dalam filosofinya. Udheng bukan sekedar penutup kepala, namun juga bagian dari ekspresi kepercayaan masyarakat Osing hingga saat ini. Udheng juga dapat bercerita banyak tentang motif batik yang berada di daerah ini” ujar Lintu Tulistyantoro selaku Ketua KIBAS.

“Semoga pameran ini memberikan inspirasi kepada semua pihak terutama pemerintah daerah Kabupaten Banyuwangi untuk mengeksplorasi batik Banyuwangi dengan lebih detail. Peran akademisi, pecinta batik dan masyarakat secara umum sangat ditunggu untuk pengembangan batik Banyuwangi” tambah Lintu.

House of Sampoerna memiliki visi dan misi melestarikan sejarah dan warisan budaya bangsa, yang diperkenalkan melalui penyelenggaraan pameran sementara, baik di museum maupun di galeri HoS. Seperti halnya batik yang telah dicanangkan sebagai warisan budaya dunia, diharapkan dengan edukasi melalui pameran, masyarakat dapat mengapresiasi batik khususnya batik Jawa Timur. HoS juga memberi kesempatan bagi pengrajin batik untuk memperkenalkan dan menjual karya batik mereka di museum shop yang berada di lantai 2 museum, sebagai tanggung jawab sosial kami terhadap perkembangan UMKM di Surabaya dan Jawa Timur.

- selesai -

Sejak berdiri pada tanggal 9 Oktober 2003, House of Sampoerna (HoS), sebagai salah satu bentuk tanggung jawab dan kepedulian PT HM Sampoerna Tbk. kepada masyarakat, terus berkomitmen untuk mendukung perkembangan seni, budaya, sejarah dan pariwisata melalui berbagai agenda kegiatan yang mengedepankan nilai-nilai edukatif dan sosial, bekerja sama dengan UMKM, masyarakat sekitar, berbagai komunitas, institusi dan pemerintahan. HoS saat ini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan Nusantara dan Internasional, dan dikunjungi oleh lebih dari 200.000 wisatawan di 2016 yang datang lebih dari 155 negara, serta berhasil meraih berbagai penghargaan, salah satunya adalah ‘Top 10 Museum di Indonesia’ dari TripAdvisor sejak 2013 - 2016.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Rani Anggraini
Manager Museum & Marketing
House of Sampoerna
Taman Sampoerna 6, Surabaya 60163
Tel. (031) 353-9000 ext. 24103
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
www.houseofsampoerna.museum

back to top